Travelog

Mengunjungi Bangunan Masa Kolonial Belanda di Kampung Heritage Kayutangan

Kampung Kayutangan, atau sejak dicanangkan sebagai kampung wisata pada 22 April 2019 lalu dikenal dengan sebutan Kampung Heritage Kayutangan. Lokasinya berada di pertengahan hiruk pikuk Kota Malang, dan ternyata ada banyak sekali pintu masuk menuju ke sana. Waktu itu aku memutuskan untuk masuk melalui salah satu gang yang ada di Jalan Basuki Rahmat, berada tepat di area Koridor Kayutangan.

Koridor Kayutangan/Lutfia Indah M

Kayutangan terbagi menjadi dua bagian, yaitu perkampungan yang kini menjadi kampung heritage serta area koridor. Pada area koridor, terbentang banyak sekali pertokoan yang sudah ada sejak zaman Belanda di Kota Malang. Bahkan beberapa bangunan pada zaman Belanda tersebut ada yang masih tersisa dan difungsikan hingga saat ini. Bukan hanya itu, area perkampungan yang dihuni warga pun juga memiliki sejarah yang sama panjangnya dengan koridor. Dulu perkampungan ini dikenal dengan Kampung Talun, lokasinya di tepi Hutan Patangtangan yang saat ini menjadi bagian Koridor Kayutangan.

Kampung Heritage Kayutangan mengusung konsep retropolitan dengan sentuhan gaya-gaya indische, sesuai dengan rentetan sejarah Kota Malang terkhusus Kayutangan yang kental sekali dengan kehidupan orang Belanda. Meskipun demikian ternyata orang Belanda hanya menempati area koridor saja, tidak sampai menghuni bagian perkampungan.

Ketika aku sampai di Kampung Heritage Kayutangan, aku langsung memarkirkan motor di depan Balai RW IX, aku rasa ini cukup penting karena rasanya sedikit sulit menentukan harus parkir di mana ketika memang tidak tersedia lahan parkir.. Terlebih ketika aku berkunjung ketika sektor pariwisata di Kampung Heritage Kayutangan belum berjalan maksimal lataran situasi Kota Malang yang berada di PPKM level 3.

Salah satu rumah di Kayutangan/Lutfia Indah M

Di area perkampungan ini akan banyak sekali dijumpai perumahan bergaya Belanda maupun dengan nuansa jadul. Di luar dugaan, aku menemukan salah satu tempat bertuliskan Makam Mbah Honggo. Usut punya usut, konon Mbah Honggo merupakan salah satu prajurit yang melakukan persembunyian dari kejaran Belanda dan kehadirannya justru memberikan pengaruh kepada warga Kampung Talun dulu.

Aku kemudian melanjutkan perjalanan menikmati tiap titik yang ada di perumahan ini, berbaur dengan aktivitas warga setempat. Pada beberapa sudut akan ditemukan tiang petunjuk jalan untuk mempermudah pengunjung menemui lokasi lain. 

Area Sungai/Lutfia Indah M

Langkah kaki ini membawaku pada sebuah sungai yang dilalui oleh jembatan. Udara di sana sangat sejuk, dan mural yang tergambar pada setiap dindingnya menutupi kekumuhan kampung sebelum dikelola. Menelusuri jalan di sini, seolah sedang berjelajah untuk menemukan harta karun. Tidak semua rumah yang aku temui berarsitektur Belanda, beberapa terlihat sama dengan rumah di perkampungan pada umumnya. 

Aku terus berjalan hingga tiba di Galeri Nya’ Abbas Akup. Tempat ini dulunya merupakan kediaman dari Abbas Akup, seorang sutradara terkenal dari Kota Malang. Rumah ini sudah ada sejak tahun 1930an. Informasi ini tertera pada bagian depan bangunan dengan arsitektur Jawa. 

Bagian Dalam Griya Moeziek/Lutfia Indah M

Kemudian aku juga singgah ke Griya Moeziek. Saat ke sini, Pak Handoko—pemilik rumah yang merupakan putra dari salah satu maestro keroncong asal Kayutangan menyambut saya dengan hangat. Griya Moeziek menjadi satu-satunya tempat yang dapat aku kunjungi pada saat itu, sebab tempat lain masih tutup. Para pengunjung pun hanya dapat singgah di halaman depan bangunan. 

Di dalam Griya Moeziek terdapat berbagai alat musik yang dengan leluasa dapat dimainkan oleh pengunjung. Di sana juga terpajang beberapa foto kenangan dari keluarga Pak Handoko yang memang sangat erat dengan musik terutama musik keroncong. Pak Handoko sempat bercerita kepadaku bahwa kediamannya ini dijadikan basecamp para musisi musik patrol bernama Jong Oscar.

Jong Oscar merupakan musisi Kayutangan yang memainkan musik patrol bernuansa Bossa Nova. Hal ini bermula dari kegemaran para musisi dalam melakukan patrol sahur ketika masih muda. Akhirnya kelompok tersebut berlanjut menjadi sebuah grup musik non-komersial yang beberapa kali sempat mengisi acara di Kayutangan. Kebetulan ketika aku berkunjung ke sana, banyak anggota dari Jong Oscar sedang berkumpul dan bernostalgia bersama. Sebenarnya masih sangat banyak tempat yang bisa dikunjungi di Kampung Heritage Kayutangan. Seperti Rumah Rindu yang di dalam papan keterangan ternyata sudah dibangun sejak tahun 1950-an dan pada saat ini merupakan tempat untuk memproduksi bakiak yang sudah dimodifikasi. 

Ada pula Rumah Penghulu, rumah ini dibangun sejak 1920. Aku sempat dengar pemilik rumah dulunya seorang penghulu, oleh karena itu bangunan ini diberi nama Rumah Penghulu.

Tak lupa, aku berkunjung ke koridor yang kini telah didesain layaknya Malioboro. Di sinilah bagian paling menarik, sebab langsung terbesit pertanyaan dalam pikiranku tentang bagaimana bisa area perkampungan sudah di tata dengan apik bertemakan retropolitan namun area koridor malah terkesan seperti berada di Malioboro?

Ternyata konsep “Malioboro” merupakan kebijakan langsung dari Pemerintah Kota Malang yang menimbulkan kontroversi terutama oleh warga lokal Kayutangan serta pihak-pihak yang peduli dengan cagar budaya. Aku sempat berbincang dengan salah satu Dosen Ilmu Sejarah dari Universitas Negeri Malang, yakni Pak Dwi Nurcahyo. Beliau sempat bilang bahwa Kota Malang merupakan kota yang sangat erat dengan kehidupan Belanda, dalam hal sejarah tentu saja sangat berbeda dengan Kota Yogyakarta. Seharusnya, konsep yang diangkat untuk kawasan Koridor Kayutangan adalah nuansa indische, seperti yang telah lama diterapkan di kawasan perkampungan.

Tanpa mengaburkan latar belakang sejarah kawasan Kayutangan, tempat tersebut tetap menjadi pilihan yang pas bagi wisatawan yang untuk berwisata masa lalu. Sedikit banyak, ketika aku berkunjung ke sana rasanya aku berhasil terbawa kembali menemui suasana Kota Malang zaman dulu.  


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.

Lutfia Indah, perempuan yang sedang senang.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Mencari Sisa-Sisa Nieuw Kerkhof Kamboja