IntervalSemasa Corona

PPKM Darurat: Jalan Sepi, Pasar Tetap Ramai

Hampir dua minggu ini kotaku jelas sepi. Kendati aktivitas orang-orang masih berseliweran mengendarai kendaraan dengan beragam kepentingan yang ada. Namun begitu, volume kendaraan yang ada tak sebanyak hari-hari sebelumnya. Semuanya nyaris tinggal di rumah. Penjual makanan dan minuman tak berani untuk berjualan karena saat ini sedang PPKM Darurat.

Jika melanggar tentu saja akan dihukum dengan denda dan mungkin saja bisa mendapatkan kurungan. Sebagian toko ada yang tutup ada pula yang buka tetapi mereka pun malu-malu kalau buka sepenuhnya karena bisa menjadi bahan sorotan dari petugas yang hilir mudik mengawasi penerapan PPKM Darurat di berbagai tempat.

Sebenarnya aku sedih sekali melihat jalanan yang begitu lengang. Bandung itu kota yang menyenangkan hati, tetapi kali ini memang seharusnya mesti sepi. Ragam aktivitas orang-orang setidaknya harus bisa berkurang hingga 30% dari biasanya. Syukur-syukur bisa lebih supaya dianggap efektif untuk meredam penyebaran corona.

Sepi kali ini bukan sepi yang menakutkan. Sepi kali ini supaya orang-orang terhindar dari COVID-19. Apalagi tingkat hunian rumah sakit kini melonjak tajam, banyak banyak pasien yang harus dirawat. Sebuah realita yang begitu memprihatinkan.

Sebenarnya, jika tak terlalu penting-penting amat, aku malas untuk keluar rumah. Namun karena ada yang harus meminta bantuanku untuk masuk sekolah, maka aku beranjak keluar rumah.

Aku sesungguhnya lebih suka diam di rumah nonton kanal YouTube. Membaca buku atau surat kabar, mendengarkan musik atau yang mengasyikkan berkumpul dengan keluargaku sembari mendukung program pemerintah yang digencarkan untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Bukan aku banyak uang dan memiliki tabungan, tetapi sebagai mahluk hidup aku yakin Tuhan telah menjamin rezeki bagiku.

Suasana sebuah pasar saat pagi mulai beranjak
Suasana sebuah pasar saat pagi mulai beranjak/Deffy Ruspiyandy

Namun, hal berbeda terlihat saat aku melewati sebuah pasar. Rasa sepi itu tak tergambarkan sama sekali. Yang ada justru transaksi jual beli berjalan dengan cukup hangat. Bahkan terkadang social distancing tak berjalan sebagaimana mestinya. Tak hanya itu, banyak dari mereka tidak mengenakan masker.

Pasar memang tidak ditutup total selama PPKM. Hanya dibatasi waktu dan jumlah pengunjungnya saja karena termasuk dalam sektor kritikal. Setidaknya dengan tetap dibukanya pasar, roda ekonomi terus berputar meski lambat.

Pasar yang ramai ini membuat saya tertegun, seolah-olah keadaan berjalanan seperti biasa dan tak ada tanda-tanda corona hadir di sana. Tentu, karena aku sempat mendengar dan melihat beberapa pasar harus tutup karena penjual dan pembeli terpapar virus corona. Padahal, tentu jika ada orang yang terpapar corona datang ke sini—atau ke pasar lain— tanpa menerapkan protokol kesehatan, bukan mustahil orang lain akan tertular. Namun, pikiran tersebut kemudian kubuang jauh-jauh.

Ku doakan, semoga saja para penjual pembeli yang setiap hari bertemu semuanya selalu sehat dan diberi antibodi yang kuat agar tidak terpapar COVID-19.

Seorang pedagang tengah sibuk membereskan barang jualannya
Seorang pedagang tengah sibuk membereskan barang jualannya/Deffy Ruspiyandy

Jelas tak salah jika aku mengkhawatirkan hal itu karena pasar didatangi orang-orang dari berbagai tempat yang berbeda. Persoalannya bukan dari mana mereka datang melainkan yang jadi pertanyaan apakah mereka yang datang itu dipastikan benar-benar sehat dan tidak terpapar COVID-19? Namun mungkin yang paling penting sesungguhnya adalah bagaimana mereka semua tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Tetapi yang kulihat ada sebagian dari penjual dan pembeli yang lalai terhadap hal ini. Seringkali begitu diingatkan, mereka tak peduli. Aku tak bisa memaksanya, tapi aku merasa sadar diri untuk mengingatkan mereka. Demi kesehatan orang banyak.

Harus diakui pula, pasar merupakan tempat yang menyenangkan dan mengasyikkan. Orang-orang yang datang ke pasar ternyata tidak hanya berbelanja kebutuhan sehari-hari. Bisa jadi mereka refreshing dari kepenatan dan rasa kesal setelah beberapa hari tinggal di rumah. Wisata belanja sungguh mengasyikkan walaupun harus menguras isi dompet.

Keadaan pasar tumpah sedikit lengang setelah sebagian telah pulang
Keadaan pasar tumpah sedikit lengang setelah sebagian telah pulang/Deffy Ruspiyandy

Tak bisa dipungkiri, pasar menjadi sentral aktivitas ekonomi masyarakat. Selain ada yang mencari keuntungan juga ada yang mencari barang kebutuhan pokok untuk kebutuhan sehari-hari. Sekali lagi, jika memang ingin beraktivitas jual beli di pasar, baiknya tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Menjadi hal unik karena selama satu tahun terakhir ini sejak diumumkannya pertama kali pada April 2020, hanya segelintir orang di pasar dekat tempat tinggalku yang terpapar virus corona. Namun, apakah pasar ini relatif aman walaupun bahaya virus tetap selalu mengancam?

Keberadaan pasar tetap dibutuhkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-harinya. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga bisa mampu mempertahankan roda ekonomi karena mereka yang berdagang masih bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Sekali lagi, apapun kondisinya, yuk jaga pasar agar tetap aman dari corona.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
    Artikel Terkait
    Interval

    Kerai dan Pagebluk yang Mengubah Wayan

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Interval

    Upaya Pelestarian Lingkungan lewat Pertanian Organik

    Interval

    Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti: Kumpulan Tulisan Prof. Boechari Tentang Indonesia di Masa Kuno

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Ke Candi Borobudur Kala Pandemi COVID-19