Travelog

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan (2)

Waktu telah menunjukkan pukul dua siang ketika rombongan telah sampai di pos lima yang merupakan camp area dengan kapasitas sekitar 20-25 tenda. Pada rencana awal, tim kami akan mendirikan tenda di pos tujuh dengan pertimbangan tidak memakan waktu lama untuk sampai ke puncak. Namun dengan pertimbangan stamina yang telah terkuras serta cuaca yang mendung, tim akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di pos lima. Sehingga, waktu istirahat lebih banyak dan kami pun bisa mendapat tidur yang cukup untuk summit di keesokan harinya.

Tampak beberapa rombongan pendakian lainnya juga memutuskan untuk mendirikan tenda di pos ini. Bagi yang tidak terbiasa dengan pendakian dan suasana berkemah, di sinilah keunikan sekaligus keutamaan dari kegiatan di alam terbuka tampak. Meski berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, namun kehangatan interaksi antar sesama pendaki tetap terjalin di tengah dinginnya udara ketinggian. 

Di tengah hutan dengan segala keterbatasannya, semua golongan melebur menjadi satu tanpa ada sekat-sekat yang memisahkan. Sungguh tidak ada yang bisa disombongkan di hadapan alam. Kita hanyalah butiran kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan alam. Suasana camping benar-benar menggambarkan tidak adanya sekat yang membatasi kita antar sesama manusia, semuanya sama.

***

Alarm smartphone membangunkan kami dari tidur lelap di dalam tenda ketika waktu telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Pertanda sudah saatnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Suasana masih gelap gulita ketika kami telah memulai summit untuk mencapai puncak Slamet. 

Berbekal alat penerangan, kami kembali menyusuri jalur pendakian dengan ditemani suhu dingin yang membuat tubuh menggigil. Jelas kemampuan untuk mengontrol suhu tubuh agar tetap terjaga sangat dibutuhkan di kondisi ini. Ketika merasa lelah, sesekali kita harus singgah beristirahat, mengatur nafas serta irama jantung dan paru-paru. Namun di sisi lain, dinginnya udara juga menjadi tantangan untuk tidak berhenti terlalu lama agar tidak terkena hipotermia.

Vegetasi Rapat
Vegetasi yang rapat/Ammar Mahir Hilmi

Tidak jauh berbeda dengan jalur sebelum camp area, kondisi jalur selanjutnya masih didominasi oleh vegetasi yang rendah dan rapat. Kencangnya angin kian terasa seiring dengan semakin berkurangnya pepohonan yang menandakan jalur sebentar lagi akan memasuki batas vegetasi. Perlahan cahaya jingga pun mulai tampak dari ufuk timur ketika tim telah memasuki area pelawangan atau yang bermakna perbatasan. 

Sesuai namanya, area ini merupakan batas vegetasi dimana tumbuhan tidak ditemukan lagi dan kondisi jalur berganti menjadi bebatuan dan kerikil. Kewaspadaan harus ditingkatkan ketika memasuki area ini. Selain memperhatikan pijakan pada trek yang didominasi batuan dan kerikil, kita juga harus senantiasa waspada pada bebatuan yang bisa saja meluncur dari arah depan tanpa kita duga.

Sinar mentari pagi perlahan memberi kehangatan ketika kami telah melewati setengah perjalanan dari trek berbatu dan berkerikil ini. Sesekali kami terdiam sejenak, beristirahat sembari memandangi indahnya pemandangan dan sejuknya udara pagi pegunungan. Suasana yang membuat kita candu akan pendakian, yang membuat kita tiada hentinya untuk kembali mendaki gunung lagi dan lagi. 

Puncak Gunung Slamet
Puncak Gunung Slamet/Ammar Mahir Hilmi

Langkah demi langkah tidak terasa semakin mendekatkan kami pada puncak Gunung Slamet. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan dari camp area berjuang melewati trek berkerikil yang sangat menguras tenaga, kami akhirnya sampai di puncak Gunung Slamet pada ketinggian 3428 meter di atas permukaan laut.

Angin kencang dan kabut tipis yang sempat menyelimuti puncak perlahan menghilang sehingga membuat kita dapat menyaksikan pemandangan dari puncak Gunung Slamet. “Sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang hendak engkau dustakan,” merupakan kalimat yang sering saya ucapkan dalam hati setiap kali berhasil meraih puncak dan melihat pemandangan yang indah di bawah. 

Dinamai Gunung Slamet karena penduduk setempat percaya bahwa gunung merupakan bagian dari bumi yang membawa keselamatan sehingga kelestarian flora dan fauna di dalamnya harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dengan merawat kelestarian alam di sekitarnya, Gunung Slamet pun juga akan memberikan keselamatan pagi penduduk yang bermukim di sekitarnya.

Mengingat batas aman berada di puncak maksimal pukul sembilan pagi, maka beres mendokumentasikan perjalanan di puncak, kami pun akhirnya memutuskan turun untuk kemudian selanjutnya bersiap-siap pulang kembali ke rumah. Sungguh kegiatan pendakian gunung yang akan selalu memberi kesan dan cerita tersendiri di balik peristiwanya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Senang membaca, berdiskusi, menulis, memotret, dan berkelana mengunjungi tempat-tempat baru.

Sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Senang membaca, berdiskusi, menulis, memotret, dan berkelana mengunjungi tempat-tempat baru.
Artikel Terkait
Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Travelog

Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

Travelog

Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

NusantarasaTravelog

Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Pendakian Pertama Ke Gunung Merapi