Arah SinggahTravelog

Tenun yang Menghidupi

Di Sabu, saya melihat beberapa pohon pisang yang secara sengaja ditanam oleh warga, selain sayur-sayuran. Di Lobohode, ada beberapa pohon pisang dan pepaya yang ditanam oleh Henderina Dida, yang hasil kebunnya adalah untuk dimakan sendiri. Pisangnya berjenis pisang kepok, orang sini menyebutnya sebagai pisang abu-abu. Selain berkebun, Henderina juga mempunyai ternak dan menenun. Tenun menjadi pekerjaan utamanya. Sedangkan hasil dari berkebun, cukup untuk memenuhi kebutuhan dia dan keluarga sehari-hari. Di tanah yang tandus, harapan untuk hidup selalu ada dari orang-orang yang impiannya sederhana. Rumput laut, lontar, dan tenun, adalah sendi kehidupan yang mengikat orang-orang Lobohede—secara umumnya masyarakat Sabu.

Dia mempersilakan saya untuk masuk ke dalam rumahnya, melihat sarung èi worapi setengah jadi yang terdiam di pojok ruang.

Tenun sebagai identitas orang Sabu
Tenun sebagai identitas orang Sabu/Arah Singgah

“Sarung ini biasa dipakai saat acara duka atau pernikahan,” terangnya. Pengerjaan sarung ini mengambil waktu yang tidak menentu, tergantung motif yang ingin dibuat—bisa memakan waktu sampai satu bulan lebih. Henderina bahkan mengungkapkan dengan kata “setengah mati” pada kain yang ia tenun kali ini, sebab bahannya adalah mesrai—yang ia rasa sulit untuk dirajut. Ada tiga kain yang diproduksi masyarakat Sabu di Lobohede untuk dipakai; èi adalah sarung, hi’i huri adalah selimut, dan heleda adalah selendang.

Di siang hari yang panas diikuti kidung-kidung Kristiani yang mengalun dari rumah-rumah warga, kami mengikuti Kaleb Piga ke rumah salah satu warga yang juga bekerja sebagai penenun. Tangan mungilnya cekatan melingkar satu benang antar sisi. Benang berwarna hitam, putih, kuning, coklat membentuk suatu pola yang bernama wohèpi dan bodda. Rismeli Radja Uli, perempuan yang sibuk menenun ini, sudah bisa menenun semenjak usia belasan, untuk membantu orang tuanya mencari penghidupan.

Kain yang kali ini ia tenun, menurutnya termasuk dalam kisaran harga murah di antara kain-kain lainnya, sebab kain ini tidak menggunakan pewarna alami yang bahan bakunya sulit untuk didapatkan—utamanya pada musim panas. “Kalau pewarna alami, bisa mencapai 500 ribu sampai jutaan,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. 

Di bawah atap daun lontar ammu iki yang meneduhkan, kami berbincang banyak mengenai bagaimana ia mendistribusikan penjualan kain tersebut. Saya melihat sarung yang dikenakan oleh Rismeli tampak berbeda dengan kain yang sedang ia tenun. Sarung itu bernama èi raja, berwarna merah kecoklatan dengan campuran biru dan aksen putih yang membentuk suatu pola bunga palem besar, kain yang ia pakai ini adalah buatan tangan ibunya—juga salah satu kain yang masih menggunakan pewarna alami.

“Biasanya ada yang datang ke rumah untuk beli,” Rismeli menerangkan bagaimana alur penjualannya.

Rismeli hanya menjual kain buatannya dari rumah saja. Selebihnya bagaimana kain ini sampai ke daerah lain, dia tidak tahu. Keahlian yang ia dapat dari umur 12 tahun ini cukup membantu perekonomian keluarganya, menambah pundi-pundi uang sang suami yang pergi melaut. Rata-rata per bulannya bisa terjual sebanyak 10 lembar, tapi itu pun tidak menentu.

Besok hari, kain yang ia tenun diperkirakan akan selesai. Tidak ada kata istirahat dalam kamus Rismeli. Ia akan kembali menenun untuk kain berikutnya dan berikutnya. Kalau laku terjual, ia bisa menghela nafas lebih panjang untuk bulan ini, kalaupun tidak, setidaknya dia sudah memperbanyak stok kain buatannya untuk dijual di lain waktu.

Suaminya menawarkan kami beberapa buah kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon. Air kelapa yang melimpah mampu meresapi sedikit pengetahuan yang saya dapat dari kain Sabu.

Di sudut lain Lobohede, sama seperti Rismeli, Mariana Ledehaba juga menggantungkan hidupnya dari tenun. Dari kain tenun yang ia buat, ia juga berhasil membantu penghasilan suaminya yang berprofesi sebagai nelayan.

Mariana Ledehaba
Mariana Ledehaba sedang menenun/Arah Singgah

“Karena dari tenun ikat inilah kita hidup,” tegasnya meyakinkan kami.

Pewarna yang ia pakai juga merupakan pewarna sintetis, sebab untuk mencari pewarna alami harus menunggu musim hujan, belum lagi harga kainnya yang akan menjadi mahal dan peminatnya sedikit. Selendang èi raja yang ia tenun bermotif hebe kelakku—yang pada awalnya ditujukkan kepada para hubi ae, yang masih keturunan raja. Namun sekarang pemakaian motif ini sudah umum untuk diperjual belikan. Pengetahuan motif yang ia dapat, diwariskan secara turun temurun dari ibunya yang juga berprofesi sebagai penenun. Perempuan Lobohede dianugerahi keahlian menenun yang baik.

Dr. Geneviève Duggan membagi tenun Sabu ke dalam dua jenis: tenun tradisional untuk penganut Jingitiu–kepercayaan lokal–dan tenun yang memiliki nilai komoditas/ekonomis. Tenun yang dibuat oleh pelaku Jingitiu lebih ketat dalam menerapkan aturan-aturan, dan dalam beberapa tahap seperti pewarnaan dan proses penenunan memerlukan upacara-upacara. Sedangkan penenun komoditas cenderung bebas dan tidak terikat.

Salah satu motif tenun Sabu/Arah Singgah

“Tetapi bagi mereka yang mengikuti kepercayaan dunia modern dan menjalankan hidup sebagai orang Sabu modern, peraturan tradisional sudah kadaluarsa, karena tenun yang dihasilkan tidak lagi dikaitan pada kepercayaan tradisional, tetapi dianggap sebagai barang komersial yang memenuhi keinginan sang pembeli dan mengikuti permintaan pasar,” tulisnya dalam buku Bunga Palem dari Sabu.

Anehnya, yang paling populer di sini justru sarung samarinda cap manggis dibanding sarung buatan mereka. Alasannya cukup simpel, sarung samarinda bisa dipakai kapan saja—tidak harus pada waktu-waktu tertentu seperti kain Sabu. Hampir setiap lelaki Lobohede mempunyai sarung samarinda, namun hanya lelaki Lobohede yang sudah berkeluarga saja yang memakai sarung samarinda berwarna hijau tua dengan aksen kotak-kotak, yang dikenal dengan harga yang paling mahal dibanding sarung samarinda motif lainnya.

***

Pada Agustus 2022, TelusuRI mengunjungi Bali, Kupang, Pulau Sabu, hingga Flores Timur dalam Arah Singgah: Menyisir Jejak Kepunahan Wisata, Sosial, Budaya—sebuah perjalanan menginventarisasi tempat-tempat yang disinggahi dalam bentuk tulisan dan karya digital untuk menjadi suar bagi mereka yang ceritanya tidak tersampaikan.

Tulisan ini merupakan bagian dari catatan perjalanan tersebut. Nantikan kelanjutan ceritanya di TelusuRI.id.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Kembali ke Fatubraun

Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (2)