Pilihan EditorTravelog

Mencari Sisa-Sisa Nieuw Kerkhof Kamboja

Nisan-nisan salib bertebaran di lahan yang tertutup semak belukar. Hampir seluruh bagian makam tanpa tertulis nama, kecuali beberapa makam yang bisa dihitung dengan jari. Terabaikan dan tertutup, seakan tanpa pernah dikenal oleh siapapun. Pemakaman yang masih masuk ke dalam lahan pemerintah Kota Banjarmasin ini nampak tidak dirawat. Kami menyusuri setiap jengkal tanah yang tertutup oleh rumput, demi mencari sisa-sisa makam Belanda yang dulu pernah ada. Hampir semua makam di sini adalah makam pindahan dari Nieuw Kerkhof yang ada di Jalan Kamboja, Banjarmasin. 

Dulunya saya menyangka tinggalan kolonial yang ada di Banjarmasin memang tidak ada, kenyataanya tinggalan tersebut sudah banyak yang beralih bentuk dan hilang. Sumber sejarah yang dapat dilihat hanyalah foto-foto yang terdokumentasi dengan baik yang dapat diakses di Digital Collection Universiteit Leiden. Banjarmasin telah kehilangan banyak sumber data sejarah yang berhubungan dengan bercokolnya Belanda di kota ini.

Patung Malaikat dan Nasibnya

Patung malaikat yang merupakan sisa Niewu Kerkhof/M. Irsyad Saputra

Kami meraba-raba nisan sembari membersihkan sedikit semak untuk melihat beberapa nama dan tahun kematian. Beberapa nisan terbaca jelas, tapi semuanya berasal dari penduduk lokal.  Nisan tanpa identitas yang hanya menyisakan tanda salib lebih banyak mendominasi.

Sebelumnya kami menanyakan pada penjaga makam di sana, mereka nampak sibuk dan enggan menjawab banyak. “Saya kurang tau pemindahannya kapan dan bagaimana, kalau yang pindahan dari Kamboja letaknya di sana,” ucap penjaga makam sambil menunjuk ke arah timur.

Pencarian terus berlanjut, secara tak sengaja saya melihat sebuah patung di dekat pagar pembatas. Patung dua figur malaikat yang berbeda ukuran. Patung pertama setinggi dua meter ini tampak rusak pada tangan kanannya.  Sedangkan patung kedua berbentuk anak kecil yang sedang mengepalkan tangan. Kusam dan mulai menghitam, padahal mereka adalah sisa-sisa karya seni pada makam yang tersingkirkan.

Mungkin inilah sisa terakhir dari Nieuw Kerkhof yang bergaya Gothic yang masih dapat dilihat. Entah di bawahnya masih ada makam atau patung ini sudah terpisah dari makam empunya, yang pasti tidak ada penunjuk yang bisa dijadikan patokan makam siapa yang mempunyai patung tersebut.

”Beristirahatlah dengan tenang meski makammu telah digusur dari tempat awalnya,” batinku dalam hati. Sejauh kami menyusuri setiap sudut lahan pemakaman ini, patung itu memang menjadi satu-satunya yang masih tersisa.

Nisan Kuno Ulin

Kemudian kami berkeliling lagi, kali ini ke area pemakaman muslim. Seperti yang sudah saya pernah tulis tentang kain kuning, ada satu makam yang tampak dipagari dan dipasangi kain kuning yang sudah lusuh. Meskipun banyak makam baru, saya melihat beberapa nisan yang tampak kuno yang terbuat dari kayu ulin maupun batu. Ada satu nisan ulin yang menarik mata karena bentuknya yang unik. Nisan tersebut tampak lebih tinggi daripada nisan yang lain. Nisan ini berbentuk seperti gada dan mempunyai empat sisi, masing-masing sisi mempunyai hiasan sulur. Meski tampak rapuh dimakan usia, nyatanya nisan ini ketika saya sentuh masih terasa keras dan kokoh.

Disekeliling saya, saya mencatat nisan-nisan lama yang terbuat dari kayu ulin ada 5 jenis, dari batu ada 3 jenis, masing-masing mempunyai bentuk dan hiasan yang berbeda. Selain TPU Pemkot Banjarmasin, di sekelilingnya terdapat TPU lainnya. Kami juga melihat pemakaman massal COVID-19 yang dikhususkan. 

Samaniyah, yang telah berjualan bunga di sini selama 8 tahun mengaku tahu bahwa ada pemakaman Belanda yang ada di dalam sana namun tidak mengetahui persis letaknya dimana. “Orang-orang sering berziarah saat Paskah atau Natal, biasanya ketika Paskah yang banyak ziarah ke sana,” tuturnya. 

Tiada yang Tersisa dari Masa Sebelumnya

Berlanjut ke Jalan Kasturi, yang mana juga terdapat pemakaman umum yang cukup besar. Letaknya tak jauh dari Bandara Lama Syamsuddin Noor yang sudah digantikan oleh bandara yang baru. Baru saja tiba, ada beberapa karangan bunga yang bertebaran di sekitar lokasi makam, rupanya baru saja ada yang dimakamkan sebelum kami datang. 

Dekorasi makam di sini terbilang bagus, ada beberapa yang berbentuk rumah kecil, ada yang berbentuk rumah adat, ada juga yang hanya sekedar nisan. Setelah menanyakan kepada para penjaga tentang makam pindahan dari Kamboja. Mereka serentak menjawab ada. Kami meminta izin untuk melihat sekeliling sembari memeriksa setiap nisan yang ada.

Dari ujung ke ujung kami periksa, menerabas semak belukar yang tinggi, hingga ke sudut pemakaman. Berbagai nisan serta jirat yang kami temui, namun untuk nisan kuno nampaknya tidak ada di sini. Akhirnya kami menemui kembali para penjaga makam yang lagi duduk santai di sebuah bangunan. 

Newo, yang sudah menjaga di sini dari 80-an mengungkap bahwa banyak di sini makam pindahan dari Kamboja tetapi kebanyakannya adalah bong (makam Cina) dan makam Dayak. Dia memberitahu bahwa orang Belanda yang dimakamkan di sini hanyalah seorang pastor. “Coba kamu lihat tahun meninggalnya, ini [makam] termasuk yang tua di sini,” terangnya. Dari keterangan wafatnya saya lihat memang tua, 15 November 1937 dengan nama P. Antonius Joannes van Rossum Msf. Meskipun tua, tidak ada yang tersisa dari makam asalnya di Kamboja, semuanya baru dan berkeramik. Makam ini tergabung dalam area khusus pastor yang terdapat beberapa makam lainnya, bahkan ada yang cukup baru dimakamkan.

“Kalau pengen melihat makam yang lebih tua, ada tuh di samping asrama haji, lumayan besar dan terawat,” jelasnya. Untuk penjelasan lebih lanjutnya dia pun kurang mengetahui. Begitu sampai di sana, kami mendapati ternyata makam tersebut adalah makam seorang warga Jepang. Makam tersebut berpagar dan terkunci sehingga tidak bisa diakses sembarangan. Ada keterangan dari nisan yang berbunyi “Makam warga Jepang, kami senantiasa berdoa untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan rakyat indonesia”. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kami tanyai di sini. 

Belanda yang mengabdikan diri

Di lain kesempatan, kami mengunjungi Pemakaman Pulau Beruang yang terletak di pinggir jalan Landasan Ulin. Berdasarkan info di sini juga merupakan tempat pemindahan makam-makam yang berasal dari Nieuw Kerkhof. Pemakaman di sini dipisahkan, sebelah kanan gerbang terdapat pemakaman Kristen dan Katolik sedangkan sebelah kiri gerbang terdapat pemakaman Islam. Hampir setengah jam menunggu penjaga makam, hasilnya nihil. Kami memutuskan untuk mencari sendiri di antara makam-makam di sana. 

Setelah lama mencari dan tidak membuahkan hasil, saya memberanikan diri bertanya ke rombongan peziarah yang ada di sana. Mereka menggeleng tanda tidak pernah tahu ada makam Belanda di sekitar sini. “Kalau setahu saya makam-makam di Kamboja itu dipindahkan ke Pal 21 (TPU Pemkot Banjarmasin), Kasturi, dan Mandala,” ujar mereka. Pemakaman Pulau Beruang hanya terdapat makam Van Der Pijl, perancang Kota Banjarbaru dan Palangkaraya. Seorang Belanda yang wafat pada 27 September 1974, dia mengabdikan dirinya untuk membangun kota Banjarbaru dan Palangkaraya. 

Kondisi makamnya masih apik, dengan keramik putih dan identitas yang tertera lengkap dengan tanggal lahir dan wafat. Beliau bekerja di sini semasa pembangunan Kalimantan medio 1950 an. Beliau merupakan arsitek kesayangan dr. Murjani yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur Kalimantan. Papan plang dan spanduk juga sudah terpasang pada halaman area pemakaman sebagai upaya untuk melestarikan sejarah.

Meskipun tampaknya sepele, kerkhof yang merupakan cagar budaya era kolonial seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah daerah sebagai aset sejarah. Kejadian pemindahan makam ini memang sudah lama terjadi, kedepannya bisa kita jadikan pelajaran untuk menjaga tinggalan-tinggalan yang masih ada di sekitar kita, apapun nilai dan konteksnya. Salah satu sumber data ilmu pengetahuan khususnya arkeologi adalah nisan, dengan hilangnya nisan maka hilang sudah pengetahuan yang terkandung di dalamnya. 

Bagaimanapun, kehilangan ini adalah duka bagi ilmu pengetahuan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

Travelog

Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

Travelog

Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

Semasa CoronaTravelog

Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Aku Kembali ke Jogja dan ke Kuburan