EVENTS

Sejumlah Tribut buat Kuyut

Maka bila ada perih hari ini
janganlah mendendangkannya sebagai luka
karena kepergian atau ditinggalkan
tidaklah semata kematian!

Musim Retak, Iyut Fitra


Mereka yang datang dan turut mengenang Iyut Fitra di Jual Buku Sastra (Abdillah Danny)
Mereka yang datang dan turut mengenang Iyut Fitra di Jual Buku Sastra/Abdillah Danny

Arem-arem dan nagasari itu diletakkan bersandingan. Air putih gelas, irisan pepaya, dan seceret kopi hitam mengelilinginya. Seekor ayam mengintai dari jauh, juga kucing-kucing liar berseliweran. Hanya semut-semut yang bisa mendekat, meski datang membawa satu kerumunan.

Sepenggalah tangan dari situ, sekerumun orang duduk mengitari asbak. Asap sedikit menciptakan kabut, tetapi cahaya sore menembusnya, membiaskan warna oranye pada muka beberapa yang kebagian duduk menghadap barat, juga pada tembok kayu yang mengkilap.

Sekitar sebulan lalu, rumah panggung itu baru saja dicat. Pemiliknya adalah sepasang penyair, Indrian Koto dan Mutia Sukma. Sudah bertahun-tahun mereka bertungkus-lumus dengan buku. Barangkali hal tersebut sekalian menjadi alasan mengapa rumah panggung itu adalah juga rumah penerbitan buku, cum toko buku. Padahal namanya sederhana saja, Jual Buku Sastra. Nama yang juga jujur dan lurus, seperti baris-baris semut.

Satu cangkir diangkat. Terdengar suara sesap melatari obrolan yang mengalir perlahan, tak ubahnya kali kecil di bawah mereka. Sekali dua kali obrolan itu berhenti, berganti hening yang ditebalkan dengung burung-burung. Seseorang mengambil arem-arem, mengupasnya, bersiap memakannya. Yang lain mengambil nagasari, menuang ulang kopi, meneguk air putih. Tapi lebih banyak yang diam saja, seperti semut-semut hitam. Seakan ada yang tertahan dan belum sempat diucapkan.

Sora hari bersama sejumlah arem-arem dan nagasari (Abdillah Danny)
Sora hari bersama sejumlah arem-arem dan nagasari/Abdillah Danny

Sore Hari yang Seperti itu Juga

27 April 2026, tersiar kabar duka dari RS M Djamil, Padang. Sore hari, seperti saat kerumunan itu berkumpul juga, tepatnya pukul 15.26, telah berpulang seorang sastrawan: Iyut Fitra.

Sebulan kemudian, 31 Mei 2026, Jual Buku Sastra membikin serangkaian acara tribut untuk mengenang Kuyut, sapaan akrab Iyut Fitra. Kerumunan berdatangan. Sepeda motor memenuhi mulut rumah panggung yang terletak di Jalan Keloran Dalam, RT 8, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta itu. Ada banyak sandal dan sepatu ikut berjajar di depan pintu. Mbah Doyo, tetangga depan rumah, ikut membantu mengarahkan para pengunjung, sambil mencungkil sampah-sampah di kali kecil Keloran dengan tongkat kayu. Sampah-sampah itu datang dari kota, katanya waktu ada yang bertanya, berniat membalas ramah-tamah.

Indrian Koto dan Mutia Sukma hilir-mudik di dalam rumah. Dari dapur, ke ruang tengah, pindah ke pintu depan, sampai ke halaman belakang, tempat tribut akan dilaksanakan. Klasa rajut telah tergelar, di atas rumput-rumput hijau yang mulai panjang dan sedikit menusuk-nusuk ketika seseorang duduk. Sekitar satu langkah dari situ, di depan pohon sawo, telah disiapkan pula kursi, stand mic, dan juga pengeras suara yang dipinjam dari RT setempat.

Jika mengikuti pemberitahuan yang diunggah akun instagram Jual Buku Sastra, acara ini bertajuk Tribute untuk Iyut Fitra. Di dekat tajuk itu, tertulis riwayat tahun 1968-2026, masa hidup Iyut Fitra yang telah menghasilkan sederet karya-karya sastra. Sebut saja Dengung Tanah Goyah (JBS, 2024), yang masuk dalam tiga besar Buku Puisi Pilihan TEMPO 2024 dan Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Namun, orang pasti sepakat bahwa hingga hari ini, sebenarnya Kuyut tidaklah benar-benar pergi. Ia masih tinggal bersama baris-baris puisi yang abadi.

“Testimoni, Pembacaan Karya, dan Doa Bersama”, demikian tulisan di bawah tajuk itu terbaca. Akan ada “Sekilas Kenangan” yang hendak dikisahkan oleh Raudal Tanjung Banua, Heru Joni Putra, dan Bernando J. Sujibto. Akan ada pula “Pembacaan Puisi”, yang tertulis bakal dibawakan oleh Eka Nusa Pertiwi, Maheswari Nilot, Maria Utami, Selvi Agnesia, Siti Aulia Nurhanifah, Geri Septian, dan Saut Situmorang. Tak lupa “Doa Bersama” akan dipandu oleh Kedung Darma Romansha.

Raudal Tanjung Banua dan kenangannya akan Iyut Fitra (Abdillah Danny)
Raudal Tanjung Banua dan kenangannya akan Iyut Fitra/Abdillah Danny

Mereka yang Datang dan Turut Mengenang

Menjelang magrib, naiklah Raudal Tanjung Banua. Diketuk-ketuknya mikrofon sebelum mulai bicara, seolah belum yakin benar pada apa yang ingin diucapkan. Cahaya oranye memberi siluet pada dirinya, juga pada kursi, rumput-rumput, dan segenap yang duduk bersiap menyimaknya. Buku-buku karya Iyut Fitra dijajarkan di atas kursi, sebelah Raudal berdiri. Dari kanan ke kiri, Dengung Tanah Goyah, Musim Retak, dan Maek—buku puisi terbaru Iyut Fitra dengan sampul oranye menyala yang menyatu dengan suasana kala itu.

Bagi Raudal, Iyut Fitra adalah sastrawan yang produktif. Puisi-puisinya bisa dengan mudah ditemukan, baik di media yang menerima karya puisi, buku kumpulan sendiri, sampai antologi-antologi bersama. Juga cerpennya, yang masih terbit di koran dan media, seperti “Sampan Rimbo Sati”, termuat di Jawa Pos bertanggal 28 Februari 2026, dan juga “Beruk Ujang Cigun”, termuat di situs Cagak.ID bertanggal 7 Maret 2026. Menurut Raudal, tentu saja masih banyak karya Kuyut yang belum sempat dibagikan dan menunggu untuk dipublikasikan. “Barangkali secara anumerta,” tuturnya, sambil menyebut nama Heru Joni Putra, agar mau mengurusnya.

Sebab, “Ketika merasa tidak percaya diri saat belajar menulis puisi, pertemuan dengan Iyut Fitra, yang akrab dipanggil Kuyut, bisa mengubah keadaan. Demikianlah pengalaman saya ketika kelas 3 SMP, persis 20 tahun lalu, dan ternyata bertahun-bertahun kemudian saya sadari bahwa saya tidak sendiri. Banyak orang mengalami hal yang sama setelah beberapa lama berbincang-bincang dan berinteraksi dengannya.” Demikianlah tulis Heru dalam “Obituari Iyut Fitra: Puisi Sebagai Salam”, termuat di situs Cagak.ID. Pada kesempatan itu, selepas jeda Magrib, Heru melanjutkan dengan membaca obituarinya tersebut kepada khalayak.

“Kasihan sekali,” seloroh Mahfud Ikhwan dari klasa rajut. “Kelas 3 SMP sudah mengenal puisi,” lanjutnya, sejenak memecah suasana dengan hal-hal lucu. Beberapa orang di sekitarnya ikut tertawa.

Whani Darmawan, yang kebetulan juga datang hari itu, turut diminta untuk maju ke depan. Ia datang ke Keloran dengan mengayuh sepeda sejak sore tadi. 

“Maju, Darsam!” terdengar beberapa orang menyemangati aktor kenamaan itu.

Whani mula-mula menceritakan kenangannya dengan Kuyut. Dalam ceritanya, Kuyut rajin sekali mengirimkan tautan buku puisinya. Whani mengaku, ia sendiri tidak begitu “mengikuti” puisi. Ia lebih tertarik genre lain. Meski demikian, ia tetap membeli. Malahan ia dilanda keheranan. Semangat Kuyut untuk terus berkarya dan memasarkan karyanya patut dijadikan teladan. Whani kemudian mengaitkannya dengan kondisi ekosistem kesenian hari ini, dengan seliweran dana seperti Dana Indonesiana, Indonesia Raya, Banpem, dan lain sebagainya. Ia yakin, Kuyut termasuk orang yang tetap aktif mengadakan kegiatan sastra, dengan atau tanpa dana bantuan.

“Itu patut dilihat,” tutur Whani memberi penekanan. Ia kemudian mengapresiasi Jual Buku Sastra, yang dalam perhitungannya, termasuk dari orang-orang seperti Kuyut dalam hal konsistensi. Dengan atau tanpa dana bantuan. “Penting,” lanjut Whani, “Untuk menjadi alternatif.”

Whani Darmawan dipaksa maju ke depan (Abdillah Danny)
Whani Darmawan dipaksa maju ke depan/Abdillah Danny

Hari Beranjak Malam

Pukul 20.25, Indrian Koto dan Mutia Sukma mempersilakan para pengunjung untuk makan. “Mari, masuk!” ajak Koto. “Beje masak kambing!” tutur Sukma, merujuk pada masakan gulai kambing kacang hijau yang dibawa Bernando J. Sujipto.

Di antara kepul asap dari nasi, dan denting-denting serempak sendok-piring, kerumunan di halaman belakang rumah panggung itu menyaksikan penampilan terakhir. Adalah Andy SW menampilkan pantomim, merespons suasana dan puisi-puisi Iyut Fitra. 

Dan lama-lama malam semakin menelan. Semut-semut jadi tidak kelihatan. Arem-arem dan lemper sudah dihabiskan. Cangkir-cangkir kosong, kerak kopi tertinggal di dinding dalamnya. Beberapa pamit pulang, yang lain masih tenggelam dalam obrolan riuh-redam. Jangkrik mulai bernyanyi, membawa serta sunyi, melompat masuk lewat celah jendela.

Betapa, kepergian dan ditinggalkan | tidak semata kematian!


Foto sampul: Andy SW barangkali sedang menirukan pose garuda (Abdillah Danny)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Abdillah Danny

Abdillah Danny berasal dari Mojokerto dan tampaknya (tidak yakin) sedang studi di FBSB UNY. Kini diamanahi menjadi ketua divisi Susastra KMSI dan masih bingung hendak melakukan apa.

Abdillah Danny berasal dari Mojokerto dan tampaknya (tidak yakin) sedang studi di FBSB UNY. Kini diamanahi menjadi ketua divisi Susastra KMSI dan masih bingung hendak melakukan apa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pengalaman Menerbangkan Pesawat Cinta dan Kekalahannya