Pilihan EditorTravelog

P4S Tranggulasi: Bukan Hanya Sekedar Kelompok Tani

Tentu kita akan bertanya-tanya apa itu P4S Tranggulasi, tentang apa, dimana tempatnya, atau berbagai pertanyaan lainnya?

Saya mengenal P4S Tranggulasi berawal saat saya PKL/magang, memenuhi tuntutan mata kuliah magang. Pesan dari seorang dosen ada banyak pilihan, mau di perusahaan, atau instansi semacam kelompok tani dan saya memilih yang lebih dekat dengan masyarakat. Pelajaran menjadi mahasiswa adalah bagaimana kita mempelajari kultur masyarakat, mengamati aktivitas yang mereka lakukan, berbaur, dan ngobrol mengenai hal-hal yang mereka rasakan. Tidak melulu harus mengatakan perbaikan, yang terbaik belajar dulu dan rasakan, perbaikan dengan sendirinya akan menjadi sesuatu yang alamiah.

Tempat diskusi kelompok tani/Janika

Tranggulasi adalah nama kelompok tani, bertempat di Dusun Selongisor, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Sedangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) adalah nama tambahan, tentu bukan sembarang diberi saja. Kelompok tani Tranggulasi dipercaya sebagai pusat pelatihan pertanian dan menjadi contoh untuk desa-desa lain dengan pertanian organik yang mereka terapkan.

Dengan slogan “kembali ke alam” dan menghasilkan pangan sehat, P4S Tranggulasi bahkan pada 2011 berhasil merambah pasar internasional dengan mengekspor komoditas unggulan “buncis Prancis” ke negara tetangga Malaysia dan Singapura. Mengisi berbagai kebutuhan supermarket di Semarang dan Solo. 

Menjalin kerjasama dengan pelbagai Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), tak jarang ada akademisi melakukan kunjungan, bahkan penelitian, dan mahasiswa atau siswa yang menjalani program magang/PKL. Sama halnya saya yang sedang magang di sini, pada awal 2020 lalu.

Sejak tahun 2000-an, bertani organik telah menjadi pilihan

Pada era orde baru, saat kepemimpinan Pak Soeharto, kita mengenal Revolusi Hijau, sebuah program yang diterapkankan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Programnya cukup beragam, mulai dari perbaikan irigasi, penggunaan teknologi, penggunaan pupuk kimia, dan pestisida kimia. 

Sebelumnya, berpuluh-puluh tahun kelompok tani Tranggulasi menerapkan sistem organik, hanya menggunakan pupuk kandang dan melakukan penyiangan rutin. Setelah program Revolusi Hijau, mulai ada perbandingan dari petani yang mengadopsi pupuk dan pestisida kimia: hasilnya bagus secara fisik (menunjukkan kualitas super) dan secara kuantitas juga lebih baik dari yang organik.

Kegitan petani persipan sebelum didistribusikan/Janika

Petani Tranggulasi tentu tergiur melakukan hal serupa: menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Hasil panen yang didapatkan secara kualitas dan kuantitas baik, sesuai dengan harapan. Sistem ini berlanjut sampai beberapa tahun atau dekade setelah kebijakan Revolusi Hijau tahun 1970 an itu.

Semakin lama, masyarakat sadar bertani kimiawi menimbulkan dampak buruk, mulai dari kesehatan, tanah menjadi gersang, hama semakin resisten (tahan terhadap pestisida), dan yang paling terasa biaya produksi terlalu tinggi dan kerap tidak sesuai dengan perhitungan, rugi. 

Dari keresahan itu, sekitar tahun 20000-an kelompok tani Tranggulasi yang diketuai Pak Pitoyo Ngatimin mulai mencari alternatif lain yang lebih menguntungkan. Dicetuskanlah sistem pertanian “kembali ke alam,” bertani dengan memanfaatkan apa yang disediakan alam sekitar. Menggunakan pupuk kompos dari kotoran ternak dan sisa-sisa sayuran serta membuat pestisida nabati yang dihasilkan dari ekstrak tumbuhan-tumbuhan sekitar.

Dengan sistem pertanian organik, kelompok petani Tranggulasi mendapatkan apresiasi dan telah dua kali diundang ke Istana di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2004, diberi sebutan baru dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tranggulasi, sebagai tempat percontohan pertanian. Sampai sekarang kelompok tani Tranggulasi dikenal dengan P4S Tranggulasi.

40 hari bersama petani Tranggulasi

Dari Jogja kira-kira sekitar 2 jam perjalanan, bisa memilih lewat jalur Muntilan, atau lewat kota Magelang; yang lebih singkat tentu lewat Muntilan. Selain singkat, jalur Muntilan menyajikan view yang indah dipandang, Gunung Merbabu dan Merapi terlihat jelas, apalagi suasana pagi matahari baru terbit.  

Melakukan kegiatan bersama petani, mulai dari bercocok tanam bahkan kegiatan pengajian bersama. Kita bisa belajar langsung dengan petani cara-cara budidaya organik. Berbagai cara, bisa dengan datang ke ladang atau bahkan ke rumahnya langsung. Disuguhi teh panas dan cemilan ubi rebus, makanan khas pedesaan. Bukan hanya ilmu, perut pun ikut terhibur.

Yang juga menyenangkan yaitu pengajian rutin setiap malam Kamis. Bergiliran yang menjadi tuan rumah, dari rumah paling awal dusun sampai ujung pasti kebagian. Pemilik rumah biasanya telah bersiap-siap lebih awal, membentangkan tikar, memasak berbagai hidangan, dan membuat minuman teh panas dan kopi. Setelah pengajian selesai makanan dan minuman dihidangkan.

Hal yang paling menarik adalah kultur kumpul, bukan hanya pengajiannya saja, tapi hubungan kekeluargaan yang sangat kental. Saat-saat minum kopi dan menyantap makanan, obrolan tersaji dengan hangat di tengah udara dingin yang cukup mencekam bagi saya yang belum terbiasa dengan daerah pegunungan, tapi setelah seminggu saya cukup mampu beradaptasi.

Kumpul memang budaya yang amat kental. Tidak masalah dengan tema obrolan yang sering diperdebatkan para mahasiswa atau pejabat negara, terkadang hanya kumpul bersama. Membahas harga sayuran yang naik turun, dengan solusi yang kadang mereka sendiri tak tahu menghadapinya, tapi masyarakat desa semacam telah menganggap hidup adalah hidup. Tidak untuk kesenangan semata, tapi cara-cara mensyukurinya.

Masyarakat di sini juga ramah. Hanya lewat di depan rumah atau ladang, selalu disambut sapa “pinarak Mas!” (mampir dulu Mas). Sapaan itu serasa bahasa yang paling sering didengar, wujud rasa kekeluargaan yang amat kental. 40 hari rasanya waktu yang terlalu singkat.

Setahun kemudian aku dan seorang kawan kesana, sapaan tetap sama “pinarak Mas”, tidak hanya dengan yang kenal tapi pada semua orang yang baru ia lihat sekalipun.

Tabik.

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan kegunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan kegunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *