TRAVELOG

Tim Andhakara Vetta Uji Coba Susur Tiga Gua di Tulungagung

Bentang alam di sekitar Gua Tenggar, Tulungagung (Zahra Oktaviana)
Bentang alam di sekitar Gua Tenggar, Tulungagung/Zahra Oktaviana

Kabut tipis dan udara lembap khas kawasan karst menyambut kedatangan kami di Tulungagung, Jawa Timur. Jalur perkebunan yang licin akibat hujan sempat memperlambat langkah kami menuju base camp sederhana yang menjadi tempat persiapan selama tiga hari. Di balik perbukitan kapur dan lorong-lorong gelap yang tersembunyi di bawah permukaan tanah, Try Out Divisi Susur Gua Tim Andhakara Vetta menjadi rangkaian pendidikan sekaligus simulasi lapang sebelum pengambilan nomor induk anggota.

Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli–1 Agustus 2025 ini diikuti oleh lima anggota tim dengan dua pendamping. Satu pendamping ikut masuk gua dan seorang lainnya bertugas sebagai anchorman. Selama tiga hari, kami menelusuri tiga gua dengan karakter yang berbeda: Gua Tenggar di Desa Tenggar, serta Gua Wardi dan Gua Manten yang berada di Desa Ngepoh.

Selain menjadi bagian dari pendidikan dasar speleologi, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi kami untuk memahami teknik vertical cave, pemetaan, simulasi rescue, hingga pengenalan ekosistem bawah tanah secara langsung.

Anggota tim melakukan pemetaan saat penelusuran di Gua Tenggar (Zahra Oktaviana)
Anggota tim melakukan pemetaan saat penelusuran di Gua Tenggar/Zahra Oktaviana

Lorong Berair Gua Tenggar

Perjalanan pertama dimulai di Gua Tenggar pada Rabu (30/7/2025). Meski dikenal sebagai gua wisata, akses menuju mulut gua tidak semudah yang dibayangkan. Jalur tanah yang licin akibat gerimis memaksa kami berjalan perlahan sambil membawa carrier dan perlengkapan penelusuran. Semakin mendekati mulut gua, suara aliran air mulai terdengar bercampur dengan gemerisik dedaunan dan langkah kaki yang berusaha menjaga keseimbangan di medan karst yang terjal.

Begitu memasuki lorong gua, udara dingin dan lembap langsung terasa. Cahaya lampu helm menjadi satu-satunya penerangan di tengah lorong horizontal yang dialiri air. Jalur di dalam gua dipenuhi batuan licin dan beberapa titik scrambling yang cukup menguras tenaga, terutama bagi kami yang baru pertama kali menjalani kegiatan susur gua. Bahkan, belum terlalu jauh memasuki lorong, tim kehabisan webbing akibat medan yang lebih ekstrem dari perkiraan awal.

Di tengah tantangan tersebut, Gua Tenggar justru memperlihatkan keindahan ornamen bawah tanah yang memantulkan cahaya lampu secara samar. Flowstone tampak membentang di dinding gua seperti lapisan mineral berwarna keemasan, sementara formasi bacon, soda straw, dan gourdam muncul di beberapa sudut lorong. Suara tetesan air yang terus terdengar di tengah gelapnya gua membuat suasana penelusuran terasa semakin hidup sekaligus menegangkan.

Salah satu anggota tim melakukan teknik Single Rope Technique (SRT) saat memasuki jalur vertikal Gua Wardi (Zahra Oktaviana)
Salah satu anggota tim melakukan teknik Single Rope Technique (SRT) saat memasuki jalur vertikal Gua Wardi/Zahra Oktaviana

Menuruni Gelap Gua Wardi

Penelusuran berlanjut ke Gua Wardi pada Kamis (31/7/2025) yang berlokasi di Desa Ngepoh, sekitar 30 menit berjalan kaki dari base camp. Jika Gua Tenggar menghadirkan jalur horizontal berair, Gua Wardi justru memperlihatkan karakter vertikal yang menuntut kesiapan fisik dan teknik yang lebih matang. Carrier yang kami bawa terasa lebih berat karena selain perlengkapan standar, tim juga membawa peralatan rescue dan set Single Rope Technique (SRT) cadangan.

Mulut gua yang berbentuk vertikal membuat proses turun harus dilakukan secara hati-hati. Orang pertama bertugas memasang anchor sebelum tali utama dipasang untuk jalur turun anggota berikutnya. Satu per satu anggota mulai descending menuju lorong gelap di bawah permukaan tanah. Gua Wardi memiliki pitch dengan karakter berair dan sempit di beberapa bagian. Pada beberapa titik, tim harus menggunakan teknik deviasi untuk menghindari gesekan tali dengan dinding gua yang cukup tajam.

Bagi kami yang masih berada dalam tahap pendidikan dasar, pengalaman pertama menghadapi lorong vertikal yang dalam menjadi tantangan tersendiri. Gelap yang semakin pekat di bawah, suara air dari dasar pitch, serta komunikasi antaranggota yang hanya mengandalkan peluit dan cahaya lampu membuat suasana penelusuran terasa lebih intens. Tim melakukan pemetaan hingga pitch kelima, sementara pitch keenam hanya dieksplorasi dan dijadikan lokasi ceremony karena keterbatasan waktu.

Di sela aktivitas teknis tersebut, Gua Wardi menyimpan ornamen bawah tanah yang tidak kalah menarik. Cahaya lampu beberapa kali menyorot formasi helictite yang tumbuh tidak beraturan dari dinding gua. Bentuknya yang melengkung seolah menolak gravitasi membuat ornamen ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian selama penelusuran.

Simulasi rescue menggunakan teknik counter balance dilakukan sebagai bagian dari rangkaian try oyt Divisi Susur Gua (Zahra Oktaviana)
Simulasi rescue menggunakan teknik counter balance dilakukan sebagai bagian dari rangkaian try out Divisi Susur Gua/Zahra Oktaviana

Lorong Sempit dan Simulasi Rescue di Gua Manten

Hari terakhir try out dilaksanakan di Gua Manten pada Jumat (1/8/2025). Lokasinya tidak terlalu jauh dari base camp, hanya sekitar lima menit berjalan kaki. Meski begitu, karakter vertikal Gua Manten tetap mengharuskan tim membawa perlengkapan SRT lengkap untuk penelusuran dan simulasi rescue.

Salah satu bagian yang paling membekas dalam penelusuran ini adalah lorong sempit di pitch ketiga yang oleh tim dijuluki sebagai “lubang cacing”. Untuk melewati jalur tersebut, kami harus merayap perlahan dan penuh kehati-hatian. Suasana gelap dan sempit serta suara gesekan logam dengan permukaan gua terus terdengar.

Ketika tim hampir mencapai pitch kelima yang diduga sebagai pitch terakhir, tali yang dibawa ternyata tidak cukup untuk melanjutkan penelusuran. Keterbatasan waktu membuat pitch keempat akhirnya dijadikan lokasi ceremony sebelum kegiatan dilanjutkan dengan simulasi rescue. Dua anggota naik terlebih dahulu untuk memasang instalasi di atas, sementara anggota lain menjalankan simulasi counter balance di bawah lorong vertikal.

Suara dentingan carabiner, instruksi melalui peluit, dan koordinasi yang harus dilakukan secara presisi membuat simulasi rescue menjadi salah satu momen paling menegangkan selama try out berlangsung. Bagi kami, latihan tersebut bukan hanya bagian dari pendidikan organisasi, melainkan juga bentuk persiapan menghadapi kemungkinan keadaan darurat saat melakukan penelusuran gua di masa mendatang.

Di balik tantangan teknis itu, Gua Manten tetap memperlihatkan rona ornamen alami yang terbentuk selama ribuan tahun. Pool rimstone dengan permukaan air yang tenang memantulkan cahaya lampu seperti cermin, sementara soda straw dan cave popcorn muncul di beberapa bagian lorong bersama kristal-kristal kecil yang menempel di dinding gua.

Biota kala cemeti yang kami temukan (Zahra Oktaviana)
Biota kala cemeti yang kami temukan/Zahra Oktaviana

Ruang Hidup di bawah Permukaan Tanah

Selain menyimpan bentang geologi yang beragam, ketiga gua yang kami telusuri juga menjadi habitat bagi pelbagai biota bawah tanah. Selama kegiatan berlangsung, tim beberapa kali menjumpai kala cemeti, jangkrik gua, cacing gua, hingga kodok gua yang hidup di area lembap dan dialiri air. Pada beberapa bagian lorong, koloni kelelawar juga terlihat bergelantungan di langit-langit gua.

Keberadaan biota-biota tersebut menjadi pengingat bahwa gua bukan sekadar ruang kosong di bawah tanah, melainkan juga ekosistem yang hidup dan rentan terhadap gangguan. Bagi kami, try out ini tidak hanya tentang mempelajari teknik turun tali atau menghadapi medan vertikal, tetapi juga tentang memahami kehidupan alam bawah tanah yang selama ini tersimpan dan jarang terlihat di permukaan.

Tiga hari penelusuran di Gua Tenggar, Gua Wardi, dan Gua Manten memberikan pengalaman pertama yang sulit dilupakan bagi tim Andhakara Vetta. Dari lorong berair, pitch vertikal, hingga jalur sempit yang memaksa kami merayap di tengah gelap. Setiap gua menghadirkan tantangan dan pelajaran yang berbeda. Di balik segala keterbatasan dan rasa gugup sebagai peserta try out, perjalanan ini menjadi langkah awal kami untuk memahami bahwa dunia bawah tanah bukan hanya tentang keberanian memasuki gelap, melainkan juga tentang kerja sama, ketelitian, dan rasa hormat terhadap alam yang tersembunyi di bawah permukaan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Zahra Oktaviana

Zahra Oktaviana Syifa Ramadhan merupakan mahasiswa Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam dan memiliki minat pada penulisan travelog, eksplorasi alam, serta kajian bahasa dan film.

Zahra Oktaviana

Zahra Oktaviana Syifa Ramadhan merupakan mahasiswa Linguistik Indonesia Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur. Aktif dalam kegiatan mahasiswa pencinta alam dan memiliki minat pada penulisan travelog, eksplorasi alam, serta kajian bahasa dan film.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Serunya “Rock Climbing” di Tebing Pantai Siung