Pilihan EditorTravelog

Hidup Produktif bersama Perpustakaan Bung Hatta

Sejak melakoni Jurusan Ilmu Sejarah UGM, dari sinilah aku menyadari bahwa aku ini masih belajar dan belum pantas tampil di muka publik. Ada petuah dosen dan kakak tingkat sejarah bilang “mahasiswa sejarah harus memiliki bacaan kuat untuk menulis dan berdiskusi untuk mereproduksi pengetahuan.” Supaya tidak lagi terlihat bodoh, maka aku bertandang ke perpustakaan untuk beraktivitas.

Tulisanku ini bermaksud untuk menarasikan pengalaman tentang Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Sebenarnya tempat ini layak dijadikan sebagai objek wisata literasi di Bukittinggi, namun kalah saing sama objek pariwisata lainnya. Ironis sekali, manusia Indonesia kurang memprioritaskan perpustakaan sebagai objek wisata literasi yang mencerdaskan akal dan budi pekerti bangsa Indonesia.

Suatu hari ketika berlibur, aku pergi ke Perpustakaan Proklamator Bung Hatta (PPBH). Perpustakaan ini terletak di sebelah Kantor Walikota Bukittinggi, yang sama-sama berada di atas bukit. Aku berangkat ke sana saat pagi hari. Waktu pagi hari merupakan waktu efektif bagi manusia untuk beraktivitas total. Sebab para ulama berkata bahwa rezeki manusia akan datang ketika pagi hari. Aku mafhum dan selalu membiasakan bangun pagi.

Lokasi yang sejuk dan asri menjadi daya tersendiri bagi PPBH. Meskipun bangunan PPBH terhalang oleh kantor walikota, tentu tidak menyurutkan semangat pemustaka untuk beraktivitas di sana. Setiba di lokasi, aku disambut oleh patung dada Bung Hatta yang berdiri di tengah air mancur. Jangan lupa arsitektur bangunan ini apik dan kekinian.

Menurut hemat saya, warga Bukittinggi, khususnya Sumatera Barat, patut berbangga kehadiran PPBH selain figur Bung Hatta. Dengan adanya PPBH, mereka bisa menyempatkan waktu untuk membaca buku di tempat. Biar lebih enak, pengunjung bisa membuat daftar kartu anggota sebagai prasyarat meminjamkan buku. Selain itu, PPBH terbuka untuk umum, mulai untuk anggota, bukan anggota, dan rombongan.

Terus terang selama berlibur, aku merasakan perbedaan mencolok fasilitas dan situs perpustakaan antara Sumatera Barat dan Yogyakarta. Di Jogja, tempatku kuliah, situs perpustakaan tumbuh bak jamur di musim hujan. Para pecinta literasi bakal puas menikmatinya. Bahkan, beberapa kafe merupakan tempat nongkrong mahasiswa sudah tersedia koleksi buku.

Melihat realitas kesenjangan literasi, ada panggilan moralku untuk membangun perpustakaan digital, seperti Internet Archive. Tujuannya adalah supaya warga Indonesia bisa mengakses informasi tanpa kesulitan jarak dan waktu. Aku menyadari bahwa niat yang besar harus punya modal dan usaha ekstra pula. Artinya ketika membuat proyek ini, kolaborasi menjadi syarat pokok untuk mencapai tujuan.

Kembali pada bahasan pokok, setiba di perpustakaan, aku mengikuti serangkaian tata tertib yang harus dipatuhi. Pertama, aku mengisi buku tamu dan menitipkan barang bawaan ke petugas layanan kunjungan. Setelah itu, aku menelusuri jenis buku yang akan dibaca. Selama di sana, pengunjung harus menjaga kebersihan, kesopanan, dan ketenangan. 

Prasasti/Genta Ramadhan

Penamaan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta sebetulnya merujuk kepada Bung Hatta sebagai tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Sepeninggal Bung Hatta, kutipan, akhlak, dan pemikiran beliau masih langgeng sepanjang zaman. Bahkan, pemerintah berencana membangun perpustakaan kembar untuk Soekarno dan Hatta sesuai tempat kelahiran mereka. Soekarno lahir di Blitar. Hatta lahir di Bukittinggi.

Jika aku amati, memang figur Bung Hatta yang diyakini oleh masyarakat awam (hanya) dikenal sebagai sosok dwitunggal Indonesia atau sosok “pendamping” Bung Karno. Sudah menjadi rahasia umum, penamaan nama bandara Cengkareng dan jalan di Indonesia pasti ada kata “Soekarno-Hatta”. Apalagi uang seratus ribu pasti ada gambar dwitunggal Republik.

Di halaman depan, aku menyaksikan prasasti peresmian perpustakaan ini yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebetulnya, perpustakaan ini sudah dibangun pada tahun 1976 dan diresmikan oleh Bung Hatta sendiri. Namun karena jumlah pemustaka terus bertambah, maka Pemerintah Kota Bukittinggi ingin membangun gedung perpustakaan baru yang lebih luas dari sebelumnya.

Menariknya, sekarang pengunjung bisa mengakses beberapa koleksi Bung Hatta yang sudah terdigitalisasi. Jadi, aku bisa membaca buku babon beliau yang sekarang susah ditemukan. Kalau nemu di aplikasi belanja online, pasti harga buku itu mahal karena tergolong buku langka. Lumayan lah sebagai bahan menulis tentang pemikiran Bung Hatta dalam aspek apapun. Jangan lupa, siapkan buku kecil dan pulpen.

Seperti perpustakaan pada umumnya, PPBH memiliki koleksi berkala dan koleksi monograf. Koleksi berkala terdiri atas surat kabar dan majalah terbitan dalam negeri. Adapun koleksi monograf berupa buku umum, buku referensi, dan koleksi buku khusus. Koleksi buku umum boleh dipinjam dan dibawa pulang, sedangkan koleksi referensi dan buku khusus hanya boleh dibaca di tempat.

Tampak dalam/Genta Ramadhan

Kemudian, masih ada fasilitas yang dimiliki oleh PPBH, yaitu ruang baca anak, penelusuran OPAC (Online Public Acces Catalogue), musala, lahan parkir yang luas, ruang mini teater, ruang pembuatan kartu anggota, dan kantor PPBH. Di lantai satu, aku menemukan koleksi jenis batu yang ditemukan oleh para ahli geologi. 

Untuk menghilangkan rasa bosan sehabis membaca, aku berjalan santai ke ruang pembuatan anggota. Sesekali aku membaca syarat menjadi anggota pustakawan PPBH. Syaratnya mudah, Anda cukup membawa fotokopi kartu identitas (KTP/SIM/Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar) dan pas foto 3 x 4 selembar. Masa berlaku kartu anggota pustakawan selama lima tahun dan boleh mendaftar kembali.

Kesan perjalananku ke PPBH sangat mengesankan. Aku merasa dimanjakan oleh fasilitas PPBH hingga nyaris lupa balik pulang. Jadi bagi Anda yang merindukan ketenangan, perpustakaan ini solusinya. Garap tugas kuliah dan pengisi waktu luang juga bisa. Yang terpenting biasakan membaca buku karena buku adalah jendela ilmu.

Mahasiswa UGM

Mahasiswa UGM
    Artikel Terkait
    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Travelog

    Naik Batik Solo Trans dan Cerita dari Toko Podjok

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *