Interval

Rifqy Faiza Rahman: Meniti Hidup dalam Ekowisata

Namanya Rifqy Faiza Rahman, seorang penulis dan pegiat pariwisata. 13 tahun yang lalu, dirinya mungkin tidak akan menyangka memilih jalan ini sebagai titian hidup. Pariwisata dan perjalanan adalah ruh yang menghidupkannya untuk terus belajar dan berkelana. Dengan label “Papan Pelangi”, ia terus menulis di berbagai media, dan mendalami ekowisata sebagai jati dirinya di dunia pariwisata.

Saat usia tiga tahun, ia harus ikut bapaknya ke Sidoarjo—karena suatu alasan—hingga lulus SMA. Bakat jalan-jalannya sudah terendus semenjak kecil, kala ia harus ikut mudik ke Pacitan setiap lebaran maupun libur panjang. Jarak tempuh yang berkisar 275 kilometer inilah yang jadi cikal bakal dirinya menggemari perjalanan. 

Saat berkuliah, ia memilih jurusan Agribisnis di Universitas Brawijaya. Selama berkuliah, kegemarannya jalan-jalan semakin tersalurkan kala ia menyukai aktivitas naik gunung dan bertemu teman-teman yang hobi touring, budaya, hingga masalah sosial. Meskipun ia bukan seorang anak mapala, kecakapannya soal mountaineering ia dapat dari teman-teman perjalanannya, yang secara rutin menjelajah gunung-gunung yang ada di Jawa. Naik gunung adalah obat dari suntuknya rutinitas kaum urban, begitu pula Rifqy semasa kuliah. Secara khusus, Rifqy tipikal orang yang kurang menyukai destinasi populer. Sesekali, iya. Tapi dia lebih menyukai untuk tinggal di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu dan menggali cerita.

semeru
Kala mendaki Semeru di tahun 2012/Rifqy Faiza Rahman

Kota Malang, tempat ia menuntut ilmu selama beberapa tahun, menjadi tempat yang tepat baginya untuk berkembang. Dari kota yang selama ini terkenal dengan destinasi wisata populer—orang menyambanginya untuk sekedar berlibur atau menghabiskan akhir pekan—kemudian tercetuslah ide bisnis pariwisata.

“Anak-anak mahasiswa bisa nih nyari duit sambilan dari pariwisata,” pikirnya saat itu. Dengan pengalaman naik gunung dan tekad untuk mendapatkan uang tambahan, ia berhasil menjalankan usaha pertamanya. Di tahun itu, 2015, segala sesuatu sudah tampak lebih terang baginya, meskipun pariwisata yang ia kenal masih sebatas pariwisata umum. 

Kemampuan berkelananya kemudian juga disokong dengan kemampuan menulis, yang ia tekuni semenjak SMA melalui blogging. Menulis, tidak hanya bisa menyampaikan gagasan mengenai alam pikirannya yang sudah berkelindan dengan budaya yang plural, tetapi juga menjadi penyokongnya untuk mendapatkan pengalaman menulis yang lebih paripurna, plus apresiasi berupa uang. 

Ia mengasah kemampuan menulisnya dengan banyak mengirimkan tulisan di berbagai media seperti majalah penerbangan, koran-koran, dan media daring. Kalau soal tulisan perjalanan, Rifqy memfavoritkan tulisan-tulisan di National Geographic, terutama tulisan dari Pico Iyer dan Mark Jenkins; yang menurutnya tidak hanya sekedar membagikan tips-tips perjalanan, tetapi lebih personal; menyajikan cerita dari sudut pandang yang semestinya.

Kenapa “Papan Pelangi”? Pemilihan nama pena ini sebenarnya dari kebingungan dia. Mau menggunakan nama sendiri rasanya kurang menjual. Terbesitlah pemikiran filosofis di kepalanya. Dia mengandaikan Indonesia sebagai rumah—dengan kata lain papan—tempat beraktivitas, tempat hidup, dan tempat hingga akhir hayat. Sedangkan pelangi adalah perlambangan kemajemukan negara Indonesia—di luar konteks LGBT pada masa sekarang.

Perubahan Memandang Pariwisata

Apa yang menjadi perubahan terbesar dalam memandang pariwisata? Rifqy bercerita saat di NTT, tepat sebelum wisuda, dia mendapatkan “pencerahan” dalam pengetahuan pariwisata. Menurutnya, pariwisata di Indonesia, kebijakan-kebijakannya masih mengarah ke mass tourism. Perkembangan media sosial yang drastis, cukup untuk melabeli kawasan wisata sebagai “viral”, “populer”, atau “trending”. Spot foto berbentuk hati dan atraksi wisata yang diada-ada adalah hal yang konyol. “Ini adalah sisi buruk dari pariwisata,” jelas Rifqy.

Rifqy sempat berkarir di salah satu instansi sebelum akhirnya pandemi menyergap, dan memberi dia waktu untuk belajar ekowisata. “Sejak lama sebenarnya aku sudah kenal dengan salah satu pakar ecotourism, namanya Pak Nurdin Razak. Beliau itu mantan dosen pariwisata Universitas Airlangga, Surabaya, yang sekarang mengelola penginapan berbasis lingkungan, Baluran Eco Lodge,” paparnya. Pak Nurdin Razak adalah salah satu pemain utama ecotourism di Jawa Timur dan sedikit di antara pelaku ecotourism di Indonesia. 

Rifqy kemudian menimba ilmu langsung dengan Pak Nurdin di Situbondo. Setelah beberapa kesempatan, Rifqy mulai yakin memilih ekowisata sebagai way of life in tourism. Akhirnya, mereka berkolaborasi dalam mengadakan paket ekowisata.

“Saya diizinkan untuk menjual paket beliau, tapi juga saya ingin punya signature sendiri, makanya pertengahan tahun ini (2022) saya pindah ke Magelang dan membangun paket ekowisata di sekitar Borobudur.”

“Sampai saat ini, hampir belum ada sih yang khusus main di ecotourism (di sekitar Borobudur),” tambahnya.

Dalam menjalankan usaha ekowisata, Rifqy berusaha untuk menyeimbangkan kepentingan bisnis dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat di sekitar destinasi pariwisata bukan hanya, objek tapi juga aktor yang perlu pendampingan dan pemberdayaan. Perannya sebagai penulis lantas memudahkannya untuk menyuarakan tentang pariwisata berkelanjutan. Ia sebisa mungkin ingin ikut aktif dalam menyuarakan pariwisata dengan model yang lebih ramah lingkungan. 

“Pariwisata ini udah hampir jenuh. Beberapa tempat kayak Bali, ada jurnal penelitian yang menulis bahwa Bali terancam menjadi the destination of yesterday,” tuturnya. Benar saja, Andrew Marshell dalam salah satu artikel di majalah Time terbitan April 2011, menyebut Bali adalah tempat berlibur yang serasa “neraka”, sebabnya: sampah yang sudah tidak dapat ditolerir, kemacetan yang semakin membludak, dan limbah industri yang mempengaruhi kualitas air dan tanah. Belum lagi video seorang warga asing yang sedang berselancar di laut yang dipenuhi sampah yang sempat viral. Akankah keindahan Bali hanya menjadi cerita bagi generasi mendatang?

Dalam manajemen trip, ia mengakui bahwa banyak belajar dari naik gunung. Naik gunung, menurutnya bukan hanya sekedar olahraga alam bebas. Medan yang relatif ekstrim membuat para peminatnya harus mematangkan segala sesuatu sebelum eksekusi. Untuk itu, manajemen yang baik diperlukan agar keberangkatan dan kepulangan berbuah keselamatan. Selain praktik manajemen, ia merasa naik gunung bisa lebih membuka pikiran dan menurunkan ego.

“Orang bilang kalau naik gunung itu kelihatan teman-teman kita sifat aslinya, itu dibutuhkan jiwa kepemimpinan dan keterbukaan hati, supaya dalam perjalanan berangkat dan pulangnya dengan selamat. Soal foto dan konten, itu bonus.”

Ketika saya bertanya kemungkinan jalan lain yang ia pilih selain berkecimpung menjadi seorang praktisi ekowisata, Rifqy tertawa renyah.

“Tertarik buat jadi dosen nggak?”

“Kalau saya menjadi dosen, entahlah. Saya aja sekolah S1 molor,” diiringi gelak tawa yang membahana, “tapi mungkin tetap akan mengambil S2, tapi dengan tujuan memperkuat praktik. Nggak harus jadi dosen, biar luwes.”

Rifqy mulai memanggil kembali ingatannya kala berkuliah. Di mata dosen-dosennya, Rifqy termasuk “bandel”. Waktu pengerjaan skripsi yang lama membuat para dosen bertanya-tanya, “mau lulus atau nggak sih?” Tapi ada beberapa dosen yang kemudian mengerti alasan keterlambatannya mengerjakan skripsi.

“Oh, mungkin si Rifqy ini passion-nya menulis, di pariwisata. Ada minat yang sangat besar di situ,” kenangnya menirukan ucapan dosen. Kemudian dosennya menyarankannya untuk segera lulus agar bisa lebih fokus mengerjakan apa yang ia gemari. Terbaru, Rifqy diundang para dosennya untuk menjadi konseptor pengabdian masyarakat yang mengarah ke ekowisata. 

bersama mentor
Bersama sang mentor, Nurdin Razak/Rifqy Faiz Rahman

“Yang bikin saya senang adalah dosen saya mengapresiasi saya, memberikan tempat pada saya bahwa ‘ini loh ada lulusan UB yang konsisten di jalurnya’. Mungkin dunia saya di sini.”

Tantangan yang dihadapi Rifqy dalam menjalani hidup di “jalan” ekowisata dan menulis adalah konsistensi. Seberapa kuat bisa memegang komitmen di awal, dan seberapa konsisten dalam pembuatan program. Tiap hari, ia harus terus mengasah kreativitas untuk selalu menemukan hal-hal baru untuk dieksplorasi. “Konsisten adalah yang benar-benar berat, aku rasa.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Menelusuri Sejarah Bogor bersama Bogor Historical Walk

Interval

Mura Aristina dan Kisahnya di Candi Borobudur

Interval

Wisata Regeneratif, untuk Apa?

Interval

Film Horor dan Wisata Lokasi Syuting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti: Kumpulan Tulisan Prof. Boechari Tentang Indonesia di Masa Kuno