Travelog

Bertandang ke Darawa, Desa Penghasil Rumput Laut di Kaledupa

Speed boat yang saya tumpangi berjalan pelan mencari celah untuk menepi. Di antara rumah-rumah tancap dengan rumput laut yang menggantung, akhirnya perahu berlabel WWF itu bersandar. Saya segera turun, menapaki platform kayu Darawa, sebuah desa di Pulau Kaledupa, Wakatobi, yang belakangan dijuluki “Mini Raja Ampat.”

Akhir Maret sampai awal April lalu saya melakukan perjalanan ke Wakatobi yang masuk dalam kawasan taman nasional. Selama 15 hari saya bertandang ke empat pulau besar, termasuk Kaledupa. Berbeda dari pulau-pulau lain yang saya inapi selama beberapa hari, Kaledupa, kali ini, hanya saya hampiri selama beberapa jam.

desa darawa
Membawa pulang hasil panen/Widhi Bek

Saya segera mendatangi kerumunan orang di bawah kolong rumah panggung. Di sana sudah ada beberapa orang dari Balai Taman Nasional Wakatobi, WWF, dan perangkat desa. Saya ikut nimbrung untuk mencari tahu soal Darawa. Yang jadi fokus saya tentu rumput laut.

Karmaudin, salah seorang anggota Darawa, sebuah kelompok petani rumput laut, jadi teman mengobrol saya hari itu.

rumput laut
Pemandangan lazim di Desa Darawa/Widhi Bek

Dari perawakannya, Karmaudin tampak belum terlalu tua dibanding orang-orang lain yang saya temui di Kaledupa. Ia cerita banyak tentang desanya. Ia tampak antusias saat saya berkata bahwa saya ingin tahu banyak soal Darawa. Dengan bersemangat ia mengajak saya tur singkat melihat budidaya rumput laut di desanya.

Rumput laut kekuningan bergantung di depan rumah warga sepanjang jalan. Beberapa berwarna hijau, namun ada pula yang keunguan. Salah satu hal yang bikin warna jadi berbeda adalah air hujan. Namun, ini takkan berpengaruh dalam penentuan harga akhir saat akan dipasarkan nanti.

rumput laut
Karmaudin/Widhi Bek

Tak hanya digantung di palang bambu, rumput laut juga dihamparkan begitu saja di jalan. Tentu saja diberi alas, yakni karung. Karena itu saya mesti hati-hati saat berjalan, takut tidak sengaja menginjak rumput laut yang sedang dijemur itu. Namun, Karmaudin dan beberapa warga lain yang berpapasan dengan saya kala itu tampak santai saja menginjak, seakan-akan tak ada kekhawatiran bahwa benda yang sedang dijemur itu akan kotor dan kualitasnya akan menurun. Belakangan saya tahu bahwa sebelum diolah lebih lanjut rumput laut akan dicuci bersih terlebih dahulu.

Lebih dalam menelusuri Darawa, saya bisa melihat bahwa di mana-mana ada rumput laut. Di sebuah kolong rumah panggung, beberapa ibu sedang mengurus rumput laut yang baru dipanen. Warnanya hijau, masih begitu basah, dan terkait pada tali biru panjang. Botol-botol plastik sebagai pelampung pun masih bertengger di medium. Saya mendekat lalu menyentuhnya. Kenyal dan basah.

rumput laut
Menjemur hasil panen di jalan desa/Widhi Bek

“Ini nanti dipisah. Ada yang dijemur, ada yang dipotong jadi bibit,” kata Karmaudin.

Tak semua hasil panen langsung dijemur dan dijual. Beberapa bagian dipotong untuk dijadikan bibit baru. Selain itu, rumput laut juga mesti diperiksa apakah terkena penyakit atau tidak. Kata Karmaudin, kalau terkena penyakit, warnanya akan berubah.

desa darawa
Beberapa perahu sedang sandar dekat tempat pengeringan rumput laut/Widhi Bek

Di samping rumah panggung seorang pria bertelanjang dada sedang menginjak-injak karung besar berisi rumput laut kering. Karung dikaitkan agar posisinya tetap stabil. Sambil memegang besi pengait, ia bergerak ke sana kemari menginjak rumput laut yang siap dijual ke daerah lain, seperti Baubau dan Makassar, lewat pengepul.

Usai mengintip aktivitas pemanenan dan pengemasan, saya kembali berjalan menelusuri Desa Darawa. Saya lalu tiba di di sekretariat Darawa. Dari kantor yang tiang-tiangnya menancap ke laut ini, rumput laut menggantung bak gorden. Samar-samar, dari sana saya bisa melihat botol-botol plastik yang mengapung di laut. Itulah lokasi budidaya. Jumlahnya banyak sehingga secara sekilas tampak seperti kumpulan sampah yang mengambang.

rumput laut
Proses pemisahan/Widhi Bek

Melihat begitu semaraknya usaha budidaya rumput laut di Desa Darawa, saya tak menyangka bahwa ini adalah budaya baru. “Awal budidaya rumput laut dari ayah saya. Dia beli bibit dari pulau seberang,” kata Karmaudin.

Dahulunya, masyarakat Desa Darawa menggantungkan hidup dengan cara mencari ikan, sebagaimana umumnya masyarakat Wakatobi. Namun, akhirnya mereka mencoba-coba untuk membudidayakan rumput laut. Di masa-masa awal itu hanya satu dua orang di Darawa mencoba dan hanya satu jenis bibit yang ditanam.

rumput laut
Suasana Desa Darawa/Widhi Bek

Singkat cerita, “percobaan” itu berhasil. Pelan-pelan, mereka berubah dari komunitas nelayan ke komunitas pembudidaya rumput laut, meskipun mereka masih menangkap ikan untuk konsumsi pribadi.

Sekarang, sekitar 90 persen penduduk Desa Darawa jadi pembudidaya. Dari yang tadinya satu, sekarang yang ditanam ada tiga macam. Uniknya, menurut Karmaudin, masyarakat Darawa cenderung mempelajari cara budidaya secara mandiri. Makanya, terkadang pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh instansi-instansi terkait sebenarnya hanya menyajikan materi yang ternyata sudah dipraktikkan oleh orang-orang Darawa.

rumput laut
Dimasukkan ke karung sebelum dikirim ke Baubau dan Makassar/Widhi Bek

Kaum perempuan pun ikut ambil bagian dalam budaya baru ini. Mereka mencoba mengolah rumput laut menjadi makanan-makanan seperti dodol dan keripik. Sebenarnya saya penasaran sekali melihat produk-produk itu. Namun, sayang sekali, waktu itu sedang ada kenduri dan ibu-ibu yang mengolah sedang sibuk membantu empunya hajat. Kelompok Darawa pun tak punya stok.

Bagi Karmaudin, soal pengolahan memang masih jadi pekerjaan rumah. Keterbatasan wawasan dan akses informasi membuat usaha warga Darawa untuk mengolah rumput laut belum maksimal. Jika orang-orang Darawa sudah sukses mengolah rumput laut menjadi aneka panganan, tentu nama Desa Darawa akan lebih tenar. Dan, kehidupan masyarakat setempat tentu juga akan bergantung makin erat pada rumput laut-rumput laut yang menggantung pasrah di penjuru desa.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *