Travelog

Melawat ke Makam Kehormatan Belanda

Akhir tahun lalu, saya mengikuti kegiatan walking tour bersama Jakarta Good Guide yang beberapa tahun terakhir dikenal sebagai komunitas penyedia layanan tur berjalan kaki mengelilingi beberapa titik bersejarah di ibukota. Tour yang disediakan berbasis pay-as-you-wish dengan pemandu yang telah mengantongi lisensi dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Semasa pandemi ini, Jakarta Good Guide sempat vakum namun belakangan aktif kembali dengan pembatasan peserta, pelaksanaan protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah dan durasi kegiatan yang dipersingkat. Umumnya peserta dibatasi hanya kurang lebih tiga puluh peserta, meski seringkali peserta yang sudah mendaftar tidak hadir pada hari pelaksanaan kegiatan. Kali ini, kami berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo yang terletak selemparan batu dari Mall Kota Kasablanka. 

Nisan sesuai agama yang dipeluk/Irfani Prabaningrum (foto disamarkan)

Ereveld Menteng Pulo merupakan salah satu dari tujuh makam kehormatan Belanda di Indonesia. Nyaris 25.000 korban perang pada masa Perang Dunia II di Asia Tenggara dan selama masa revolusi dimakamkan di tujuh makam kehormatan Belanda yang berada di Pulau Jawa.

Awal mulanya, mereka dimakamkan di 22 makam kehormatan Belanda yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, atas permohonan pemerintah Indonesia setelah penyerahan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 60-an, makam kehormatan Belanda dipusatkan di Pulau Jawa. 

Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan mendapat kesempatan untuk menyambangi Ereveld. Tiap kali berkunjung ke Mall Kota Kasablanka hanya bisa melihat saja. Nah, rupanya Ereveld bisa dikunjungi untuk umum setiap hari dari pukul 07.00 – 17.00 WIB. Gerbangnya nampak tertutup namun bukan berarti eksklusif. Pengunjung dapat menekan bel yang berada di samping pagar, kemudian menunggu petugas membukakan pintu. 

Sehari-hari ada mbak Wulan dan beberapa pegawai lainnya yang bertugas di Ereveld Menteng Pulo. Kalau naik motor atau mobil bisa parkir di depan Ereveld, pintu gerbangnya terletak di depan Kelurahan Menteng Atas.  Oh ya, sebelum memasuki Ereveld juga harus mengisi buku tamu untuk dokumentasi bagi yayasan.

Kini Ereveld hanya tersisa tujuh kompleks pemakaman meliputi Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta, Ereveld Kalibanteng dan Ereveld Candi di Semarang, Ereveld Leuwigajah dan Ereveld Pandu di Bandung serta Ereveld Kembang Kuning di Surabaya.

Ereveld yang berada di bawah Yayasan Makam Kehormatan Belanda (Oorlogsgravenstichting) bertujuan untuk merawat peninggalan sejarah Indonesia-Belanda dan memastikan agar korban peperangan dan cerita dibaliknya mendapat pengakuan selayaknya. 

Columbarium di Samping Gereja Simultan/Irfani Prabaningrum

Makam di Ereveld ini selain rapi, juga sangat toleran akan keberagaman agama. Nisan yang ada di Ereveld disesuaikan dengan agama yang dipeluk para korban. Ada beragam jenis nisan, salah satunya nisan yang berbentuk salib untuk laki-laki Kristen, salib berukir untuk perempuan Kristen, bintang untuk orang Yahudi dan polos untuk orang Buddha. Sementara pada adapula nisan untuk Muslim (tentara KNIL) yang bentuknya seperti nisan-nisan pada umumnya di Indonesia serta serta nisan untuk pemakaman masal.

Pemakaman massal diperuntukkan untuk kejadian luar biasa seperti adanya peristiwa pertempuran besar sehingga terjadi penumpukan jenazah dan jenazah tidak dikenali satu per satu. Ada pula jenazah yang tidak dikenali lalu pada nisan tertulis ‘onbekend‘ artinya adalah tidak bernama.

Saat itu saya baru tahu kalau istilah beken itu serapan dari bahasa Belanda yang menunjukkan arti ternama atau populer. Selain bentuk nisan yang variatif, pada bagian belakang nisan dilengkapi dengan nomor yang diperuntukkan untuk mengetahui kolom dan baris lokasi nisan sehingga peziarah lebih mudah menemukan makam yang ingin diziarahi. Terdapat katalog yang tersedia di area penerimaan tamu, sehingga peziarah juga dapat mencari nomor dari makam yang ingin dikunjungi.

Bagian Dalam Gereja Simultan/Irfani Prabaningrum

Ereveld dilengkapi pula dengan Gereja Simultan yang tidak digunakan sebagai tempat peribadatan seperti gereja pada umumnya, namun bisa digunakan untuk peringatan seluruh agama. Di samping gereja, ada pula Columbarium yang menyimpan abu jenazah tentara Belanda yang gugur dan dikremasi pada masa penjajahan Jepang.

Di dekat Columbarium ada kaca patri yang merefleksikan hubungan baik antara Belanda dengan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan dua orang yang saling berpegangan dimana salah satu orang tersebut menggunakan blangkon yang mencirikan orang Indonesia (Jawa pada khususnya) sementara satunya merupakan orang Belanda. 

Yayasan Makam Kehormatan Belanda menyediakan jasa peletakan bunga bagi keluarga korban perang. Keluarga korban yang umumnya saat ini berada di Belanda atau belahan bumi lainnya bisa memesan rangkaian bunga dan menyematkannya di makam yang dimaksud.

Umumnya keluarga korban memesan jasa ini ketika hari ulang tahun korban atau hari peringatan lainnya. Yayasan ini juga menyediakan jasa organisir perjalanan ziarah untuk keluarga korban maupun kerabat lainnya ke makam-makam kehormatan Belanda yang terdapat di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya) maupun Thailand dan Myanmar.

Namun sayangnya, semakin ke sini peziarah yang mengunjungi Ereveld makin sedikit. Salah satunya disebabkan makin jauhnya keterkaitan hubungan kekerabatan dengan korban.

Legal standing Ereveld menjadi lemah apabila peziarah berkurang atau bahkan tidak ada lagi yang berkunjung, karena tujuan Ereveld adalah mengenang para korban perang. Ereveld sendiri berdiri di tanah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, meski manajemen dari pihak Kerajaan Belanda. Sehingga, Ereveld membuka diri untuk umum dengan harapan agar eksistensi Ereveld tetap lestari.

Cerita ini juga saya dedikasikan untuk merawat ingatan akan sejarah kelam masa lampau dan mengajak serta kalian untuk berkunjung ke makam kehormatan Belanda.

Seorang pemimpi besar dan pejalan paruh waktu.

Seorang pemimpi besar dan pejalan paruh waktu.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *