Travelog

Mengejar “Deadline” di Hutan Pinus Pengger

Siang itu saat hari masih panas-panasnya, saya dan keempat teman siap-siap hendak menuju lokasi syuting tugas mata kuliah multimedia. Kami memilih Hutan Pinus Pengger yang berada di Bantul. Dari tempat kami berada, di Pasar Sleman, saya menebak perlu waktu sekitar satu jam untuk ke Pengger. Tak mau buang-buang waktu, kami berlima segera berangkat dipandu aplikasi maps di ponsel salah seorang teman saya.

Kami ikuti ke mana maps menuju, sampai akhirnya kami tiba di tanjakan yang terasa tak ada habisnya. Setelah sekitar setengah jam lamanya berkutat dengan tanjakan itu, kami pun tiba di Hutan Pinus Pengger. Rupanya perlu waktu lebih lama, yakni sekitar satu setengah jam, untuk sampai di tujuan.

hutan pinus pengger
Parkiran motor Hutan Pinus Pengger/Hizana Hanifa

Malangnya, setiba di tujuan kami tak bisa langsung mengejar deadline. Penyebabnya adalah hujan yang masih saja betah turun. Alhasil, kami duduk-duduk di sebuah warung dan memesan teh hangat dan Pop Mie untuk menghangatkan badan.

Saat hujan sudah mereda, kami berlima segera mendaki ke atas. Kami menempuh anak-anak tangga yang tersusun oleh batu-batu kecil. Rapi sekali. Susunan batu itu juga membuat trek lebih aman karena menjadi tak begitu licin.

Akhirnya tugas kuliah selesai juga

Kami lalu berhenti di sebuah lokasi lumayan sepi yang rasa-rasanya sesuai dengan ekspektasi kami. Putri dengan cekatan berganti-ganti gaya di depan kamera yang dikuasai oleh Ajeng. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas yang selama beberapa hari ini menguras pikiran dan tenaga.

Kemudian kami duduk-duduk di sebuah bangku yang terbuat dari dahan pohon raksasa. Udara sore itu segar sekali. Pepohonan pinus yang bergoyang-goyang pelan dipermainkan angin. Petrichor (aroma hujan) begitu kentara, sebab tanah masih lembab akibat hujan yang baru saja berlalu.

hutan pinus pengger
Kanopi hutan pinus/Hizana Hanifa

Begitu mata saya menyapu Hutan Pinus Pengger, rasa lelah yang tadi memeluk tiba-tiba mengendorkan dekapannya. Kemurungan pun berubah jadi gelak tawa. Semua tampak berbahagia—kami, para pengunjung yang di sudut sana, mereka yang sedang bercengkerama di sudut situ.

Saya tiba-tiba ingat bahwa setiap kali teman saya ke sini mereka pasti akan memotret kacang pinus. Tak mau ketinggalan saya pun segera mencari kacang pinus terdekat kemudian memotretnya.

Lalu kami berkumpul dan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, ditemani rintik-rintik hujan, kami kembali melaju di jalanan kecil menuju Kota Yogyakarta. Menyelesaikan tugas di Hutan Pinus Pengger bersama teman-teman sungguh menyenangkan. Semoga saja di lain waktu saya bisa mampir lagi ke sana.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Hizana Hanifa

Hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Hobi menulis di sela-sela kepadatan kuliahnya.
Related posts
Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Travelog

Pulau Talango dan Kenangan Manis di Seberang Madura

Travelog

Rumah-rumah Tak Berpagar di Kampung Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *