Pesona HutanSampah KitaTravelog

Sampahku, Tanggung Jawabku

“Sampahku, Tanggung Jawabku” adalah suatu kalimat yang terus teringat sampai hari ini. Kalimat tersebut mengingatkan saya pada tahun 2017 ketika saya dan teman-teman memiliki kesempatan untuk berlibur ke CMC (Clungup Mangrove Conservation) Tiga Warna. CMC Tiga Warna merupakan kawasan konservasi hutan mangrove yang dilindungi di Jawa Timur. Hutan Mangrove merupakan jenis hutan yang dominan berada di ekosistem pantai. 

Clungup Mangrove Conservation/Martha Yohana

Saat itu kami merupakan mahasiswa tingkat pertama yang berasal dari Bekasi dan Yogyakarta. Berkunjung ke CMC Tiga Warna merupakan ide salah satu teman saya yang bernama Ardhan, seorang mahasiswa kedokteran. Perjalanan kami menuju Malang menggunakan pesawat dan kereta. Saya dan teman saya Petris berangkat dari Bandara Halim sedangkan teman saya Ardhan dan Fariz berangkat dari stasiun Yogyakarta. Saat itu titik temu kami adalah di kota Malang. 

Tiba di kota Malang, kami beristirahat terlebih dahulu. Keesokan harinya, kami menyewa mobil untuk menuju CMC Tiga Warna. Sungguh perjalanan yang cukup panjang dari kota Malang menuju CMC Tiga Warna. Selama perjalanan kami melewati begitu banyaknya pantai yang indah dan terbuka untuk umum. Sejenak saya terdiam dan bingung di dalam mobil, mengapa untuk masuk CMC Tiga Warna harus bayar dan reservasi terlebih dahulu, padahal sepanjang pantai yang kami lewati, memiliki akses gratis untuk masuk.

Tiba di parkiran CMC Tiga Warna, ternyata kami harus berjalan kaki sekitar 15 menit untuk sampai di pos utama. Saat itu musim hujan dan jalan di sana hanya dari tanah. Jadi, kami harus melepas sandal karena tanahnya sangat licin. Sungguh liburan kami seperti petualangan, sangat seru.

Hutan Dataran Tinggi/Martha Yohana

Ketika sampai di pos, kami disambut oleh petugas disana dan sebelum masuk ada pencatatan serta pengecekan barang untuk menjaga kawasan konservasi tetap bersih dari sampah. Setelah itu diberikan selembar kertas yang berisi barang-barang apa saja yang kami bawa. Begitu juga ketika keluar akan ada pengecekan kembali, dimana jika kami meninggalkan sampah akan dikenakan denda 100 ribu rupiah. 

Sebagai anak yang tinggal di kota, peraturan ini sungguh mengejutkan dan membuat saya terpesona. Ini merupakan pembelajaran yang sangat mahal, melihat semangat para  pengelola menjaga kebersihan kawasan konservasi hutan mangrove dari sampah. Mulai dari situ, sepanjang perjalanan kami terus saling mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan, sungguh berkesan.

Saat itu kami memilih rute dari sektor Barat untuk menuju Pantai Tiga Warna, yang dimulai dari pos utama kemudian menyusuri hutan mangrove dan melewati beberapa pantai. Perjalanan pertama, kami mulai dengan menyusuri hutan mangrove bersama tour guide.

Kemudian, kami berjalan menuju Pantai Clungup. Saat itu keadaan Pantai Clungup sedang surut. Pantai Clungup ini memiliki banyak pohon mangrove. Sepanjang perjalanan, tour guide kami memberikan edukasi tentang mangrove. Tim CMC Tiga Warna juga sering memberikan edukasi kepada pelajar di daerah sekitar dan penanaman mangrove secara langsung. 

Saat sedang mengambil foto, saya melihat tour guide kami memungut sebuah sampah plastik yang sepertinya terbawa arus dari tempat lain. Jujur, saya sangat kagum dengan pengelola di kawasan konservasi ini. Terlihat sekali bahwa mereka sangat menghargai dan menyatu bersama alam untuk menjaga hutan. 

Di Pantai Clungup pun kami mengambil foto dengan pohon mangrove tertua di Pulau Jawa. Setelah menyusuri hutan mangrove dan Pantai Clungup, selanjutnya kami berjalan menuju  Pantai Gatra. Di Pantai Gatra ini diberikan fasilitas gratis untuk menggunakan kano. Di pantai ini juga terdapat warung makan, kamar mandi dan mushola. Pantai Gatra menyajikan pemandangan yang sungguh indah, serasa di Raja Ampat versi Jawa timur. 

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menyusuri hutan dataran tinggi untuk menuju Pantai Tiga Warna yang merupakan bagian dari kawasan konservasi. Menuju ke Pantai Tiga Warna, kami harus melewati Pantai Savanna. Dinamakan Pantai Savanna karena terdapat hamparan padang savana yang luas dan juga bukit-bukit yang indah. Pasir di pantai ini juga sangat putih dan lembut serta terdapat bebatuan karang di permukaan airnya. 

Pantai Savanna/Martha Yohana

Sepanjang perjalanan, tour guide kami tidak bosan-bosan mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan karena saat itu kami membawa beberapa cemilan. Berkali-kali kami terpeleset bahkan hampir jatuh ke jurang karena jalan tanah yang sangat licin dan curam. Tiada hentinya kami terus bertanya, butuh waktu berapa lama lagi untuk sampai ke Pantai Tiga Warna, karena kami yang sudah begitu letih dan kaki teman saya yang terluka karena batu karang di Pantai Savanna. 

Ternyata memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dari Pantai Savana menuju Pantai Tiga Warna. Terbayar sudah rasa penasaran saya dan teman-teman ketika sampai. Sungguh terpesona dengan keindahan dan kebersihan pantainya. Dinamakan Tiga Warna karena pantai ini memiliki 3 warna yaitu merah, hijau dan biru. Sepanjang perjalanan, setiap pantai benar-benar bebas dari sampah kecuali di Pantai Clungup. 

Sampai akhirnya terjawab semua pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya, mulai dari mengapa harus reservasi, pengecekan serta pencatatan barang dan sebagainya. Ya karena ini merupakan kawasan konservasi, serta hutan mangrove memiliki fungsi sebagai penahan abrasi, juga mempunyai fungsi lainnya yaitu sebagai rumah untuk berbagai flora dan fauna.

Pembelajaran yang saya dapat dari liburan ini adalah saya belajar untuk lebih bertanggung jawab lagi dengan sampah, karena sampah yang dibuang dengan sembarangan akan mengancam kehidupan flora dan fauna di dalamnya bahkan akan mempengaruhi mata pencaharian masyarakat sekitar dan kehidupan saya yang tinggal di kota. Bertanggung jawab dan lebih bijak lagi dalam menggunakan sampah merupakan suatu hal yang harus dimulai dari diri sendiri dan dari sekarang juga. Dimanapun kita berada dan sekecil apapun kegiatan kita, akan selalu membuat dampak. Oleh karena itu, mari jaga hutan kita dari sampah untuk bumi yang lestari.

Tinggal di Bekasi. Seorang mahasiswa yang sedang belajar untuk tenang dan peka dengan lingkungan.

Tinggal di Bekasi. Seorang mahasiswa yang sedang belajar untuk tenang dan peka dengan lingkungan.
Artikel Terkait
NusantarasaPesona Hutan

Ragam “Hasil Hutan Bukan Kayu” dari Kapuas Hulu

Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

IntervalSampah Kita

Alam Bebas Sampah sebagai Esensi Kawasan Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *