Events

“Open Air Cinema” JAFF 2017, Nonton Layar Tancap Terkurasi di Tebing Breksi

Layar tancap sudah jadi artefak. Produk masa lalu. Dipikir-pikir, memang sudah tak ada lagi alasan keberadaannya. Bioskop canggih namun terjangkau sudah menjamur. Kalau mau nakal sedikit, sebentar saja setelah satu film dirilis, link-nya akan bertebaran di jagad maya, menunggu untuk diunduh. Sekarang layar lebar—atau pesawat televisi—sudah tak terlalu dibutuhkan. Untuk memutar film, ponsel pintar saja sudah lebih dari cukup.

Maka ketika mendengar bahwa Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017 akan mengadakan “Open Air Cinema” di beberapa tempat di DIY sebagai rangkaian kegiatan pra-acara, saya langsung tertarik. Menonton layar tancap di era internet seperti sekarang adalah kesempatan langka. Barangkali sama langkanya dengan melihat seekor harimau sumatera di habitatnya.

Open Air Cinema JAFF 2017

Tebing Breksi di malam hari/Fuji Adriza

Setelah mencocokkan jadwal, pilihan saya dan Nyonya akhirnya jatuh kepada gelaran Open Air Cinema tanggal 26 November 2017 di Tebing Breksi, Prambanan. Empat film yang akan diputar, yakni tiga film pendek yang bujetnya dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY 2017 dan satu film dari Falcon Pictures.

Sudah menetapkan hati, hujan yang mengguyur Yogyakarta seharian Minggu kemarin tak berdaya membendung niat kami berdua untuk nonton layar tancap di Tebing Breksi. Sekadar dingin dan hujan tak akan mampu menghalangi kami untuk menambah koleksi pengalaman. Lagian, buat apa ada mantel hujan?

Menonton layar tancap terkurasi ala “Open Air Cinema” JAFF 2017

Waktu kecil dulu, tahun ’90-an, barangkali saya pernah beberapa kali menonton layar tancap di tanah lapang dekat rumah. Bagi saya dan teman-teman yang tinggal di Solok, kota kecil di pelosok Sumatera Barat, layar tancap adalah sebuah dunia baru yang begitu berbeda dibanding dunia yang disuguhkan oleh televisi hitam putih—meskipun misbar alias (kalau) gerimis bubar.

Maka bagi saya Open Air Cinema JAFF 2017 adalah ajang nostalgia. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa “layar tancap” JAFF 2017 jauh berbeda dari layar tancap “merakyat” yang dulu ditunggu-tunggu bocah-bocah pedalaman Indonesia.

Open Air Cinema JAFF 2017

Layar tancap di amfiteater/Fuji Adriza

Dulu, suara film keluar dari TOA parau di atap mobil Departemen Penerangan. Di Open Air Cinema JAFF 2017, suara dari film diteruskan lewat beberapa ampli canggih yang sama sekali tak ada bunyi “kresek-kreseknya.” Kuratornya pun bukan lagi dari Departemen Penerangan, melainkan profesional-profesional bidang perfilman yang—barangkali—tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan politik.

Ketika kami tiba di Tebing Breksi, sebuah layar putih besar sudah ditancapkan di tengah-tengah amfiteater. Hanya beberapa orang yang duduk di jejeran bangku setengah lingkaran amfiteater itu. Di kejauhan, lampu kota berkelap-kelip. (Tebing Breksi memang terletak lumayan tinggi.) Pesawat tak henti-henti lalu-lalang di udara.

Untuk menyambut penonton, panitia menyediakan dua jumbo yang masing-masing berisi kopi dan teh hangat. Hadir pula beberapa jenis jajanan pasar seperti pisang goreng, telo (singkong) goreng, tape goreng, dan kerupuk bayam. Dengan minuman hangat dan camilan di tangan, kami duduk tertib menunggu film mulai dimainkan.

Serius dulu baru bercanda

Tiga film pendek lokal menjadi pembuka dari film utama persembahan Falcon Pictures, “My Stupid Boss.” Yang disajikan pertama adalah “Dluwang: The Past from The Trash” karya sutradara Agni Tirta yang masuk dalam nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2017. “Dluwang” mengangkat kisah yang tidak umum, yakni tentang seorang penjual buku dan arsip antik.

Suguhan kedua adalah film fiksi pendek berjudul “Munggah Kaji” produksi Megatruh Project. Film yang disutradarai oleh Rivandy Adi Kuswara ini mengisahkan hari-hari terakhir sebelum seorang perempuan tua dari kaki Merapi berangkat haji ke Tanah Suci.

Film pendek ketiga yang berjudul “Incang-Inceng” bergenre komedi. Mengangkat isu keberagaman, dialog-dialog dan penggalan gambar film ini berhasil membuat para penonton terpingkal-pingkal. Kelik Sri Nugroho, sutradaranya, memang sengaja membuat film ini supaya orang-orang “nggak spaneng” menghadapi kenyataan yang sedang terjadi.

Open Air CInema JAFF 2017

Pembawa acara “Open Air Cinema” JAFF 2017/Fuji Adriza

Tren Open Air Cinema 2017 Minggu kemarin adalah serius dulu baru bercanda. Setelah ketiga film pendek itu diputar dan sesi Q&A digelar—serta tiga pertunjukan tari tradisional dan kontemporer dari Sanggar Tebing Breksi—“My Stupid Boss” yang bergenre komedi muncul di layar.

Sebagian orang beranjak pulang (barangkali yang sudah menonton film ini di bioskop), namun masih banyak yang tetap bertahan di bangku Amfiteater Tlatar Seneng Tebing Breksi untuk menyaksikan Open Air Cinema JAFF 2017 sampai akhir.

Kami berdua pun sebenarnya sudah pernah menonton film ini. Dua-tiga kali malah. Namun, jauh-jauh ke Tebing Breksi untuk menonton Open Air Cinema JAFF 2017, sebenarnya yang kami cari bukan filmnya, melainkan suasananya. Jarang-jarang kami bisa nonton layar tancap di salah satu destinasi romantis di Yogyakarta, sambil menyaksikan lampu kota yang berpendar-pendar di kejauhan, dan sambil kedinginan ketika halimun tiba-tiba datang menyelimut tanpa diundang seolah-olah muntab sebab tak diundang menonton pertunjukan layar tancap.

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.

Avatar

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
Artikel Terkait
Events

Talkshow: Peran Perempuan dalam Pengembangan Pariwisata di Indonesia

Events

Diskusi Daring "Membingkai Mooi Indie: Tamasya di Hindia Belanda"

#dirumahajaEvents

Ngobrol soal "Peduli Pekerja Pariwisata" bareng Jonathan Thamrin

Events

Menonton "Kutu/Kota" di Jagongan Wagen Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *