Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Tengah hari yang panas, secara tiba-tiba Hersa mengajak saya ke Rumah Tenun Kampung Sabu, tempat kegiatan Modul Nusantara kelompok mereka hari ini. “Mari su Ka Os, dekat sini sa,” ajaknya yang segera saya setujui. 

Kami lalu melaju dengan sepeda motor miliknya mendahului rombongan mahasiswa Modul kelompok mereka. Hersa sendiri adalah adik tingkat saya di kampus, yang juga merupakan salah satu LO Modul Nusantara Undana, kelompoknya Ibu Rossi. 

“Dekat sini sa” yang dibilang Hersa rupanya tidak dekat-dekat amat dari Rusunawa Undana. Melewati jalur Kayu Putih, kami berbelok lagi di Oepoi, lalu menyusuri Terminal Oebufu, hingga ke daerah Oepura. 

Tiba di Oepura, saya mendapati gerbang masuk Rumah Tenun Kampung Sabu. Perkiraan saya rumah tenun itu sudah benar-benar dekat. Nyatanya kami masih harus melaju kembali melewati gang-gang kecil sebelum akhirnya tiba di sana.

Beberapa menit kemudian, rombongan mahasiswa bersama Ibu Rossi akhirnya tiba. Tak menunggu lama, kegiatan Modul Nusantara pun dimulai. Dengan arahan Ibu Rossi, teman-teman mahasiswa Modul Nusantara berkesempatan mendengarkan penjelasan secara langsung dari para penenun di Rumah Tenun Kampung Sabu. Beragam informasi pun dijelaskan oleh para narasumber: mulai dari sejarah rumah tenun, teknik dasar menenun, peralatan tenun yang dipakai, motif-motif tenun, koleksi tenunan, dan beragam informasi lainnya. 

penjelasan materi tenun
Ibu Rossi menjelaskan materi/Oswald Kosfraedi

Seusai penyampaian materi, teman-teman mahasiswa bersama Ibu Rossi dan Hersa berkesempatan mengambil foto dengan mengenakan beberapa kain tenun yang tersedia di rumah tenun hari itu. Saya yang dimintai bantuan untuk memotret lantas memotret mereka yang tampak elok dengan balutan kain tenun yang mereka kenakan. 

Tak ingin melewatkan kesempatan menggali informasi dari para penenun, saya lalu mendekati beberapa penenun di sana. Mereka adalah Ibu Henderina atau akrab disapa Ma Rika (ketua kelompok tenun Mira Kaddi), Ibu Slapacelak atau sering disapa Nabua, Bapak Tobias, dan Om Lodi. 

Rumah Tenun Kampung Sabu dan Cerita di Dalamnya

Dikisahkan Ma Rika, para penenun di Rumah Tenun Kampung Sabu telah menenun sejak kecil. Menenun dalam masyarakat Sabu (terutama Sabu Mehara) merupakan tradisi yang diwariskan dari nenek moyang mereka hingga saat ini. “Katong mulai menenunnya dari nenek moyang. Jadi turun temurun sampai di katong anak cucu begitu,” ungkap Ma Rika. 

Para penenun di sana pun sebenarnya berasal dari satu daerah asal yang sama, tepatnya dari Kecamatan Hawu Mehara. Pada kisaran tahun 1990-an mereka berpindah ke Kupang dan mulai menekuni aktivitas menenun sebagai profesi mereka. Awalnya mereka masih menenun di rumah masing-masing. Barulah pada tahun 2014, mereka—tergabung dalam satu kelompok yaitu kelompok Mira Kaddi (artinya membangun bersama)—yang berada di bawah binaan Bank Indonesia dan Pemerintah Kota Kupang.

Ma Rika sendiri telah menenun sejak usia belasan tahun di daerah asalnya di Pulau Sabu. Setelah berpindah ke Kupang, Ma Rika kemudian terus melanjutkan pekerjaannya sebagai penenun. Lambat laun, dari hasil penjualan hasil tenun miliknya, Ma Rika bisa membeli sebidang tanah yang saat ini menjadi tempat berdirinya Rumah Tenun Kampung Sabu.

  • Belajar Menenun
  • Menenun
  • Tahapan Menenun

Proses penenunan satu kain di rumah tenun ini biasanya memakan waktu 2-3 minggu dan menghasilkan 3-4 lembar kain tenun dalam sebulan. “Kalau dari awal sampai akhir dalam sebulan itu katong bisa dapat 3-4 lembar kain tenun,” jelas Ma Rika. Hal ini tentu tidak terlepas dari rumitnya proses menenun.  

Bersama kedua penenun lainnya, Ma Rika menjelaskan secara garis besar terkait beberapa tahapan menenun. Tahapan terdiri dari beberapa tahap, yakni warru wangngu (penggulungan benang), mane wangngu (menghani), tali wangngu (proses ikat membentuk motif) menggunakan tali rafia, proses pewarnaan dengan sistem celup (bahan sintetis/kimia dan warna alam, seperti daun nila, akar mengkudu, kunyit, dan lain-lain), penyusunan motif pada kain yang akan ditenun, keteri benang, pemberian hiasan dengan benang warna, pemasangan gun dalam penenunan, proses merapikan dan kunci motif (pemanno), hingga proses akhir penenunan yang biasanya berlangsung selama 5 hari. 

Meskipun saya tidak memahami secara baik tahapan-tahapan menenun yang mereka jelaskan, saya bersyukur paling tidak bahwa saya bisa mendapatkan informasi dari mereka perihal proses menenun yang panjang. 

Penenun di Rumah Tenun Kampung Sabu berjumlah 25 orang, termasuk Ma Rika, Nabua, dan Bapak Tobias. Sementara itu, terkait hasil tenunan, Rumah Tenun Kampung Sabu tidak terbatas pada kain tenun daerah Sabu saja, tetapi juga memproduksi kain tenun ikat dari berbagai daerah di NTT. Siang itu, Ma Rika sempat menunjukkan beberapa kain tenun Rote, Alor, dan beberapa daerah lainnya. Hasil tenunan mereka pun beragam dalam bentuk sarung, selendang, selimut, bahan baju, hingga jas. 

Ma Rika juga mengutarakan beberapa kesulitan yang mereka hadapi. Kondisi bangunan yang mulai rusak menjadi salah satu hal yang disampaikan Ma Rika, terutama kerusakan yang timbul pasca badai seroja beberapa waktu lalu. Selain kondisi bangunan, minimnya jumlah pengunjung dan pemesan tenun juga menjadi tantangan lain yang mereka hadapi. “Tamu tidak ada yang datang, katong pung hasil tenun tu tidak ada orang yang datang beli di sini. Jadi, katong pi jual di galeri-galeri saja,” ungkapnya. 

Setelah berbincang cukup lama dengan mereka bertiga, kami akhirnya pamit pulang. Saya sendiri merasa bersyukur bisa berkunjung ke sana dan mendapatkan cerita banyak dari para penenun. Hari Minggu yang tadinya berasa hambar dan hampir tak ada rencana apa pun akhirnya menjadi bermanfaat dengan kunjungan yang awalnya tidak pernah saya rencanakan. Meskipun tidak terlalu “dekat-dekat sa” seperti yang dikatakan Hersa, tapi saya bersyukur untuk kunjungan ke sana. 

Berkunjung Untuk Belajar

Sebagai bagian dari pelaksanaan Modul Nusantara yang memang ditujukan untuk memperkenalkan NTT dan beragam hal di dalamnya, kunjungan kelompok Ibu Rossi ke sana adalah satu hal yang luar biasa. Teman-teman Modul Nusantara bisa secara langsung menggali cerita dan mengenal salah satu kekhasan NTT, yakni kain tenun. 

Pemilihan lokasi dan topik dalam kegiatan ini pun sejak lama telah direncanakan oleh Ibu Rossi selaku dosen pembimbing kelompok ini. Pemilihan lokasi ini didasari oleh kenyataan bahwa penenun di rumah tenun ini merupakan salah satu kelompok penenun yang masih eksis menenun hingga saat ini kendati Kota Kupang sendiri perlahan berkembang dalam kehidupan yang semakin modern. 

Kelompok penenun Mira Kaddi senantiasa menjaga dan mempertahankan warisan nenek moyang, sehingga mereka dapat dikatakan sebagai salah satu representasi kebudayaan NTT. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan para mahasiswa pada salah satu profesi yang banyak menghidupi orang-orang di NTT—selain bertani, berladang, dan berladang.  

“Harapannya mahasiswa Modul Nusantara mengenal kekhasan NTT, yakni menenun. Selain itu, mereka juga bisa melihat secara langsung proses menenun, mereka belajar mulai dari memisahkan benang, membentuk motif, dan sebagainya. Mereka memang diharapkan untuk melihat secara langsung bahwa untuk menghasilkan satu kain tenun itu ternyata memiliki beberapa proses yang panjang. Harapannya juga untuk menanamkan toleransi, untuk bisa mereka bisa menghargai  karya dari setiap daerah,” jelas Ibu Rossi yang juga merupakan dosen saya di Prodi Ilmu Komunikasi Undana. 

Mengenakan Tenunan NTT (1)
Para peserta mengenakan tenun NTT dan berfoto bersama/Oswald Kosfraedi

Sekembali dari Rumah Tenun Kampung Sabu pun saya berinisiatif menanyakan kesan teman-teman mahasiswa perihal kunjungan ke sana. Cahya, mahasiswa STMIK IKMI Cirebon menyampaikan kesan pribadinya. “Seru sih, Kak. Kan aku baru pertama kali ke rumah tenun gitu, aku juga nggak tau sebelumnya kalau ternyata emang prosesnya sangat amat membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Selama ini kan kita tuh kayak cuman tahu gambaran-gambaran dari buku doang. Tapi pas ke sana langsung jadi tahu, ternyata prosesnya nggak gampang. Apalagi pas nyoba, kelihatannya simple but it’s hard,” ungkapnya. 

Teman-teman mahasiswa Modul Nusantara yang lain pun mengungkapkan kesan yang sama. Bagi mereka, kunjungan ke sana adalah sebuah pengalaman yang luar biasa, ruang belajar yang baik, dan sekaligus tempat memperkaya pengetahuan tentang ragam kekayaan bangsa ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.

Oswald Kosfraedi, saat ini berdomisili di Kupang. Gemar mengisi waktu luang dengan menulis dan mendengarkan lagu karya seorang musisi yang menginspirasi saya dalam menulis.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu