INTERVAL

Biji Saga, Masa Kecil, dan Alam yang Kita Lupakan

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya bulan Mei 2026, saya bermain ke Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura yang lokasinya di tengah Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Saat itu saya bersua dengan banyak pohon besar menjulang, perdu, dan tumbuhan yang tumbuh di lantai hutan. Ada satu momen yang membuat langkah saya berhenti. 

Momen itu ketika berjumpa dengan biji-biji pohon saga (Adenanthera pavonina) yang berjatuhan di tanah. Saya merasakan kebahagiaan ketika memunguti, melihat lebih dekat, membaui lebih dalam, dan menggenggam biji-biji bulat kecil berwarna merah itu. Serasa menemukan kembali ingatan yang menuntun jalan pulang ke masa kecil.

Dulu semasa kecil di awal tahun 1990-an, masih teringat jelas bersama teman-teman mengumpulkan biji saga untuk bermain dan memakannya. Di kampung halaman sekitar kaki Gunung Muria di Jawa Tengah, kami terbiasa menyebutnya dengan nama sego tunteng atau sogok tunteng

Ketika masih anak-anak, kami punya prinsip utama soal bermain. Bermain kurang afdal jika tidak ke sungai, kebun, alas (hutan kecil), sawah, dan tanah lapang. Kami menyebut bermain dengan kata “dolan” atau “dolanan”. Ketika ada teman yang bilang “ayo dolanan”, berarti petualangan bermain di tengah alam dan bersama alam akan dijalani bersama-sama. Saat itu mengenali alam bukan melalui definisi, melainkan melalui jalan kaki, bermain bersama, hidung yang membaui tanah, telinga yang mencermati bunyi air dan merasakan manfaatnya.

Jalan kayu membelah Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura (Agus Yuliono)
Jalan kayu membelah Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura/Agus Yuliono

Dolanan dengan Sego Tunteng

Kembali dengan pengalaman masa kecil bersama biji sego tunteng (saga). Biji-biji merah itu kami gunakan dalam berbagai permainan, seperti kecikan dan dakon. Permainan itu dilakukan dengan dua anak atau lebih secara bergantian. Saat sekolah dasar, kami merangkainya dan menyusunnya menjadi kolase biji-bijian untuk pelajaran kerajinan tangan.

Ketika hendak memakan biji sego tunteng, kami biasa membakar bijinya di dalam kendil (gerabah kecil dari tanah liat) atau memakai genting. Setelah cukup panas, bijinya akan pecah dan mengeluarkan isinya yang bisa dimakan. Harum bijinya sangat khas ketika baru keluar dari kulitnya. Rasanya sangat enak, tetapi yang membuat rasa barangkali bukan soal biji itu saja. Ada perjalanan mencari, mengumpulkan, menunggu, dan membagi bersama teman.

Kini pohon dan biji itu kian sukar dijumpai di kampung halaman. Ada rasa kehilangan ketika tumbuhan yang dahulu sangat akrab ketika kecil, ternyata sudah banyak yang menghilang. Lokasi yang dulu banyak tumbuhan, kini sudah berganti tembok bangunan ataupun tanah gersang. Bahkan yang tertinggal hanya cerita bagaimana tumbuhan itu dulu membersamai anak-anak.

Merenungi kembali kata “dolan” yang berarti jalan-jalan sambil bermain, memunculkan sekian pertanyaan. Bukankah “dolanan” adalah sejatinya “rekreasi”, mengisi waktu luang yakni kembali untuk berkreasi? Ketika tumbuhan semakin menghilang dan alam terbuka semakin menyempit, mungkinkan “dolanan” atau bermain sudah berganti arti dan sudah berubah praktiknya?

Termasuk kehilangan tumbuhan menjadi lebih luas daripada hilangnya satu jenis pohon. Menghilang juga kosakata, pengetahuan, permainan, aroma, bahkan kolektivitas. Berkurangnya perjumpaan langsung dengan alam berdampak pada melemahnya pengetahuan dan rasa peduli pada alam.

Biji pohon saga (Agus Yuliono)
Biji pohon saga/Agus Yuliono

Kehilangan Cerita Tumbuhan

Ketika masih anak-anak, kita begitu akrab dengan tumbuhan dan mendekatinya dengan seluruh panca indra. Selalu penasaran bertanya apa namanya, untuk apa, sambil menciumnya, mengumpulkannya, masak-masakan, bermain dengannya, dan bahkan membawanya ke sekolah untuk dirawat di taman kecil depan masing-masing ruang kelas. Tumbuhan dikenali karena ditemui berulang kali.

Namun, ada yang tidak disadari. Semakin dewasa, justru sering melewati tumbuhan tanpa benar-benar memperhatikannya dan mengenalinya. Semakin mendekat ke kota, semakin tidak ramah dengan tumbuhan. Kita percaya bahwa tumbuhan termasuk makhluk hidup. Namun, anehnya ketika kita bertanya nama tumbuhan, kita menggunakan kata tanya “apa”, bukan “siapa”. Tumbuhan hanya sekadar dianggap objek yang makin kehilangan nama dan cerita. 

Persoalan bukan soal tata bahasa antara “apa” atau “siapa”. Kata “apa” tidak otomatis merendahkan tumbuhan, sebagaimana kata “siapa” tidak serta-merta menjadi wujud bentuk kepedulian. Pertanyaan yang lebih penting ialah, setelah mengetahui namanya, apakah tumbuhan hanya ditimbang dari kegunaannya bagi manusia, atau kita juga bersedia mengenali hubungan-hubungan yang membuatnya tumbuh dan hidup?

Sebagian dari kita hanya sekadar melihat tumbuhan di sekitar seperti seonggok barang, yang kita sudah banyak tidak mengenali lagi siapa nama tumbuhan ini, umur tumbuhannya berapa, bagaimana cerita tentang tumbuhan itu, apa saja makhluk yang hidup bergantung dengan keberadaannya, dan tidak menyadari kebergunaan dan kebermaknaan dalam semesta?

Dulu ada nama-nama gang, jalan, dan tempat berdasarkan nama tumbuhan yang hidup tumbuh di sekitarnya. Namun, sekarang banyak berganti dengan gang dengan nama urutan nomor dan jalan dengan nama orang atau nama asing modern agar terlihat bersaing keren.

Masih teringat, bagaimana dahulu keberadaan tumbuhan menjadi penanda alamat rumah seseorang. Bukankah sangat asyik mencari alamat orang dengan mengikuti penanda alam dan sambil beruluk salam senyum pada orang-orang untuk bertanya? Mungkin itu sudah tidak menarik dan tidak dianggap penting lagi di zaman sekarang yang serba berburu kecepatan. Sudah makin jarang kita mencari alamat dengan penanda-penanda alam. Tergantikan dengan peta digital di gawai “pintar”.

Duka ekologis ini tidak boleh berhenti sebagai ratapan, tetapi perlu menjadi penuntun pada tanggung jawab untuk mengenali apa yang sungguh bernilai dan kini terancam hilang.

Buah tengkawang (kiri) dan anggrek yang tumbuh di Arboretum Sylva/Agus Yuliono

Mengakar Kembali

Berbagai masyarakat adat memiliki cara dalam memahami hubungan manusia dengan alam. Para tetua mengajarkan menjalin komunikasi dengan membaca tanda alam. Berbagai ritual dijalankan untuk menghormati pohon dan alam, memberikan hadiah yang terbaik sambil berbincang dan mendendangkan syair dan doa kebaikan. Tumbuhan, hewan, sungai, tanah, hutan, manusia, roh tidak selalu dipisahkan menjadi subjek dan objek. Semua dipahami sebagai bagian dari keluarga ekologis yang luas. Bahkan ada masyarakat adat yang memosisikan alam sebagai saudara dalam tali kekerabatan. Merusak pohon dan alam sama juga melukai ibu, ayah, dan saudara kita. Maka sebelum mengambil sesuatu dari alam, perlu memohon izin, menjaga batas, dan memberi terlebih dahulu ke pada alam. Itu tata krama kehidupan.

Ritual memberi terlebih dahulu adalah hal yang penting karena rekoneksi dengan alam saat ini rentan berubah menjadi gaya konsumsi baru. Kita datang ke alam untuk mendapatkan udara segar, pangan, pengetahuan, ketenangan, keteduhan, kesegaran air dan foto yang estetis, lalu pulang tanpa memikirkan apa yang dibutuhkan alam di sana. Kita hanya mengambil untuk kepentingan manusia sendiri tanpa memikirkan kepentingan alam. Penting berbalas kebaikan. Hubungan yang adil menuntut kita untuk merawat alam agar terus lestari.

Perjalanan kembali ke ingatan biji-biji saga seperti menyadarkan untuk melihat kembali kondisi alam saat ini. Dan juga kondisi kebatinan kita. Problem kesehatan mental manusia dewasa ini, juga berkaitan dengan terputusnya relasi manusia dengan tumbuhan dan alam sekitar. Merasa tekanan hidup semakin tinggi karena kehilangan jeda untuk dolanan, ruang hidup (alam) yang makin menyempit, dan memilih untuk hanyut di dunia nirmakna yang memuja kecepatan.

Perlu saatnya untuk kembali merawat dan dolanan bersama alam. Sangat menyenangkan bisa berteduh di tengah-tengah pepohonan. Kita akan bisa menghirup banyaknya oksigen, merasakan tanah basah, melihat hewan-hewan yang hidup dan berumah, membaui berbagai ragam aroma yang dikeluarkan oleh tiap bagian tumbuhan, mendengarkan suara alam dan air yang mengalir. Saatnya kembali berbincang, membangun relasi dengan tumbuhan dan alam, menghidupkan cerita-cerita tentang tumbuhan yang ada di sekitar kita, menanam dan menghadirkan kembali tumbuhan di sekitar tempat tinggal kita. Pelan dan perlahan untuk mengakar kembali dimulai dari lingkungan terdekat.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Agus Yuliono

Pengajar di Prodi Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Tanjungpura. Masih perlahan belajar mengeja dan menulis tentang alam budaya di tanah Borneo.

Agus Yuliono

Pengajar di Prodi Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Tanjungpura. Masih perlahan belajar mengeja dan menulis tentang alam budaya di tanah Borneo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bahu-Membahu Menjaga Hutan Merabu