TRAVELOG

Puing-Puing Rindu di Gunung Sindoro via Bansari

Jalur pendakian Gunung Sindoro via Bansari seperti lazimnya jalur-jalur resmi lain yang tersedia untuk menggapai puncak setinggi 3.153 mdpl itu. Sebut saja Kledung, Alang-alang Sewu, dan Watulunyu di perbatasan Temanggung–Wonosobo, yang paling populer saat ini karena kemudahan aksesnya. Lalu ada juga Bedakah, Ndoro Arum, dan Sigedang. Namun, Jumat malam (10/7/2026) kala itu, saya mendapati kenyataan bahwa jalur Bansari punya keistimewaannya sendiri. 

Lengang, tak banyak lalu-lalang orang. Suasana ‘ganjil’ ini menyambut saya, Ammar, dan Evelyne setibanya di Base Camp (BC) Komunitas Peduli Alam Sindoro (KOMPAS) Bansari. Padahal fenomena Jumat malam adalah ketika para pendaki (terutama tektok) akan menyemut di BC-BC pendakian—terutama gunung-gunung masyhur di Jawa Tengah, macam Prau, Merbabu, Lawu. Mereka menahan kantuk dan dingin demi menanti start pendakian tengah malam. Oleh karena itu, kesunyian BC Bansari di akhir pekan seolah anomali dibanding jalur lainnya di Gunung Sindoro.

Sekretariat BC KOMPAS Bansari menginduk di bawah lapangan sepak bola dan kantor Balai Desa Bansari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung. Bisa dibilang, base camp yang berdempetan dengan ruang aktivitas karang taruna ini serupa basement, hanya saja aksesnya lebih terbuka dan mudah. Kami bertiga akan mendaki Gunung Sindoro keesokan paginya, tetapi menyengaja untuk transit dan rehat semalam di BC agar tubuh bugar.

Bertukar cerita dan kesan tentang dunia pendakian gunung di Base Camp KOMPAS Bansari, Temanggung (Rifqy Faiza Rahman)
Bertukar cerita dan kesan tentang dunia pendakian gunung di Base Camp KOMPAS Bansari, Temanggung. Tampak Pak Gondes dan Pak Urip (tengah, duduk bersebelahan) menemani obrolan malam itu/Rifqy Faiza Rahman

Kehangatan yang dirindukan

Hanya kami satu-satunya rombongan pendaki umum malam itu. Tidak ada tim lain lagi yang naik. Berdasarkan informasi, di saat bersamaan, sedang ada ajang trail run Sindoro Sumbing International Race. Peserta kategori 25K dan 50K akan lewat jalur Bansari sekitar Minggu dini hari atau subuh. Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar, sekitar 10 anggota BC KOMPAS Bansari akan ikut naik bersama kami. Mereka berencana membuka camp di Pos 3 Tunggangan, Shelter Ojek, Pos 5 Mlelan, Rejo Tunggal, dan Pos 6 Centhong (checkpoint).

Monggo, Mas. Pinarak dulu,” sapa seorang pria paruh baya yang akrab dipanggil Pak Gondes. Salah satu pendiri dan pengurus angkatan pertama KOMPAS Bansari. Senior seangkatan lainnya juga hadir, antara lain Pak Urip Jampong, pria kurus berkumis tebal yang murah senyum. 

Pak Gondes menawari kami dua jenis minuman: teh atau kopi panas. Saya dan Ammar kompak memilih kopi, sementara Evelyne dan Pak Wanto, sopir pribadinya, memilih teh. 

Banyak jajanan dan buah pisang yang melengkapi minuman yang tersaji. Katanya, sisa-sisa suguhan dari kegiatan tasyakuran dua hari sebelumnya, tepatnya Rabu (8/7/2026). Saat itu, KOMPAS Bansari baru saja merayakan ulang tahun ke-25 sejak didirikan pada 2001. Sudah seperempat abad.

Di antara orang-orang yang ikut srawung malam itu di Base Camp (BC) KOMPAS Bansari, perawakan Pak Gondes memang paling mencolok. Kepala plontos dan jenggot putih lebatnya mengingatkan saya pada karakter Master Roshi, guru Goku di serial manga dan anime Dragon Ball. Selain menonjol secara fisik, ia juga menjadi pusat cerita. Kecintaannya pada gunung, serta kepedulian untuk menjaga keutuhan ekosistem Sindoro, berusaha ia tularkan kepada generasi-generasi penerus. Tentu saja, kisah-kisah mistis ikut mengisi frekuensi pembicaraan.

Tak disangka, sepetak “rubanah” di lantai terbawah kantor Balai Desa Bansari itu memancarkan kehangatan khas base camp pendakian tradisional, seperti belasan bahkan puluhan tahun lalu. Sebelum masifnya media sosial dan popularitas maya mulai memenuhi kehidupan kita. Ketika sebuah BC bukan sekadar tempat lalu-lalang registrasi semata, melainkan juga ruang silaturahmi yang mempererat tali persaudaraan, yang hangat dan akrab meski tak sedarah. Tidak ada sekat, setiap orang lintas generasi saling bertukar kisah dan rasa tanpa canggung.

Kebun tembakau menghiasi jalur di awal pendakian menuju Pos 1 Sidempul (kiri). Pak Tajik, petani kopi arabika Bansari, sedang mengecek kebunnya di tepi jalur pendakian, dengan ketinggian sekitar 1.660 mdpl/Rifqy Faiza Rahman

Mencurahkan segala daya dan upaya menuju Pos 5 Mlelan

Kami memulai perjalanan hari pertama, Sabtu (11/7/2026), pada pukul 08.45, setelah membayar biaya registrasi pendakian Rp25.000 per orang kepada Pak Gondes. Ia memberi kami berlembar-lembar karcis retribusi, serta peta sederhana jalur pendakian. Darinya pula kami membawa bekal nasi bungkus yang kami pesan semalam sebelumnya. Menunya juga sederhana, tapi mengenyangkan: nasi, sayur kacang koro, dan ayam goreng. Menu yang sama untuk sarapan pagi ini.

Untuk menghemat waktu, kami sepakat naik ojek mendekati Pos 1 Sidempul. Estimasi perjalanan sekitar 15 menit. Biayanya Rp30.000 per orang, jarak tempuh sekitar 3,5 kilometer dengan kontur menanjak, ruas jalan berupa cor beton dan makadam. Rutenya melewati Embung Bansari, yang menurut pengakuan warga setempat belum terasa manfaatnya untuk irigasi lahan pertanian masyarakat—kebanyakan menanam tembakau, kopi, dan sayur-sayuran. Kini, ditambah program CSR perbankan nasional, orang lebih mengenal Embung Bansari sebagai tempat wisata.

Dari pos pemberhentian ojek, kami melanjutkan langkah dengan jalan kaki. Sedikit menanjak menuju Pos 1 Sidempul (1.576 mdpl). Selain di Embung Bansari, wisatawan juga bisa berkemah di Sidempul Camping Ground. Fasilitasnya cukup lengkap, ada sumber air, musala, dan saung-saung untuk istirahat.

Ammar (depan) dan Evelyne berhati-hati melangkah tanjakan sempit nan terjal selepas Pos 2 Turunan (Rifqy Faiza Rahman)
Ammar (depan) dan Evelyne berhati-hati melangkah di tanjakan sempit nan terjal selepas Pos 2 Turunan/Rifqy Faiza Rahman

Pendakian sesungguhnya jalur Bansari dimulai selepas Pos 1. Kami harus memeras keringat cukup deras sejauh 1,5 kilometer saat menapaki tanjakan cukup terjal di tengah perkebunan kopi hingga Pos 2 Turunan (1.891 mdpl). Area Pos 2 cukup lapang sebagai tempat istirahat, bisa memuat sekitar 4–5 tenda berkapasitas empat orang. 

Rupanya, nama ‘turunan’ hanyalah ilusi. Setelah Pos 2, trek semakin curam tanpa ampun hingga Pos 3 Tunggangan. Meskipun jarak relatif pendek, sekitar 800 meter, peluh kami seakan nyaris tak ada jeda untuk mengering barang sejenak. Di pos ini terdapat gubuk sederhana tanpa dinding untuk istirahat. Tersedia pula tempat berkemah dengan kapasitas setara Pos 2. Saat musim hujan, pendaki bisa mengambil air di aliran sungai sebelah barat pos.

Usai makan siang, kami melanjutkan pendakian menuju Pos 5 Mlelan, target utama yang mutlak hari itu. Sebelum Pos 5, ada tiga fase pendakian yang eskalasi perjuangannya fluktuatif. Pertama, menuju Pos 4 Bukit Soma yang berjarak 400 meter atau 30 menit mendaki. Kedua, menuju Shelter Ojek yang hanya berjarak separuh perjalanan dari Pos 3 ke Pos 4. Dari sinilah, kami harus menguatkan fisik dan mental untuk menempuh etape terakhir hari itu; sebuah jalan setapak sempit dan licin penuh kerikil, yang meskipun jarak matematis “hanya” sepanjang 600 meter, tetapi kami butuh dua jam berjalan untuk tiba di Pos 5 Mlelan.

Jalur curam, licin, dan bernaung pepohonan serta semak yang rapat mewarnai perjalanan menuju Pos 5 Mlelan (Rifqy Faiza Rahman)
Jalur curam, licin, dan bernaung pepohonan serta semak yang rapat mewarnai perjalanan menuju Pos 5 Mlelan/Rifqy Faiza Rahman

Area camp di Pos 5 Mlelan sangat terbatas. Dua tenda kapasitas total empat orang dibangun mepet di atas tanah yang konturnya agak miring. Sepetak lagi di atas tenda kami dengan luasan lahan yang cukup sempit. Mungkin kira-kira pas untuk satu tenda berkapasitas 2–3 orang. Di situlah Shodiq dan Crezy, pengurus BC, mendirikan tenda untuk “ngepos” dan mengawal kelancaran ajang trail run Sindoro Sumbing International Race. 

