TRAVELOG

Mendengar Denyut di Kampung Laut

Musim hujan memaksa tanah Gragalan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, lebih jujur dibandingkan musim lainnya. Tiap tetesnya membujuk tanah berubah rupa menjelma lumpur. Maka, jika ingin berjalan lebih mudah, baiknya kaki dibiarkan telanjang.

Pada Sabtu siang terakhir di 2025, saya mengikuti rombongan masyarakat yang bergerak dari Gragalan menuju Desa Ujungalang. Nantinya di sana akan ada acara bertajuk Getok Tular Perlawanan Kampung Laut. Belakangan, warga Kampung Laut sedang berjuang mempertahankan tanahnya.

Hanya butuh belasan menit untuk kami sampai di tepi perairan. Perahu biru telah menunggu. Satu per satu warga mulai naik. Bagian depan perahu diisi oleh barang, sedangkan kami menumpuk di belakang. Kata warga, cara itu dapat memperlancar perjalanan. Sembari menunggu perahu penuh, beberapa orang membilas lumpur yang mengering di kaki. 

Tidak butuh waktu lama, perahu mulai melaju. Mengangkut warga beserta seluruh tuntunan mereka.

Perahu compreng yang menunggu penumpang (Feninda Rahmadiah)
Perahu compreng yang menunggu penumpang/Feninda Rahmadiah

Napas Panjang di atas Laguna

Sebenarnya, Gragalan adalah bagian dari Desa Ujungalang. Hanya saja, keduanya dipisahkan oleh perairan. Itulah kenapa apabila ingin berpindah dibutuhkan transportasi air. 

Kecamatan Kampung Laut masih menjadi bagian dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Wilayah ini berdiri di atas Laguna Segara Anakan. Ada empat desa di dalamnya, yakni Ujungalang, Klaces, Panikel, dan Ujunggagak. Sejauh ini, saya baru menginjakkan kaki di daratan Gragalan dan Ujungalang.

Pada 24 September 2025 lalu adalah kali pertama bagi saya dan beberapa kawan menginjakkan kaki di tanah Gragalan. Saat itu, kami hadir untuk mendukung perlawanan warga Kampung Laut yang akan melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Pertanahan Kabupaten Cilacap. Warga ingin menuntut penjelasan tentang Lapas Nusakambangan yang mulai memperluas wilayah kekuasaannya dengan merampas tanah mereka. 

Bila ingin ke Kantor Pertanahan Kabupaten Cilacap, warga perlu menyeberang dari Kampung Laut ke Pelabuhan Sleko. Karenanya dibutuhkan transportasi air yang sebenarnya belum dimiliki secara merata. Maka, agar perlawanan tetap terlaksana, tiap warga perlu saling bahu-membahu. 

Bagi warga Kampung Laut, transportasi air menjadi kebutuhan pokok. Walau begitu, hanya sebagian warga yang memiliki perahu. Maka, ada dua hal yang biasanya dilakukan agar kebutuhan berpindah tempat terpenuhi. 

Pertama, menaiki compreng. Compreng adalah alat transportasi jalur air. Tubuhnya terbentuk dari kayu dan bambu dengan beberapa ban yang menempel. Tarifnya dimulai dari Rp12.000.

Kedua, pinjam-meminjam, terlebih dalam keadaan darurat. Misalnya, ketika seorang ibu akan melahirkan atau seorang yang harus dirujuk sebab sakit parah. Situasi genting lainnya adalah saat warga harus saling bergotong royong untuk mempertahankan ruang hidupnya. Contohnya seperti saat aksi demonstrasi yang beberapa kali dilaksanakan.

Pelabuhan Sleko di pagi hari (Feninda Rahmadiah)
Pelabuhan Sleko di pagi hari/Feninda Rahmadiah

Suara dari dalam Tanah  

Masih di akhir September 2025, saya menyaksikan proses pembukaan lahan oleh warga. Itu bukan pembukaan lahan biasa. Membukanya kembali adalah simbol perlawanan atas pematokan yang diwakili bendera merah. 

Bendera merah adalah tanda bahwa tanah itu sedang coba diambil alih oleh Lapas Nusakambangan. Dahulu, masyarakat Kampung Laut membangun rumah di atas laut. Wilayah itu kemudian berubah seiring berjalannya waktu menjadi tanah timbul. Kawasan tersebutlah yang mulai dirampas oleh Lapas Nusakambangan.

Siang itu, matahari berada tepat di atas kepala. Warga melindungi diri dengan caping atau kain. Setiap orang turut ambil bagian. Ada yang mencukur rumput dengan menggunakan mesin pemotong, sebagian menebas tumbuhan liar dengan peralatan sederhana seperti arit. 

Saya sempat mendekat untuk mengambil beberapa gambar. Semakin dalam saya memasuki lahan itu, air mulai menyentuh telapak kaki.  

Saat itu pula, seorang pemuda desa berujar, ”Lihat, Mbak. Bener, kan, ini tanah timbul, milik warga dari dulu. Tanahnya aja masih berair.”

Warga Kampung Laut bergotong royong untuk membuka lahan (Ferninda Rahmadiah)
Warga Kampung Laut bergotong royong untuk membuka lahan/Ferninda Rahmadiah

Perempuan dan Pengorbanan 

Mari kembali pada Desember 2025, saat warga Gragalan bergerak menuju Ujungalang. Dalam perahu, saya duduk di samping seorang perempuan paruh baya. Namanya Suhartini. Kerudungnya yang berwarna gelap tampak mengilap, memantulkan sinar matahari. Senyum hangatnya tidak luntur sedetik pun. 

”Saya baru saja kemarin dari seberang, Mbak. Naik perahu ini,” tutur Bu Suhartini. 

Walau memiliki perahu, Suhartini tetap menyekolahkan anaknya di desa seberang. Di daratan Gragalan memang belum ada sekolah. Listrik pun belum tersedia. Keadaan ini memengaruhi pilihan yang bisa diambil oleh Suhartini dan keluarga. 

”Kemarin, habis nganterin anak soalnya udah mau masuk sekolah. Anak saya kan sekolahnya nggak di Gragalan,” lanjutnya. 

Biasanya, anak yang sekolah di daratan seberang akan tinggal di rumah saudara. Kalau tidak begitu, akan repot sekali bila setiap hari harus menyeberang dengan perahu. Demi pendidikan, Suhartini rela tidak bertemu setiap hari dengan putra bungsu kesayangannya. 

Satu jam kemudian, kami sampai di Desa Ujungalang. Pada satu titik, perahu diparkirkan dengan rapi. Beberapa perahu dengan ukuran dan warna serupa juga terparkir di sana.

Jalanan kampung di Desa Ujungalang (Ferninda Rahmadiah)
Jalanan kampung di Desa Ujungalang/Ferninda Rahmadiah

Kami berjalan menyusuri jalan kecil. Rumah warga tersusun rapi dan berdempetan. Di sini, rumah sudah memiliki tembok yang kokoh. Keberagaman cat dinding juga menjadi pembeda dengan suasana di Gragalan. 

Selain itu, listrik telah tersedia. Sinyal pun ada. Beberapa dari kami mulai memeriksa gawai. Pertukaran kabar menjadi kemewahan yang rasanya tak dapat ditunda. 

Saat acara akan dimulai, sebuah bangunan menyita perhatian saya. Letaknya tepat di seberang balai pertemuan. Bangunan itu memiliki bilik-bilik yang mengelilingi sebuah lapangan. Ada bendera merah putih yang melekat pada tiang di salah satu titik lapangan. Itu adalah sekolah. Sulit membaca nama sekolahnya karena cat yang tercetak di gapura telah rontok.

Di sanalah, saya bertemu dengan seorang perempuan berkerudung cokelat. Ia tengah menggendong anak perempuannya. Sesekali anak itu merengek. Tangan mungilnya terus memegangi pipi yang membengkak. 

”Dari mana, Mbak?” tanya perempuan yang ternyata bernama Kiki Dwi.

Kami berkenalan. Rasa penasaran membawa saya bertanya tentang apa yang terjadi pada anak perempuan dalam gendongannya. ”Sakit apa, Mbak?”

”Dia lagi sakit gigi,” jelas Kiki. 

Anak perempuan itu kembali merengek. Kakinya menendang-nendang udara. Sang ibu menepuk-nepuk lembut punggung anaknya. 

”Sudah dibawa berobat, Mbak?” tanya saya.

”Di sini, kalau mau berobat harus nyeberang, Mbak.”

Kiki Dwi menggendong anak perempuannya yang tengah sakit gigi (Ferninda Rahmadiah)
Kiki Dwi menggendong anak perempuannya yang tengah sakit gigi/Ferninda Rahmadiah

Kiki mulai bercerita. Katanya, kalau mau berobat harus menyeberang ke puskesmas di Desa Klaces. Itulah satu-satunya puskesmas milik warga Kampung Laut. 

Saya mulai bertanya lebih jauh. Cukup penasaran dengan cara Kiki melahirkan bila tidak ada tenaga kesehatan yang siaga di daratan tersebut. ”Kemarin waktu melahirkan, saya harus menyeberang pakai perahu, mungkin sekitar setengah jam,” jelas Kiki. 

Dirinya masih ingat betul. Kala itu di pertengahan Agustus, Kiki mengalami kontraksi. Dengan siaga keluarganya menyiapkan perahu untuk menyeberang. Kiki bilang, selama di perahu ia berusaha untuk tidak mengejan. Hal ini karena, terdengar kabar burung yang mengatakan bahwa ada denda yang harus dibayar bila melahirkan di perahu. Kabar ini juga pernah didengar oleh Sumirah, Bude Kiki. 

Kata Sumirah, ia sempat bertanya kepada bidan desa tentang aturan denda melahirkan di dalam perahu. Sayangnya, bidan desa itu tidak memberinya jawaban pasti.

Dulu, di Desa Ujungalang sempat ada layanan kesehatan lengkap dengan bidan desa. Kini, ketiadaan itu menambah beban bagi setiap ibu yang akan melahirkan.

”Pokoknya mules, mbrojol di perahu pun tetap harus bawa ke Klaces,” cerita Kiki. 

Kiki pun tak henti mengucapkan syukur setelah anaknya lahir dengan selamat. Terlebih saat lahir, anaknya sempat membiru dan tidak menangis. Sekalinya bisa menangis, hanya lirih yang terdengar. 

Rasanya, para ibu di Kampung Laut wajib berkorban lebih banyak dari yang seharusnya. Semakin anaknya dewasa, semakin banyak perjuangan yang dibutuhkan. Baik Suhartini maupun Kiki telah membuktikan rumitnya perjuangan seorang Ibu di Kampung Laut. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Feninda Rahmadiah

Mahasiswa akhir Sastra Indonesia di UNY. Mengambil konsentrasi linguistik dan sedang mempelajari jurnalisme. Tertarik dengan isu perempuan.

Feninda Rahmadiah

Mahasiswa akhir Sastra Indonesia di UNY. Mengambil konsentrasi linguistik dan sedang mempelajari jurnalisme. Tertarik dengan isu perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Biji Saga, Masa Kecil, dan Alam yang Kita Lupakan