Travelog

Petilasan di Aliran Sungai Citarum Lama

Sungai Citarum, sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Aliran airnya dibendung tiga kali untuk mengairi Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Waduk Cirata di tiga Kabupaten: Bandung Barat, Cianjur, dan Purwakarta serta Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta.

Khusus di Waduk Saguling, aliran Sungai Citarum yang dibendung berada di Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Aliran sungai itu dibelokkan menuju surge tank untuk kemudian dikeluarkan lagi di Sang Hyang Tikoro. Namun aliran Sungai Citarum yang tidak dialiri air itu tidak benar-benar kering, masih terairi dari rembesan-rembesan dan mata air-mata air di tepi Sungai Citarum. Titik-titik aliran Sungai Citarum yang dikeringkan malah menjadi memiliki pesona tersendiri, antara lain Sang Hyang Heuleut dan Cikahuripan. 

Saat penulis bersama rekan mengunjungi lokasi Sang Hyang Heuleut dan Cikahuripan beberapa waktu lalu, lokasi Sang Hyang Heuleut rupanya berada di ujung hutan, sedangkan Cikahuripan beberapa kilometer lagi, namun berbeda lokasi.

Sang Hyang Heuleut
Sang Hyang Heuleut

Sang Hyang Heuleut

Bila titik pemberangkatan dari Bandung, setelah sekitar 35 km, akan menemukan pertigaan Saguling di sebelah kiri, kemudian berbelok kiri yang berupa pasar yang hanya buka hari Senin, Rabu, dan Jumat. Beberapa kilo meter kemudian, melewati jalan beraspal, di kiri dan kanan terdapat hamparan perkebunan karet milik PT Perkebunan VIII. Usai hamparan perkebunan karet, akan melewati hutan mahoni, hutan jati, hutan pinus, dan hutan lainnya. Kehijauan daun-daunnya memanjakan mata. Setelah itu, jalan mulai berliku-liku dan menanjak, hingga tiba pula di lokasi bernama Batu Aki sebagai jalan masuk menuju Sang Hyang Heuleut. Di Batu Aki, kendaraan roda dua dan empat bisa parkir. Untuk melepas penat, ada beberapa warung yang berdiri, bisa minum kopi atau kelapa muda.

Untuk menuju Sang Hyang Heuleut, kita harus mempersiapkan mental. Lokasinya lumayan jauh, tetapi tentunya tidak sejauh menuju puncak gunung. Untuk menuju ke sana, harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah hutan. Meskipun cukup jauh, suasana bernuansa, terkadang panas, terkadang rindang, namun tegakan pepohonan dapat memanjakan dan menyegarkan mata. Mengingat untuk sampai di tujuan harus berkali-kali menuruni turunan curam, wisata ini lebih cocok untuk kalangan remaja dan dewasa.

Namun bila enggan berjalan kaki, tempat wisata yang dikelola Perhutani BKPH Rajamandala KPH Bandung Selatan bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Qurotta A’yun yang diketuai Djedjen, pengunjung dapat menggunakan jasa ojek setempat dengan tarif variatif sampai menjelang satu turunan curam. Kemudian kembali berjalan kaki sampai di tepi Sang Hyang Heuleut. Secara administratif, Sang Hyang Heuleut termasuk Desa Rajamandala Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat.

Rasanya, keringat yang keluar dan rasa lelah dapat langsung terobati saat Sang Hyang Heuleut sudah tampak di depan mata. Batu-batu sungai yang besar di tengah dan pinggir sungai menyambut, juga tebing-tebing cadas yang tinggi di kiri-kanan sungai. Di sini, ada pula warung-warung yang berdiri.

Namun untuk menuju bagian sungai yang dalam, harus meniti beberapa batu besar lagi. Tiba di bagian sungai yang dalam itu, bila pengunjung ingin berenang, pihak pengelola sudah menyediakan perlengkapan sewa seperti pakaian renang, rompi pelampung, juga ban-ban dalam.

Di sela-sela menikmati pesona keindahan Sang Hyang Heuleut, Ketua LMDH Djedjen mengajak ke satu petilasan yang jarang diketahui orang. Menurutnya, petilasan ini pernah dikunjungi oleh orang-orang dari jauh seperti dari Banten, Jakarta, Bandung, Bogor bahkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Menurut Djedjen pula, pada zaman dulu, orang tua biasa dipanggil dengan sebutan Sang Hyang atau Eyang. Ada pun Eyang-Eyang yang ada di Sang Hyang Heuleut adalah Eyang Anom (Eyang Muda) dan Eyang Tua (Eyang Sepuh). Bila sedang ‘kebetulan’, pengunjung pun bisa bertemu dengan salah satu atau kedua Eyang tersebut yang berpakaian khas zaman dahulu. 

Eyang-eyang yang ‘berada’ di petilasan itulah yang memberitahu Djedjen dan memberi dorongan agar Sang Hyang Heuleut lebih dikembangkan lagi menjadi tempat wisata. 

Djedjen juga menuturkan, wisata ini mulai dirintis 2015 akhir, kini lebih berkembang karena didukung Perum Perhutani dan Pemda Kabupaten Bandung Barat. Meskipun begitu, Djedjen mengatakan bahwa sehubungan masih COVID-19, Sang Hyang Heuleut belum dibuka untuk melayani pengunjung.

Cikahuripan
Cikahuripan

Cikahuripan

Cikahuripan tidak jauh dari Sang Hyang Heuleut, namun harus keluar lagi, naik menuju Batu Aki untuk kemudian melalui jalanan beraspal melewati hutan pinus dan mahoni serta perkampungan yang luas.

Setelah tiba di satu pertigaan, berbelok kanan karena berbelok kiri menuju Waduk Saguling. Bila di satu warung terpampang baligo Cikahuripan, berhenti, kemudian menuju jalan setapak di seberang warung. Di pinggir warung ini, ada lahan parkir yang cukup luas.

Usai melewati sepetak kebun, mulailah menyusuri aliran sungai Citarum yang kering. Untuk sampai di Cikahuripan memerlukan waktu berjalan kaki sekitar 10-20 menit. Di Cikahuripan ada green canyon yang berupa tebing cadas yang tinggi sebagai pinggir sungai. Para pengunjung bisa naik rakit. Untuk tempat swafoto pun, pemandangan yang ada sangat menunjang. Saat musim hujan, berair keruh namun saat musim kemarau berair jernih. Cikahuripan termasuk Desa Baranangsiang Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat dan berkali-kali dipakai syuting film.

Mata Air di Dasar Sungai
Mata Air di Dasar Sungai

Usai puas menikmati Green Canyon, Djedjen mengajak ke tiga mata air, yaitu Mata Air Ibu, Mata Air Bapak, dan satu mata air yang keluar dari batu cadas di dasar sungai. “Tiga mata air itu jarang diketahui orang berikut khasiat-khasiatnya. Bagi yang mempercayai dan meyakininya, bisa menemui kuncen setempat. Pada malam-malam dan bulan-bulan tertentu, orang-orang banyak yang berdatangan,” ujarnya.

Meskipun begitu, Djedjen kemudian menegaskan karena masih pandemic COVID-19, wisata ini pun belum dibuka oleh pemerintah. Jadi, para penggemar wisata alam harus bersabar dahulu. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Gandi Sugandi tinggal di Bandung, lulus FIB Sastra Indonesia Unpad tahun 2.000. Di sela-sela kesibukan bekerja sebagai karyawan Perum Perhutani KPH Bandung Selatan, menyempatkan untuk menulis cerpen dan puisi. Keluarga Seni, buku kumpulan cerpen yang telah terbit.

Gandi Sugandi tinggal di Bandung, lulus FIB Sastra Indonesia Unpad tahun 2.000. Di sela-sela kesibukan bekerja sebagai karyawan Perum Perhutani KPH Bandung Selatan, menyempatkan untuk menulis cerpen dan puisi. Keluarga Seni, buku kumpulan cerpen yang telah terbit.
    Artikel Terkait
    NusantarasaTravelog

    Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

    Travelog

    Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja

    Travelog

    Mengenang Perjuangan Kemerdekaan di Taman Tegallega

    Travelog

    Cara Terbaik Memaknai Pulang (4)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Eksistensi PLTA sebagai Destinasi Wisata