“Sebenarnya dulu area camp utamanya agak di atas Pos 5 sekarang, Mas. Luas dan bisa menampung banyak tenda. Cuma setelah kena aliran air karena hujan deras berhari-hari (saat puncak musim hujan), jadinya tergerus dan ‘hilang’,” jelas Crezy. Sebagai ‘lapak’ pengganti, pihak base camp menyediakan setidaknya 2–3 petak lahan alternatif untuk berkemah. Letaknya berdekatan, berjarak beberapa meter saja di sisi jalur sebelum Pos 5.

Kondisi camp yang kurang ideal terobati dengan pemandangan sore yang memanjakan mata. Gunung Sumbing seolah dekat di tenggara, sementara Gunung Merbabu dan Merapi mengisi pandangan di ufuk timur. Melongok ke arah utara, gulungan awan bak karpet selembut kapas menyelimuti tubuh Sindoro.

Malam ini kami hanya ingin istirahat tenang. Esok pagi kami tidak akan ngoyo mengejar sunrise di puncak. Kami sepakat memilih untuk menikmati matahari terbit dari depan tenda, baru summit setelahnya.

Tenda kami di area Pos 5 yang sempit (kiri) dan pemandangan malam penuh kerlip lampu perkotaan Temanggung dan Magelang dari Pos 5/Rifqy Faiza Rahman

Puncak Sindoro yang gersang

Semalam sebelum pendakian, di base camp, Sugeng—salah satu pengurus KOMPAS Bansari—sempat menunjukkan dokumentasi lawas tahun 2011, saat ia dan tim base camp masih bisa turun ke kawah Sindoro. Di tahun itu, area kawah masih hijau, penuh vegetasi khas seperti cantigi dan edelweis, serta dipenuhi genangan air bak telaga.

“Tahun-tahun segitu kami sering, Mas, turun ke kawah lalu mandi di danau,” kenang Sugeng. Ia dan beberapa orang di base camp mengakui, kangen dengan kondisi kaldera Sindoro 15 tahun lalu. Sebuah pengalaman yang mungkin akan sangat sulit terulang kembali—dan terlihat jelas betapa kurang beruntungnya kami.

Berselang tak lama dari tahun 2011, Gunung Sindoro mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Dari yang hijau teduh dan menyegarkan, berubah drastis menjadi gersang dan bikin tenggorokan kering. Vegetasi yang terlihat hanya menyisakan batang-batang manisrejo yang legam, gosong, dan mungkin sudah mati. Tumbuhan yang tumbuh tipis-tipis dan kerdil mungkin masih bisa terlihat di area lapangan berbatu di utara kawah, pertemuan dengan jalur Ndoro Arum dan Sigedang.

Kami tiba di puncak Sindoro setelah hampir dua jam berjalan. Agak terseok karena jalur penuh batuan lepas dan terjal. Kemegahan pemandangan Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Lawu tidak serta-merta melipur terik matahari yang begitu menyengat, meski kami baru berangkat sekitar pukul 06.15 dari Pos 5. Dalam perjalanan menuju puncak, kami sempat menjumpai Pak Urip dan koleganya di Rejo Tunggal (2.840 mdpl), serta dua pengurus senior di Pos 6 Centhong (3.050 mdpl). Mereka berempat berbalut jaket dan celana tebal karena menahan dingin udara semalam di area yang sangat terbuka.

Puncak Gunung Sindoro via Bansari, jauh lebih sunyi dibanding jalur Kledung di selatan (Rifqy Faiza Rahman)
Puncak Gunung Sindoro via Bansari, jauh lebih sunyi dibanding jalur Kledung di selatan. Cuaca cerah membuat pemandangan Gunung Sumbing, Merapi, dan Merbabu sangat jelas/Rifqy Faiza Rahman

Seperti kami duga, keramaian di puncak Sindoro menumpuk di jalur Kledung dan Alang-alang Sewu. Jalur sejuta umat. Hanya segelintir dari mereka yang meluangkan waktu untuk menyisir bibir kawah yang menyengat karena asap belerang. 

Pemandangan di puncak Sindoro pagi itu membuat saya merenung. Orang-orang boleh memilih jalur pendakian yang lebih populer, yang nama-namanya mungkin akan kerap muncul paling pertama di halaman depan Google. Namun, bagi saya, Bansari adalah sisi lain Sindoro yang patut untuk dikunjungi. 

Satu hal lain yang saya tangkap, KOMPAS Bansari tidak berusaha untuk “ngoyo” agar ramai dikunjungi seperti jalur lain. Apa adanya; yang datang silakan, yang pakai jalur lain silakan. Mereka hanya berusaha melakukan pelayanan yang terbaik agar pendaki yang datang merasa nyaman, diperhatikan, dan disambut serasa di rumah sendiri.

Sederhana, apa adanya; penuh kepedulian dan tepa salira. Gayeng, egaliter. Kehangatan base camp berembus tulus dan menyentuh relung hati, bukan karena semata amal artifisial. Sesuatu yang mungkin amat langka di dunia pendakian era sekarang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Naik Gunung demi Validasi Media Sosial, Tren Wisata yang Luput dari Perkiraan Pakar Tahun Ini