Travelog

Perjalanan dari Solo ke Wonogiri Bersama Batara Kresna

Pagi itu, gerimis melanda di kota Solo, beruntungnya bukan hujan deras yang jatuh. Bersama udara dingin yang masih menyelimuti, rasanya terlalu berat untuk bergegas pergi, apalagi ranjang kasur seakan melambai-lambai kepadaku agar tidur kembali.

Pukul lima pagi aku baru terbangun, padahal keretaku berangkat pada pukul enam. Dengan terburu-buru, aku bergegas untuk mandi. Sedangkan kakakku yang telah selesai bersiap segera bergegas pergi ke Stasiun Purwosari untuk membeli tiket kereta terlebih dahulu. Sementara aku dan bapak akan menyusulnya.

Setibanya di Stasiun Purwosari, kakak langsung menghampiriku, bapak  dengan membawa tiket di ruang tunggu, kami kira akan kehabisan tiket karena bangun kesiangan tapi ternyata tidak. Setelah itu, kami bergegas untuk check-in, dan tidak perlu melakukan rapid test ataupun hal lainnya. Petugas kereta api hanya cukup mengetes suhu badan penumpang, ia juga memastikan bahwa protokol kesehatan tetap dilaksanakan berhubung keadaan masih tidak baik-baik saja.

Tujuan kepergianku kali ini adalah Wonogiri, kota yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Hanya membutuhkan waktu tempuh dua jam perjalanan dengan menggunakan kereta api. Perjalanan kali ini, aku ditemani bapak dan kakak. Kami menempuh perjalanan menggunakan railbus Batara Kresna dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Wonogiri. Dengan Batara Kresna, kami hanya mengeluarkan biaya Rp4.000 per orang. Harga yang sangat terjangkau.

Railbus Batara Kresna hanya memiliki dua jadwal pemberangkatan dari Stasiun Purwosari, yakni pada pukul enam dan sepuluh pagi. Tiket railbus Batara Kresna hanya bisa dibeli saat hari pemberangkatan itu juga, tiga jam sebelum jadwal keberangkatan. 

Railbus Batara Kresna merupakan bus rel wisata yang cukup unik karena melaju di atas rel yang membelah Jalan Slamet Riyadi Solo, jalan utama di kota ini. Saat melalui sudut kota, railbus Batara Kresna berjalan beriringan dengan kendaraan lain dan berdampingan dengan aktivitas masyarakat. Ketika ia melintas, banyak orang yang sengaja berhenti untuk sekedar mengabadikan sang Batara, apalagi sebelum pandemi berlangsung, Batara Kresna menoreh banyak perhatian dari para pengunjung di Solo Car Free Day (CFD).

Setelah berangkat dari Stasiun Purwosari, railbus Batara Kresna berhenti di Stasiun Solo Kota yang menjadi titik pemberhentian awal. Tak hanya bisa mengawali perjalanan ke Wonogiri dari Purwosari, kita bisa memilih Stasiun Solo Kota sebagai stasiun keberangkatan.

Setelah berhenti di Stasiun Solo Kota, suasana di dalam kereta mendadak menjadi riuh, ramai, karena satu rombongan keluarga yang terdiri dari 21 orang baru saja masuk di gerbong  yang sama denganku. Hal itu menjadi sesuatu yang lumrah karena biasanya railbus ini sering digunakan sebagai sarana transportasi umum untuk outing class bagi pelajar di Soloraya. Wajar sih, harga tiketnya tidak terlalu mahal. 

Railbus Batara Kresna tidak melaju dengan cepat seperti kereta jarak jauh lainya, oleh sebab itu ketika melintasi pemandangan di balik jendela kita bisa menikmatinya. Kita bisa melihat sawah membentang di sepanjang daerah Bekonang yang mampu mengistirahatkan pikiran karena terlalu dituntut keras oleh dunia. Tak lupa, gagahnya Gunung Lawu yang menjulang tinggi mampu memberi makna bahwa sehebat apapun manusia, tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Tuhan dan alam seisinya.

Railbus Batara Kresna hanya berangkat dari lima stasiun yaitu Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Kota, Stasiun Pasar Nguter, Stasiun Sukoharjo, dan terakhir Stasiun Wonogiri. Namun biasanya, penumpang railbus Batara Kresna banyak yang mengawali pemberangkatan dari Stasiun Purwosari dan Solo Kota. Jika gerbong kereta masih sepi, kita dapat memilih tempat duduk yang kita inginkan, seperti tempat duduk samping jendela yang menjadi favorit banyak orang termasuk aku sendiri.

Di stasiun-stasiun pemberhentian selanjutnya tidak ada penumpang yang naik, railbus hanya rehat sejenak untuk sekedar mengecek kondisi mesin. Selain melaju pelan, railbus Batara Kresna juga tidak memiliki toilet. Jadi, sebelum berangkat hendaknya kita pergi ke toilet dahulu, karena di stasiun pemberhentian pun para penumpang tidak diperkenankan untuk turun.

Tak berselang lama railbus Batara Kresna akhirnya sampai di stasiun Wonogiri. Lokasi Stasiun Wonogiri ini ternyata cukup strategis, ada banyak tempat wisata di sekitarnya seperti Waduk Gajah Mungkur, Gunung Gandul, dan Pantai Nampu.

Namun, perjalanan kami harus terhenti karena bapak meminta untuk langsung pulang di hari itu juga karena cuaca yang tidak mendukung perjalanan kami. Aku dan kakak sepakat, lalu kami segera memesan tiket untuk pulang pukul delapan malam.

Melakukan perjalanan dengan railbus Batara Kresna untuk pertama kalinya sangat memberi kesan baik bagi diriku sendiri. Harga tiket yang terbilang murah, waktu tempuh yang tidak terlalu lama, hingga pemandangan yang bisa dilihat saat perjalanan dari Solo ke Wonogiri.

Tunggu ya, suatu hari nanti, aku akan kembali dan berkunjung ke tempat-tempat menarik di Wonogiri dengan sang Batara!

Seringkali hidup sebagai deras rasa, yang gemar menulis untuk mengutarakan segala rasa dan menceritakan pengalaman yang pernah ada.

Seringkali hidup sebagai deras rasa, yang gemar menulis untuk mengutarakan segala rasa dan menceritakan pengalaman yang pernah ada.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Monumen Kresek dan Kisahnya