Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Pada Suatu Senja di Bandara Internasional Minangkabau

Waktu santai saya terganggu kala tiba-tiba salah satu kerabat meminta saya untuk menemani mereka ke bandara pada suatu sore selepas Ashar. Ia meminta saya menjemput anggota keluarga dekat mereka. Kerabat ini baru saja kehilangan anggota keluarga. Lazimnya sebuah keluarga yang berkumpul kala duka datang, maka yang merantau pun terpaksa melakukan perjalanan pulang membawa kesedihan tak terelak.

Saya tak akan membahas tentang duka bagaimana rasanya ditinggalkan. Tentu ada ragam air mata yang sulit terlukiskan dan sesak yang tak terbantahkan. Apalagi sepanjang tahun 2020 mental kita diuji dengan ragam cerita kesedihan dari dampak virus COVID-19.

Ditinggalkan tanpa pernah kembali dan tersisa adalah untaian doa yang menjadi penguat kaki ini untuk terus melangkah. Berbicara tentang rasa kehilangan akibat ditinggalkan oleh mereka yang tak akan bisa kembali ke dunia ini adalah topik yang selalu saya hindari. Bagaimanapun kesedihan adalah hal yang pasti.

Kerap melakukan perjalanan udara selama sepuluh tahun belakangan ini, bukanlah sesuatu yang istimewa bagi saya. Namun, di dunia ini ada bagian orang-orang yang hadir dengan cerita belum tersentuh atas nama bandara. Salah satunya adalah kerabat saya ini.

Di tengah kesedihan yang sedang menghampiri keluarga ini, ada kesenangan tersendiri saat untuk pertama kalinya memencet mesin ticketing parkir kala memasuki area bandara. Untuk pertama kali keluarga tersebut mengetahui kertas ticketing yang perlu dijaga dengan baik agar prosedur perjalanan keluar bandara bisa lancar. Saya berusaha mengabaikan ego pamer, berusaha mengikuti ritme kegembiraan mereka di tengah tubuh kondisi fisik yang masih lunglai akibat berita duka tersebut.

Saya terbawa euforia pertama kali melihat Bandara Internasional Minangkabau. Mengikuti suasana keluarga ini yang terlihat gembira meskipun sebenarnya air mata dan sesak itu belum reda. Saya mengarahkan mereka ke pintu kedatangan internasional yang tampak sepi dan gelap. Saya berpikir positif soal suasana COVID-19 yang belum reda dan jadwal penerbangan masih lengang. Lampu akan hidup nanti pas pesawat landing

Bandara mulai tampak ramai yang setidaknya mengingatkan saya pada perjalanan kala di waktu subuh yang kerap saya lakukan beberapa tahun lalu saat menjadi mahasiswa rantau di ibukota. Saya mengarahkan keluarga ini pada suatu warung roti di bandara seraya menunggu pesawat landing sebentar lagi.

Sejenak saya terdiam, pada orang-orang yang berbaur di depan pintu kedatangan domestik. Menanti seseorang yang mereka jemput. Saya tersadar pada kebodohan saya setelah sekian lama tidak menghampiri bandara. Saya lupa penerbangan dari Medan masih masuk kawasan domestik dan dua tahun belakangan. Sebelum corona memang saya kerap keluar dari pintu kedatangan internasional karena penerbangan dari Kuala Lumpur. Saya lupa bahwa ada namanya pembagian terdiri dari area kedatangan antara domestik dan internasional.

Kedatangan International/Eka Herlina

Sore mulai beranjak berganti dengan suasana senja nan syahdu selepas hujan. Pesawat keluarga kerabat mengalami keterlambatan mendarat. Dari info flight radar pesawat masih berputar di atas menunggu informasi agar bisa mendarat dengan aman. Salah satu dari mereka yang tadinya bisa tersenyum mengabadikan diri berfoto di depan pintu kedatangan internasional tampak gelisah duduk di salah satu kursi di warung roti yang terdapat di bandara. Senyumnya sudah memudar dan lebih banyak melamun penuh kegelisahan. Lupa sejenak pada euforia pertama kali ke bandara.

“Aku tidak pernah naik pesawat,” ucapnya beberapa waktu lalu saat di parkiran mobil sebelum melangkah ke pelataran Bandara Internasional Minangkabau.

“Insya Allah suatu hari kelak ada rejeki. Ada masanya,” balas saya dengan perasaan berkecamuk. Rasanya sulit untuk bercerita membagi pengalaman terbang saya selama dua belas tahun belakangan ini saat situasi beliau sedang kehilangan anggota keluarga.

Penghujung senja dan rasa rindu yang bergejolak

Senja dan bandara serta selepas hujan adalah rangkaian kerinduan akan sebuah perjalanan yang dulu kerap saya lakukan. Saya tak bisa menyembunyikan rasa buncah saat mendengar suara dari mikrofon khas bandara tentang informasi penerbangan “Attention, please…” sudut mata saya berair.

Rindu turun dari pesawat menelusuri garbarata dan melenggang keluar kala menjelang maghrib dengan menyandang ransel. Saya kangen masa kala melewati usia 20-an awal kala ketakutan dan kekhawatiran tak terpikirkan—entahlah, makin beranjak dewasa diri ini penuh kekhawatiran tak berarti. 

Sejujurnya saya takut naik pesawat. Saya masih mengalami ketakutan kala take off dan landing. Masih memejamkan mata kala melewati rangkaian tersebut. Dan, tentu saja saat merasakan turbulensi. Maka mulut dan hati saya sibuk berdoa; “Allah, Eka masih ingin melihat wajah Ama (Ibu).” Di atas pesawatlah saya tersadar pada sikap tidak menyenangkan saya pada ibu saya yang kerap membantah ucapan beliau.

Biasanya kala terbang saya lebih memilih perjalanan di waktu subuh agar bisa tidur dengan baik di pesawat dan dapat mengabaikan rasa takut sejenak akibat ngantuk. Dan, sebelum terbang saya biasanya terjaga sepanjang malam dengan gelisah. 

Saya rindu. Batin saya seraya menggigit bibir lembut. Melempar pandangan ke suasana bandara dengan cahaya redup dan langit yang mulai gelap. Corona benar -benar menguji saya untuk sejenak istirahat dari perjalanan ini. Memberi waktu dalam perenungan kembali tentang langkah ini. Tentang memasuki garis batas, bahwa hidup tak selamanya tentang perjalananan di luar sana.

Ruang bandara/Eka Herlina

Termasuk belajar memahami situasi kala mereka yang jarang keluar dan kerap berada di ruang lingkup sosial kecil dengan sikap santai buang sampah begitu saja adalah hal yang lumrah. Saya cuma terpaku saat melihat orangtua yang katakanlah berasal dari daerah pelosok yang makan roti di tempat kedai tersebut, sampah pembungkusnya di buang ke lantai begitu saja.

Ah, andaikan anak muda, sudah gatal mulut ini negur.” Orang tua yang tak memiliki kesempatan pendidikan dan waktu mengukir pengalaman mengasah sisi humanis tak bisa disalahkan begitu saja—tugas kita lah yang memberitahu dengan baik perihal sampah harus berlabuh dimana.  

Setahun sudah COVID-19 hadir dalam kehidupan ini. Suasana bandara di tengah penerbangan yang mulai perlahan kembali normal namun menghadirkan prosedur yang cukup merepotkan tentunya. Tentang protokol kesehatan yang harus dipatuhkan. Namun, kita lupa tidak semua dari orang-orang yang melakukan perjalanan di tengah COVID-19 adalah mereka dari kalangan yang mengikuti perkembangan informasi. Beberapa pejalan yang sudah menahan rindu dan melangkah tak sabaran keluar pintu domestik untuk menemui anggota keluarga secepatnya tertahan demi mengisi aplikasi yang tidak saya ketahui. Hal ini terlihat dari tangkapan kamera CCTV yang disiarkan oleh pihak bandara.

Bandara dan senja masih menyisakan cerita rindu yang tak terbantahkan. Pada syahdunya cerita perjalanan yang kerap membuat diri ini menemui hal-hal yang menakjubkan. Dan, bandara masih saja menghadirkan ragam cerita, termasuk dari anggota termuda keluarga kerabat ini. Antusias di tengah duka yang menyelimuti untuk pertama kalinya bisa merasakan naik pesawat. “Umi apakah adik lagi mimpi?” Celetuk bocah empat tahun. 

Biasa dikenal dengan Ekahei. Penikmat cerita, pengemar transportasi kereta api dan penyuka makan nasi Padang yang memutuskan untuk jadi masyarakat Padang.

Biasa dikenal dengan Ekahei. Penikmat cerita, pengemar transportasi kereta api dan penyuka makan nasi Padang yang memutuskan untuk jadi masyarakat Padang.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Bicara Corona di Arefi Timur