Travelog

Kayutangan dari Cerita Mbah Ndut (2)

Perjalanan di Kayutangan pun kami lanjutkan dengan menyusuri sungai. Mbah Ndut bercerita bahwa saat musim hujan, air bisa meluap sampai atas. Rumah-rumah akan kebanjiran. Sudah jadi langganan setiap tahun katanya. Makanya di sisi kanan, rumah-rumah dibangun lebih tinggi daripada jalan.

“Makanya, sungai di sini nggak bisa dipakai untuk body rafting atau semacamnya, Mbak. Dulu pas saya masih kecil, kalau pas banjir malah senang. Saya bisa berenang di sini sama teman-teman,” kenangnya.

Sungai ini dibangun oleh Belanda, tapi hanya sampai ujung saja. Tidak sampai loji, sebuah perumahan orang Belanda yang berdiri di sebelahnya.

  • Kayutangan Heritage
  • Kayutangan Heritage

Ia lalu menunjukkan sebuah rumah tua dari kejauhan. Menjelaskan bahwa kami, para pengunjung, boleh memotretnya namun tak boleh mengunjunginya. Pemilik tidak memberikan izin. Di seberangnya, ada sebuah langgar. Di depannya, tertulis “Madrasah Diniyah KH Wahid Hasyim”. Jamaahnya hanya perempuan.

Untuk kesekian kali, kami melewati jembatan. Rute walking tour memang mengelilingi kampung. Keluar masuk gang, menyusuri sungai berkali-kali.

“Bro, enake narapas opo iki ewul” tertulis pada sebuah tembok rumah di pinggir sungai. Awalnya saya bingung dengan maksud kalimat tersebut, namun perlahan memahaminya ketika Mbah Ndut mengingatkan bahwa masyarakat Malang identik dengan membalik kata-kata.

“Bro, enake sarapan opo iki luwe” yang artinya, “Bro, enaknya sarapan apa ya, lapar.”

Kayutangan Heritage
Salah satu mural di pinggir sungai Kampung Kayutangan/Mauren Fitri

Kami masih menyusuri sungai, melihat beberapa mural yang tergambar di tembok-tembok rumah warga. Sebelum saya bertanya siapa yang punya ide membuat mural ini, Mbah Ndut menceritakannya lebih dulu.

“Pembuatan mural dihentikan Mbak, karena kami merasa kurang sesuai dengan identitas kampung ini. Ada beberapa masalah internal, ceritanya.”

Kami lalu melewati kumpulan anak-anak SMP di pinggir sungai, kelleran. Beberapa sedang merokok, sisanya hanya duduk-duduk saja. Mereka bukan warga Kayutangan, tapi setelah pulang sekolah, kerap nongkrong di sana. Sering juga masyarakat lain menyapa kami sambil keheranan karena jalan pas panas-panasnya.

Bicara soal Kayutangan, ternyata cukup luas. Ada Talun dan Semeru yang terhubung dengan Kayutangan. Tak bisa berdiri sendiri. Saat menjelaskan hal tersebut, kami baru saja tiba di Talun—kampung yang berada di sebelah Kayutangan.

Dulu, ada yang namanya es Talun. Namun si empunya pindah ke Pasuruan, sehingga saya tak bisa mencicipinya.

  • Kayutangan Heritage
  • Galeri Omah Lor
  • Kayutangan
  • Kayutangan

Kami lalu tiba di sebuah toko barang antik, tempatnya cukup unik. Galeri Omah Lor namanya. Papan “Jual Kopi” dan “Sugeng Rawuh” menggantung di depan rumah dengan cat hijau toska ini. Di kanan kiri pintunya ada patung Gareng dan Semar. Dinding kaca jendelanya penuh dengan stiker. Ada dua kursi besi warna putih di depannya. Toko kopinya berada di pojok kanan. Bendera merah putih berkibar di sampingnya. Sang pemilik menyapa saya, sangat ramah.

“Koleksi, Mas?”

“Kolektor, Mbak! Koleksi payu didol (koleksi, kalau laku ya dijual),” jawabnya sambil tertawa.

Saya lalu masuk ke dalamnya, rak-rak kayu penuh dengan kamera antik dari berbagai jenis merek. Vespa kuning mencuri perhatian saya. Sisi lainnya penuh dengan toples dan barang-barang antik lain seperti peralatan makan hingga telefon manual jadul. Jika tertarik dengan koleksi di sini, kamu bisa membelinya secara daring ke pemilik.

Mbah Ndut lalu berbincang dengan pemilik tentang rumah tetangga mereka yang baru saja terjual. Saya? Masih sibuk dengan kamera-kamera antik di dalam.

Usai berbincang di Galeri Omah Lor, kami melanjutkan perjalanan kaki ke Galeri Eko yang menjual barang antik juga namun tak sebanyak di galeri sebelumnya. Di sepanjang jalan, saya menemui beberapa rumah lain yang juga menjual barang-barang antik layaknya Pasar Klitikan di Kota Lama Semarang. Bedanya, barang-barang antik di sini dijual di rumah, bukan di kios. 

Seperempat perjalanan terakhir, Mbah Ndut mengajak saya melihat beberapa rumah tua yang masih berpenghuni. “Ini perkampungan yang dibangun oleh Belanda, tapi tidak ada orang Belanda yang tinggal di sini. Hanya dibangun pada era penjajahan saja.” 

Mayoritas masyarakat Kayutangan bekerja sebagai PNS, sebagian lagi berwirausaha. Makanya pas siang-siang saya datang, kampung tampak sepi.

  • Kayutangan Heritage
  • Kayutangan Heritage
  • Kayutangan Heritage

“Ini rumah saya, peninggalan dari eyang dan bapak. Bapak saya pejuang, pernah ikut pertempuran di Siola. Ini ada tanda jasa dengan tanda tangan Soekarno—asli. Beliau ini lahir di Sidoarjo.”

Sontak, saya memelototi tanda jasa dan deretan foto berwarna hitam putih dengan bingkai coklat yang terpasang di dinding ruang tamunya. Melihatnya dengan seksama.

“Ini ijazah waktu Ayah masih SD, tahun 1936. Lalu yang ini adalah foto almarhum kakak saya, diambil 1971. Akabri juga,” ia melanjutkan.

Rumah yang ditinggali Mbah Ndut, adalah rumah punden. Rumah peninggalan yang boleh ditempati, tetapi tidak boleh diubah sama sekali apalagi dijual. Di rumah ini, seluruh keluarga besar Mbah Ndut berkumpul kala lebaran tiba. Ia menjelaskan, kalau anak dan cucunya rindu dengan orang tua, ada kenangan yang masih bisa dilihat, ada tempat jujukan untuk datang.

Kami lalu berbincang cukup lama sembari saya melihat isi rumahnya. Cukup banyak barang antik tersimpan. Di bagian depan misalnya, tumpukan kaset, televisi jadul, radio tua, sentir, rak televisi, hingga piring-piring antik terpajang. Di bagian dalam, koleksi set alat makan dan minum lebih mendominasi.

Di balik cerita-cerita menarik Mbah Ndut tentang bangunan bersejarah hingga masyarakat Kayutangan, saya masih bisa menemui kesan kumuh di beberapa sudut kampung ini. Namun, upaya untuk mengubahnya tak henti dilakukan.

“Ya memang agak susah, kita harus pendekatan ke masyarakat dulu dan itu prosesnya tidak sebentar. Untuk sekedar ngasih tahu, jangan menjemur pakaian dalam di depan rumah saja, kita memberikan pengertian berkali-kali bawah hal itu tidak nyaman dipandang mata, apalagi jika ada wisatawan datang.” ujar Mas Aan yang saya temui di Kedai Rupaduta usai berkeliling Kayutangan.

Kalau memperhatikan lebih detail, rata-rata bangunan dan interior di Kayutangan berwarna hijau toska. Entah kenapa, saya pun tak bertanya pada Mbah Ndut mengenai hal itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Artikel Terkait
Travelog

Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

Travelog

Cerita dari Atas KM Dobonsolo

Travelog

Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

Travelog

Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengunjungi Bangunan Masa Kolonial Belanda di Kampung Heritage Kayutangan