27 Mei 2006, saat hari baru beranjak terang selepas subuh yang tenang, gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 SR mengguncang hebat daratan Yogyakarta dan sekitarnya, disertai ratusan gempa susulan setelahnya. Menurut BMKG, setelah pembaruan terakhir, posisi episentrum (pusat gempa) berada di kedalaman 11,3 kilometer dekat dengan lokasi pertemuan Sungai Opak–Sungai Oya, Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul.
Gempa tersebut diakibatkan pergeseran Sesar Opak, sesar paling aktif sepanjang 45 kilometer yang membentang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lebih dari 5.000 orang tewas, yang sebagian besar terjadi di Kabupaten Bantul dan Klaten—daerah terdampak paling parah. Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. PBB menyatakan kerugian ekonomi mencapai 29,1 triliun rupiah, menjadi bencana paling merugi dan mematikan setelah gempa dan tsunami Aceh 2004.
Selain rumah penduduk, gedung kampus dan perkantoran, Gempa Jogja 2006 juga menimbulkan kerusakan banyak tempat penting di beberapa titik wisata, antara lain Candi Prambanan, Makam Raja-raja Keraton Imogiri, sebagian kawasan Kraton Yogyakarta, hingga sentra kerajinan gerabah di Desa Wisata Kasongan, Bangunjiwo, Bantul. Bantuan internasional berdatangan.
Dalam dua dekade kemudian, secara berangsur Jogja dan daerah-daerah terdampak pulih dan bangkit. Sektor pariwisata yang menjadi salah satu denyut penggerak perekonomian Jogja kian bergeliat. Meskipun demikian, literasi mitigasi—khususnya bencana gempa yang tidak bisa diprediksi kemunculannya—tampaknya masih belum sepenuhnya mengetuk kesadaran bersama. Kesadaran hidup berdampingan dengan sesar gempa, semestinya diiringi kesadaran mitigasi bencana.


Jejak Gempa: dari Nglepen hingga Mengger
Kamis (21/5/2026), seminggu sebelum momentum 20 tahun Gempa Jogja 2006, TelusuRI mengikuti perjalanan Geotrek Jogja—geologist & geoscience communicator dengan pendekatan ilmu geologi—ke tiga titik berbeda yang memiliki riwayat langsung dengan salah satu peristiwa gempa bumi paling fatal di dunia itu. Ketiga lokasi tersebut adalah Bukit Nglepen, Bukit Mengger, dan Potrobayan.
Bukit Nglepen terletak sekitar 7 kilometer di selatan Keraton Ratu Boko, Kapanewon—setingkat kecamatan—Prambanan, Kabupaten Sleman. Sebelum gempa 2006, masyarakat menempati permukiman di lereng Bukit Nglepen, yang meski konturnya agak curam, tetapi cenderung teduh karena banyak naungan pepohonan dibanding daratan perkampungan di bawahnya.
Saat gempa yang disebabkan pergeseran Sesar Opak mengguncang Jogja, terjadi pergerakan tanah atau rayapan tanah yang berkontribusi merusak atau menggeser bangunan di atasnya. Geopark Jogja, melalui situs resminya, menyebut terjadi rayapan tanah berbentuk menyerupai tapal kuda (lengkung) sepanjang 300 meter, yang menghasilkan ceruk selebar 20 meter akibat amblasnya dua blok tanah yang saling bergerak. Kondisi tanah dan struktur batuan yang termasuk kelompok Formasi Semilir—yang mengalami deformasi dan fraktur—di lokasi ini turut memperparah dampak gempa.


Andriyanti, geologis dan pendiri Geotrek Jogja, memperkuat pernyataan itu. Dalam pengamatannya, karakter batuan di Bukit Nglepen merupakan produk dari letusan gunung api, serta kombinasi batu pasir dan lempung. “Dugaan saya, keberadaan lempung inilah yang menjadi biang kerok dan menyebabkan adanya creeping (tanah bergerak) di Bukit Nglepen,” ujarnya.
Pascagempa, masyarakat Dusun Nglepen Lama direlokasi ke permukiman baru di kaki bukit, yang kontur tanahnya relatif datar dan lebih stabil. Pemerintah membangun 80 rumah dome sebagai bentuk mitigasi terhadap bencana serupa, yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Rumah Teletubbies dan menjadi destinasi wisata. Sebanyak 71 rumah merupakan tempat tinggal warga, sisanya untuk fasilitas publik, seperti MCK komunal, musala, aula, dan klinik kesehatan. “Saya pikir itu (membangun rumah dome) mungkin akan lebih baik daripada di perbukitan, karena memang tipe batuannya sudah banyak sekali mengalami retakan,” tambah Andriyanti.
Namun, dalam perkembangannya, sejak 2010 sampai sekarang warga membuat bangunan tambahan yang berdempetan dengan rumah dome (menjebol sisi dinding agar terhubung). Harian Jogja (27/3/2024) mengungkap alasan warga membangun rumah baru, yakni karena rumah tahan gempa itu dirasa sempit dan untuk mengakomodasi jumlah anggota keluarga yang bertambah. Bahkan beberapa rumah terlihat sudah tidak ditempati lagi. Hal ini sejatinya menimbulkan kekhawatiran terhadap berkurangnya esensi mitigasi rumah dome.


Bukti pergeseran Sesar Opak lainnya adalah di Bukit Mengger, Piyungan, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul. Sekitar 1,5 kilometer ke arah timur laut dari Jembatan Sindet yang di bawahnya mengalir Sungai Opak. Dalam rilisnya di situs web Geopark Jogja, mengutip kajian geologi Tim Geoheritage UPN Veteran Yogyakarta, batuan sedimen di Bukit Mengger merupakan Batupasir Tuff Formasi Semilir. Bidang patahan di bukit ini merupakan salah satu segmen Zona Sesar Opak yang paling tersingkap.
“Bukit Mengger ini adalah salah satu bidang patahan yang kemudian kita percaya mewakili pergerakan Sesar Opak,” jelas Andriyanti sambil menunjukkan bidang patahan di tebing yang rapuh.
Formasi batuan di Bukit Mengger merupakan hasil dari letusan gunung api 20 juta tahun lalu. Produk dari abu vulkanis tersebut mengendap dalam waktu yang lama hingga menjadi batuan yang membentuk lanskap bukit ini. Ia menambahkan, karakter batuan Bukit Mengger yang cenderung berlempung dan mudah runtuh berpotensi menimbulkan tanah longsor yang sangat membahayakan. Padahal, di sekitarnya terdapat permukiman yang cukup padat penduduk.
Usai gempa Jogja 2006, Bukit Mengger ditetapkan menjadi situs geologi (geosite) sebagai bentuk pengembangan geowisata. Penetapan ini mengubah aktivitas masyarakat yang semula bergerak di bidang pertambangan menjadi pengelola objek geowisata. Namun, lebih dari itu, seyogianya ada pemberian edukasi dan literasi mitigasi yang masif—selain penetapan standar bangunan tahan gempa sebagai syarat wajib Izin Mendirikan Bangunan (IMB)—yang dalam kacamata kami belum optimal diterapkan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.


Mitigasi sederhana yang diperlukan
Selain di Jogja, dampak terparah gempa 2006 berada di Klaten. Salah satunya adalah Desa Wisata Bugisan yang berada di Kecamatan Prambanan wilayah Klaten (ada juga Kecamatan Prambanan di wilayah Sleman, Yogyakarta). Desa Wisata Bugisan terkenal dengan keberadaan kompleks Candi Plaosan yang bercorak Buddha, yang di dalamnya terdiri dari Candi Plaosan Lor (utara) dan Candi Plaosan Kidul (selatan), sehingga dikenal dengan wisata Candi Kembar. Selain peninggalan cagar budaya, komoditas pertanian, kesenian, kuliner, dan tradisi lokal juga menjadi daya tarik desa wisata yang memiliki sejumlah homestay warga tersebut.
Ketika gempa 2006 terjadi, puluhan rumah di Padukuhan Dengok Kulon roboh, ratusan rumah lainnya rusak berat dan ringan. Tesis Intan Putra Perdana tahun 2017 dari program studi S-2 Teknik Pengelolaan Bencana Alam UGM mengungkap, tingkat kerentanan konstruksi rumah warga Bugisan cukup beragam. Saat gempa, dari 454 sampel rumah, sebanyak 35% rumah memiliki kerentanan tinggi, 63% kerentanan sedang, dan hanya 2% rumah yang tingkat kerentanannya rendah. Sebagian besar rumah tradisional dengan struktur kayu justru tidak roboh dan hanya rusak ringan, sehingga konstruksi bangunan jenis ini harus dipertahankan bentuk aslinya. Selain lebih tahan gempa, juga mendukung Bugisan sebagai desa wisata.
Menanggapi banyaknya rumah warga yang rusak akibat gempa, baik yang berada di kawasan wisata maupun bukan, Andriyanti mengungkap pentingnya mitigasi sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Ini tidak hanya berlaku untuk kediaman pribadi, tetapi juga gedung perkantoran, atau bangunan-bangunan lain yang menjadi kesatuan dalam kawasan wisata, seperti pendopo, rumah makan, homestay, dan lain sebagainya.
Video-video edukasi tentang mitigasi gempa di rumah oleh Geotrek Jogja
Dalam video pendek edukasi yang dirilis di Instagram, Alfian Widiantono, Program Director Geotrek Jogja, membagikan sejumlah tips mitigasi gempa yang bisa dilakukan dari rumah. Misalnya, tidak memasang benda apa pun di dinding yang di bagian bawahnya menjadi tempat banyak orang atau keluarga beraktivitas. Area sekitar sofa di ruang tamu, meja makan, ruang belajar, hingga kasur harus steril dari barang-barang yang menggantung di dinding. Kemudian, tidak menaruh lemari pakaian di dekat tempat tidur dan juga pintu kamar, yang bisa menghambat akses keluar saat terjadi gempa. Selain memasang pintu keluar cadangan, bukaan pintu utama di rumah juga dianjurkan mengarah ke luar, bukan ke dalam rumah.
Alfian menambahkan, tas siaga bencana dan tas dokumen saat darurat memang penting, pun pertimbangan estetika tentang tata letak rumah. Namun, mengatur elemen-elemen yang rawan terdampak gempa di dalam bangunan yang ditinggali tidak kalah penting. Soal mitigasi, ia juga mendorong sinkronisasi pemerintah, pemangku kebijakan, dan akademisi agar bisa menggalakkan sosialisasi mitigasi kebencanaan yang bisa langsung dipahami dan diterima oleh kalangan akar rumput. Tidak hanya memberi panduan jalur evakuasi, titik kumpul, dan posko-posko kebencanaan. Masyarakat perlu didampingi untuk mau memikirkan mitigasi dari rumahnya sendiri, sehingga tidak dibiarkan bergerak sendirian.


Pesan dari Potrobayan
Sore itu sesaat lagi akan kembali ke peraduan setibanya kami di Potrobayan, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Di sinilah pusat gempa 2006 terjadi, yang diperingati pemerintah dengan membangun Tugu Prasasti Episentrum Gempa Yogyakarta 2006. Titik ini hanya sepelemparan batu dengan Potrobayan River Camp, destinasi wisata berkemah di tepi Sungai Opak yang dibangun sejak 2021 oleh warga setempat.
Sungai Opak yang terus mengalir dan bermuara hingga kawasan Pantai Baros dan Samas di pesisir selatan Yogyakarta, bagaikan cermin yang merefleksikan kejadian dua dekade silam. Dari tepian sungai yang berarus cukup deras, Andriyanti menitipkan pesan untuk kita renungkan bersama.
“Sesar Opak atau sesar [gempa] aktif sebenarnya adalah bagian dari dinamika bumi. Karena bumi kita sangat dinamis, lempeng-lempeng bumi kita terus bergerak. Sesar aktif adalah konsekuensi dari pergerakan lempeng bumi tersebut. Maka itu tidak bisa dihindari, cukup kita terima, kemudian kita belajar untuk memitigasi apa saja konsekuensi dari pergerakan-pergerakan lempeng tersebut,” jelas Andriyanti.


Tak hanya mitigasi dari rumah dan menyiapkan tas siaga bencana, bentuk mitigasi lain yang juga bisa kita lakukan adalah mengenali area-area berbahaya. Terutama yang dilintasi Sesar Opak maupun sesar-sesar aktif lainnya, yang menjadi tempat tinggal, sekolah, kuliah, bekerja, hingga jalur-jalur perjalanan yang kerap dilintasi saat berkegiatan sehari-hari.
Hidup berdampingan dengan jalur sesar tektonik terkadang tidak semata sebagai proses adaptasi, tetapi juga menerimanya sebagai sebuah takdir yang harus diterima. Bukan takdir sebagai korban gempa, melainkan kemauan menerima bahwa gempa adalah bentuk gelagat alam yang memang harus terjadi. Tinggal bagaimana selanjutnya melakukan mitigasi dan meminimalkan risiko agar kerugian jiwa maupun materi tidak terlalu banyak untuk ditanggung.
Satu hal yang paling mendasar dari semua itu, memiliki kesadaran dan kemauan untuk lebih melek literasi mitigasi kebencanaan sudah sepatutnya terpatri di dalam hati dan pikiran.
Foto sampul: Andriyanti, geologis dan pendiri Geotrek Jogja, memeriksa serpihan batuan di situs Sesar Opak Bukit Mengger Bantul (Rifqy Faiza Rahman)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


