ItineraryPerjalanan LestariPilihan Editor

Plastik Kembali: Mengolah Sampah Menjadi Seni

Masalah sampah plastik adalah masalah serius yang paling susah ditangani oleh masyarakat modern. Kebutuhan akan plastik sangat tinggi, berbagai inovasi pun diciptakan untuk menggantikan plastik sekali pakai, namun tampaknya jauh dari kata selesai. Sampah plastik mulai menghantui berbagai wilayah di bumi, salah satunya Indonesia yang terkenal sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. 

Adalah Plastik Kembali, sebuah art and product studio yang memproduksi sampah plastik menjadi sebuah benda yang bernilai kembali. Dilansir dari situs web mereka, Plastik Kembali dirintis oleh pasangan suami istri Elissa Gjertson dan Daniel Schwizer yang setelah pindah ke Lombok melihat kekhawatiran tersendiri dengan banyaknya sampah plastik yang bertebaran di pantai, mengotori air laut, hingga membuat daratan terlihat jorok karena sampah plastik.  Pasangan suami istri ini begitu jatuh cinta dengan Lombok sekaligus merasa risau karena masalah plastik ini belum bisa diatasi.

Untuk membuat perubahan, mereka berinisiatif untuk mengelola sampah-sampah yang ada menjadi sesuatu yang bernilai dan artistik, maka lahirlah Plastik Kembali pada 2019. Plastik Kembali mengusung filosofi membuat barang baru dari sampah yang tak terpakai untuk berkontribusi mengurangi sampah plastik di Indonesia. Kedengarannya seperti klise, nyatanya kehadiran Plastik Kembali justru sangat menggairahkan, tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga memutar roda ekonomi lokal. 

Saya tercengang bagaimana plastik-plastik tersebut disulap menjadi karya seni yang sangat menarik. Contohnya artisan bowls dengan berbagai diameter dari 17 cm – 45 cm dari biru, merah, kuning, hingga pelangi. Bahan utamanya adalah plastik polypropylene yang 100% daur ulang. Polypropylene merupakan jenis plastik populer kedua di dunia setelah polyethylene yang umum digunakan sebagai bungkus makanan, minuman dan sebagainya.

Ada juga egg-shell bowls yang juga terbuat dari plastik polypropylene daur ulang dengan bentuk menyerupai cangkak telur. Selain mangkok, Plastik Kembali memproduksi beberapa jenis barang seperti tekstil, tali, dan rotan yang masing-masing dengan keunikan dan campuran lainnya, yang tentu saja juga mengandung plastik daur ulang. 

Plastik Kembali
Hasil kerajinan dari limbah bekas via Facebook/Plastik Kembali

Plastik Kembali semuanya memanfaatkan tenaga manusia untuk membentuk sebuah karya seni yang cantik. Plastik Kembali mempekerjakan orang-orang lokal, terutama dari Selong Belanak untuk turut serta memberdayakan sampah plastik menjadi seni. Ada beberapa tim yang dibagi untuk beberapa jenis produk barang semisal tim tali, tim  rotan, tim tekstil, dan tim silver. Mereka juga dibantu oleh Pak Azrin sebagai Project Manager dan Ibu Ida sebagai Creative Manager untuk membimbing para pengrajin.

“Pada dasarnya, tidak susah bagi Plastik Kembali untuk memulainya. Bahan bakunya mudah ditemukan di mana-mana: plastik kresek bekas. Tas kresek bekas tersebut dijadikan berbagai kerajinan tangan sederhana yang mengandung unsur seni. Plastik Kembali juga menggunakan butiran (palet) plastik bekas: tutup botol, sedotan, tutup galon air untuk dijadikan mangkuk, gantungan kunci. Sehingga biayanya tidak besar,” papar Pak Azrin.

“Hal ini bertujuan untuk menginspirasi dan memudahkan banyak orang untuk peduli pada lingkungan melakukan hal yang serupa dengan memanfaatkan plastik bekas,” tambahnya.

“Tas kresek bekas ini dikumpulkan dari berbagai tempat. Lalu, dicuci bersih dan dijemur. Setelah kering, dipotong tipis dan panjang, dipintal menjadi tali plastik atau dikombinasikan dengan tali goni bekas atau daun pandan, untuk dijadikan produk, seperti tas, karpet, keset, dan lain lain,” kata Pak Azrin.

Saya menanyakan apakah ada kemungkinan Plastik Kembali mendaur ulang sampah-sampah potensial lainnya, seperti karet atau kaca yang juga sama banyaknya dengan sampah plastik. Namun menurut Pak Azrin, belum ada rencana pengembangan limbah lainnya. Begitu pula barang-barang di luar produk seni seperti barang kebutuhan sehari-hari juga belum ada rencana dari Plastik Kembali untuk membuatnya.

Apakah Plastik Kembali akan merambah pulau-pulau lainnya seperti Lombok? Tidak tahu, tetapi Pak Azlin berharap Plastik Kembali memberi inspirasi bagi masyarakat Pulau Lombok dan Indonesia pada umumnya untuk peduli akan bahaya sampah plastik dan bergerak aktif untuk menangani dan memanfaatkannya. Sampah plastik sangat sulit hancur dan telah menjadi ancaman terhadap lingkungan dan kehidupan. 

Seni berharga dari sebuah sampah; kiranya begitulah yang bisa saya sematkan kepada Plastik Kembali. Pada 2020, mereka telah mendaur ulang sekitar 75.000 tas kresek dan 1.100 kilogram plastik HDPE dan PP dan juga melaksanakan pembersihan pantai dengan Selong Belanak Community Association (SBCA). Elissa Gjertson ingin sekali kehadiran Plastik Kembali tidak hanya sebatas euforia bisnis, namun menginspirasi masyarakat lainnya untuk berkontribusi aktif dalam meminimalisir sampah plastik. 

“Kami tergerak untuk membawa antusiasme ke masyarakat, mencari solusi, berkreasi, bekerja sama dan berkolaborasi,” pungkas Elissa. Harapannya jelas, membawa Plastik Kembali berdampak positif kepada sekitar membantu mengurangi beban bumi akibat sampah plastik.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Kampung Todo’, Hujan, dan Cerita Perjalanannya (1)

Itinerary

5 Tempat Wisata yang Wajib dikunjungi saat di Lembang

IntervalPilihan Editor

Tani Jiwo: dari Hostel ke Pemberdayaan Literasi Dieng

Itinerary

Jalan-jalan ke Curug Cipamingkis, Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Nyambu, Menuju Desa Bebas Sampah Plastik