Fragmen kawah Gunung Sindoro menjelma telaga dalam tulisan Puing-Puing Rindu di Gunung Sindoro via Bansari (31/8/2026), membuka ingatan saya saat mendaki via Kledung tahun 2002.
Libur caturwulan SMA (bukan semester seperti sekarang), kerap saya pakai untuk bertualang ke gunung-gunung di Pulau Jawa. Sohib seperjalanan, siapa lagi kalau bukan Yanganto. Bareng dia juga saya perdana menginjak dataran tinggi Dieng akhir tahun lalu. Ceritanya tersaji dalam Cirebon-Dieng: Perayaan 25 tahun Persahabatan (25/12/2025).
Saya pun ke kamar, mencari album foto pendakian Sindoro milik Yanganto. Ketemu! Foto ukuran 3R itu hasil jepretan kamera analog Fuji MDL5. Masih bagus. Tidak berjamur. Perlahan, momen perjalanan 24 tahun silam seliweran di kepala.
Dari Cirebon, kami naik bus jurusan Purwokerto. Lanjut bus Wonosobo–Temanggung. Pukul delapan malam, kami turun di pinggir jalan antara base camp (BC) Gunung Sumbing via Garung dan Gunung Sindoro via Kledung. Tak perlu menyeberang kalau mau ke BC Kledung.
Zaman itu BC gunung-gunung di Pulau Jawa memanfaatkan rumah penduduk. Pun BC Kledung. Ketika memesan makan malam, saya menengok dapur yang menggunakan kayu bakar untuk memasak. Udara dingin seketika pergi, saat mendekati api. Tuan rumah ramah. Bikin tamu betah. Begitulah suasana hangat yang kami rasakan.


Langsung Mendaki
Beres isi perut, saya dan Yanganto menuju setapak pendakian. Kebiasaan kami bermalam di tengah jalur. Tidak ada target buka tenda di pos berapa. Sekuatnya saja. Setidaknya sudah mencicil langkah. Esok paginya tinggal meneruskan.
Tapi itu dulu. Menginjak usia lebih dari 40 tahun sekarang, setelah menempuh perjalanan jauh dari kota asal, kami bakal menginap di BC. Baru selepas sarapan, memulai pendakian. Seperti saat Menapaki Akar Cinta di Gunung Prau via Dwarawati (15/12/2025).
Seingat saya, tidak ada pendaki lain. Sindoro milik dua pelajar putih abu-abu. Trek melintasi ladang penduduk. Sejam perjalanan, kami menggelar tenda di tanah datar sebelah gubuk petani.
Paginya, pendakian berlanjut. Target langsung ke puncak. Perbekalan dalam carrier, kami gendong sampai atas. Masa itu lazim pendaki bawa carrier ke puncak. Baru belakangan, saya berani meninggalkan carrier di tenda di area kemah terakhir. Muncak cukup bawa daypack saja.
Trek kian terjal menuju Pos 4. Beberapa batu besar di sisi jalur menggoda untuk dipanjat. Yanganto menjajalnya. Dia memakai pakaian khas montir (wearpack), dan sepatu yang biasa dipakai upacara di sekolah tiap Senin. Kami belum mengenal sepatu gunung. Apalagi sepatu trail run. Belum beredar di Indonesia saat itu.
Saya mengenakan celana pendek plus gaiter, dan sandal gunung. Carrier kami merek lokal: Leuser 60 liter dengan cover bag kuning. Ransel produksi luar negeri masih terbatas, karena harganya selangit. Sementara jenama lokal kualitas jempolan, biasa disandang kakak-kakak Mapala.


Sampai Puncak
Tengah hari, kami sampai di puncak Sindoro (3.153 mdpl). Ya, benar, tak ada siapa pun. Hening. Dingin. Langit berawan. Bergantian, saya dan Yanganto berpose. Latarnya dataran puncak, dan dinding kaldera nan hijau. Sementara dasar kawah terisi genangan air, yang dari atas terlihat berwarna hijau tua.
Area puncak rimbun cantigi dan edelweis. Ada setapak untuk ke dasar kawah. Jalurnya jelas, tidak tertutupi semak. Kami penasaran, lantas melangkah ke sana. Saya deg-degan, turun ke kawah sebuah gunung. Apalagi jaraknya lumayan dari bibir kawah. Saya khawatir, pas di bawah tiba-tiba kabut tebal mengurung, dan jejak setapak ke atas “menghilang”.
Waktu itu cuaca cerah. Bebas mendung. Tak ada angin atau kabut. Bismillah… kami mantap turun. Jaraknya tidak sampai seratus meter, namun curam. Harus hati-hati berpijak. Jangan sampai tergelincir, bisa nyemplung ke danau.
Tiba di pinggiran danau, saya dan Yanganto bergantian membasuh muka. Segar, menyejukkan. Kami tidak berani meminumnya. Takut tercampur belerang atau zat yang tidak kami ketahui. Setidaknya kalau hanya cuci tangan dan wajah, lalu membasahi rambut biar adem, masih aman.
Beres membidikkan lensa kodak Fuji MDL5 ke beberapa sudut, kami bergegas kembali ke puncak. Syukurlah, semua baik-baik saja. Tiba di atas, muncul pendaki lain. Sekitar tiga orang. Zaman itu jarang terdengar pendakian massal. Kalau pun ada woro-woro nanjak bareng, biasanya acara Operasi Bersih Gunung (OBG). Saya pernah mengikutinya di Ciremai.
Apalagi pakai fasilitas open trip (OT), belum ada. Para pendaki, semisal saya, mengandalkan informasi sebuah gunung yang akan dituju dari kenalan mahasiswa pencinta alam (Mapala) kampus lokal. Sebelum ke Sindoro, saya sambangi sekretariat Mapala Gunati di Jalan Pemuda Kota Cirebon. Pernah pula ke Posko Mahapeka STAIN Cirebon (UIN Syber).




Potret area puncak Gunung Sindoro hampir seperempat abad silam/Mochamad Rona Anggie
Hujan Menyergap
Menjelang sore, saya dan Yanganto turun dari puncak. Hujan deras membuat kami buka tenda di Pos 3. Beruntung bawa tenda dome kapasitas dua orang, yang dipinjami pemilik Diaku Outdoor Cirebon, Yan “Hobo” Hendriyanto, yang seorang anggota Wanadri angkatan Elang Rawa (1996).
“Saya kasih dome, tapi nanti minta peta trek Sindoro-Sumbing, ya!” pesannya.
Hujan tak jua mereda. Mental saya jatuh! Mungkin, karena kelelahan muncak, dan terbayang besok harus lanjut mendaki Sumbing. “Kalau kita enggak jadi naik Sumbing, gimana? Mampir ke BC-nya saja!”
Yanganto protes, kenapa saya tiba-tiba berubah pikiran. “Saya ingat rumah, ingin cepat pulang!” Suasana terasa dingin di dalam tenda. Air langit setia mengguyur. Kami tak saling berbincang lagi. Terdiam.


Mampir BC Garung-Sumbing
Hampir pukul lima sore, ketika hujan berhenti. Secepatnya kami packing, lanjut turun ke BC Kledung. Beres melapor dan pamit dengan pemilik rumah nan baik hati, malam itu juga kami menyeberangi jalan raya Wonosobo–Temanggung, terus ke BC Gunung Sumbing via Desa Garung.
Kami makan malam dengan menu mi goreng dan ikan asin. Memasaknya pakai kompor gas “kupu-kupu”, yang rentan bocor selangnya. Terbukti, setelah dari Sindoro-Sumbing, kompor tersebut pensiun.
Saya dan Yanganto masih marahan. Lucu juga kalau ingat momen itu: dua sahabat “perang dingin”, karena salah satunya mengubah target perjalanan. Saya yang salah!
Paginya, suasana perdesaan di kaki gunung dengan hamparan ladang tembakau, membuat hubungan kami mencair. Saling sapa dan mengobrol lagi. Yanganto berbesar hati, melupakan dinamika yang terjadi.
Masa itu, ojek gunung Sumbing yang fenomenal, belum ada. Pendaki tektok masih di rahim ibu. Atlet trail run tak terlihat. Yang ada pendaki gendong carrier “kulkas” berambut gondrong, pakai jaket ala tentara, dengan sepatu sol bergerigi. Sepatu “ringan” warna-warni belum rilis.
Tentu saja, zaman berubah. Kini, perlengkapan outdoor berlabel ultralight bermunculan. Porter menjamur. Ojek gunung siap sedia menghemat tenaga dan waktu perjalanan pengunjung.
Baru di tahun 2005, saya muncak Sumbing via Garung. Sementara Yanganto akhir Maret 2026, sukses menjejak puncak Rajawali (3.371 mdpl) via Banaran. Persahabatan kami langgeng hingga sekarang. Terakhir nanjak bareng ke Gunung Burangrang bareng anak-anak saya. Alhamdulillah…
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


