Travelog

Coban Pelangi dan Kenangan Apik

Ketika berkunjung ke rumah seorang teman di daerah Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, saya dan dua orang teman sebenarnya tak memiliki rencana apa-apa. Hanya ingin sekadar sambang dan menumpang makan tidur dua hari semalam. Namun sang tuan rumah berinisiatif untuk mengajak kami ke salah satu air terjun terdekat yakni Coban Pelangi.

Katanya air terjun ini menjadi salah satu destinasi favorit selain Coban Rondo, Coban Talun, dan Coban Rais. Kami semua manut saja dengan sebuah tawaran yang dilontarkan. Air terjun yang dalam bahasa Jawa disebut coban ini, memiliki keunikan tersendiri. Apabila beruntung, kami akan menengok pelangi diantara gemercik air yang berhamburan. Karena itu, air terjun ini dikenal dengan nama Coban Pelangi.

“Semoga motornya kuat nanjak,” seru teman sekaligus pemilik rumah. Ya, kami menggunakan dua motor matic dengan masing-masing satu orang dibonceng. Segera kami mempersiapkan diri dan tidak lupa mengenakan jaket cukup tebal.

Perjalanan cukup menukik, benar saja kami harus menuju kepada ketinggian 1.400 mdpl. Selain melewati perumahan, kami juga berpapasan dengan deretan mobil Jeep di sepanjang jalan. Ternyata jalan yang kami lalui menjadi salah satu rute menuju Gunung Bromo. Tidak ketinggalan hutan rindang, perbukitan, dan jurang di kedua sisi jalan menemani perjalanan kami. Jalanan tak selalu mulus, ada tikungan tajam dan berkelok-kelok.

Coban Pelangi terletak di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Tepat pukul 11.00 WIB, kami telah tiba. Dengan harapan dapat menengok keindahan warna-warni cahaya pelangi saat matahari mulai aktif bekerja. Katanya muncul sekitar pukul 10.00 WIB hingga 14.00 WIB. Dengan bermodalkan tiket masuk sebesar Rp6 ribu per orang dan biaya parkir, yaitu lima ribu rupiah per motor. Kami bisa melenggang masuk menerobos gapura penyekat.

Jalur Perjalanan/Melynda Dwi Puspita

Kami melewati jalan setapak menurun membelah hutan sejauh kurang lebih 1,5 km. Kira-kira membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke air terjun. Cukup melelahkan memang, tetapi segala keindahan yang kami temui di sepanjang jalan lumayan membuat gairah tetap bergelora. Suasana sejuk cukup terasa, karena berbagai jenis pepohonan sangat bersemangat untuk berkembang. Suara burung berkicauan juga tidak luput dari indra pendengaran.

Tenda beragam warna juga nampak berdiri rapi diantara keheningan suasana hutan. Ada yang sedang melahap cemilan berbungkus plastik alumunium foil. Ataupun hanya memasrahkan diri terduduk di dalam tenda beralas terpal. Adapula yang terfokus melipat hamparan tenda roboh di atas tanah kecoklatan. Menandakan akhir dari perjalanan sebuah momen perkemahan.

Tidak banyak interaksi dan guyonan yang kami lontarkan di sepanjang perjalanan. Bukan hanya untuk menghemat tenaga yang tersisa. Namun juga karena rasa penat yang telah melanda.

Sesekali kami menghentikan langkah untuk mengabadikan momen terindah. Terlihat pula beberapa ekor kuda berjejer membentuk beberapa formasi. Kuda-kuda tersebut menjadi alternatif transportasi untuk bisa mencapai air terjun tanpa menguras energi. Dua sejoli yang asyik bersenda gurau di sebuah gubuk, seakan tidak ada lagi manusia selain mereka di dunia ini.

Jembatan Bambu/Melynda Dwi Puspita

Hingga tiba saatnya kami menemui jembatan bambu sederhana yang nampak kokoh. Banyak orang yang antre untuk sekadar mendapatkan beberapa foto terbaik. Kami enggan untuk mengekor menunggu jembatan menjadi kosong. Kami lebih memilih untuk melalui derasnya air sungai sembari mencoba mencicipi dinginnya air.Kami berusaha memilah dan memilih bebatuan yang nampak tak berlumut. Agar tidak terjadi sebuah insiden kemalangan. Ternyata, sungai tersebut tidak hanya menjadi sumber mata air warga sekitar namun juga menjadi arena rafting arung jeram para penggiat aktivitas petualangan.

Tidak ingin berlama-lama, kami menyudahi diri untuk segera bangkit melanjutkan perjalanan. Sudah banyak orang yang terlihat, hal ini menandakan air terjun semakin dekat. Kami percepat saja langkah kami walau letih telah memuncak. Suara air jatuh menghantam bebatuan sudah semakin jelas. Ingin rasanya segera membiarkan diri tergeletak tak berdaya terbawa air. Namun sayang, itu semua hanya impian tidak berdasar.

Aliran air/Melynda Dwi Puspita

Keberuntungan sedang tidak berpihak kepada kami, tidak ada tanda-tanda kemunculan gugusan cahaya pelangi. Tak mengapa, kami masih bisa mengamati air yang terus-menerus berguguran. Walau tak bisa menyentuhnya langsung karena terpisahkan oleh sebuah pagar bambu.

Berbagai jenis tumbuhan di sekitarnya tampak sumringah karena dialiri air yang tidak pernah surut. Riuh suara air benar-benar menyejukkan jiwa. Tak henti-hentinya bibir ini berucap syukur dan kagum atas salah satu keelokan ciptaan Tuhan. Sehingga tak ingin kami pergi meninggalkannya.

Berat rasanya raga ini untuk mengangkat kaki menjauhi air terjun. Bukan hanya karena keindahannya. Namun bayangan jalanan menanjak sejauh 1,5 km kembali harus kami lintasi.“Ayo rek, ndang mulih, maringene tak jak tuku bakso, sing terkenal enak ndek kene,” (ayo, cepat pulang, sebentar lagi aku ajak membeli bakso enak yang terkenal disini), sahut seorang teman berkerudung hijau. Membangkitkan semangat kami untuk lekas mengganjal perut.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menikmati Liburan Akhir Pekan di Pantai Sendiki