Puncak Prau menawarkan panorama menawan. Sabana hijau membentang. Gunung Sindoro dan Sumbing menyembul di balik awan.
Tengah hari itu, pendaki tektok berangsur pulang. Lainnya meluangkan ke sabana. Cuaca lekas berubah. Langit tersapu mendung. Saya dan Yanganto bergegas menuju padang rumput. Lewat setapak di sebelah kanan plang penanda puncak Prau.
Kabut seliweran begitu sampai Telaga Wurung. Kalau mau ke Sunrise Camp—lokasi kemah terbaik di jalur Patak Banteng—masih 1,3 kilometer. Begitu keterangan di lembaran kertas yang diklip bersama tiket masuk pendakian Prau via Dwarawati.


Kami putuskan buka tenda di perbukitan atas Telaga Wurung saja. Kabut mengurung semakin tebal. Secepatnya kami mendaki setapak ke arah puncak bukit. Gerimis pun turun.
Pandangan terbatas. Kami mencari lokasi kemah paling aman. Menghindari terjangan angin. Tegakan cemara di sebuah tanah datar seolah memanggil. Saya cek sekitarnya. Memang banyak akar timbul, tapi sudutnya bisa mendirikan tenda.
Begitu tenda selesai dibangun, air langit tumpah. Selamat. Kami tak kebasahan. Namun, seiring waktu aliran air mengumpul di bawah tenda. Tersendat. Tak mengalir ke mana pun. Yanganto turun tangan. Pakai pisau komando, dia gali parit keliling tenda. Air pergi ke segala arah. Syukurlah. Rembesan dari bawah, kami alasi ponco.
Orek tempe kering jadi menu andalan makan siang. Yanganto bekal lalapan plus sambal. Sebenarnya dia bawa ikan asin, hanya saja lupa minyak goreng. Pesta ikan asin berganti sukro renyah penambah selera.
Selepas “isi bensin”, kami salat jamak-qasar Zuhur dan Asar. Setelahnya merebahkan badan. Udara terasa dingin. Yanganto ngebet tidur. Sejak menyetir mobil dari Cirebon hingga BC Dwarawati, belum memejamkan mata. Kami lekas masuk sleeping bag.


Senja nan Syahdu
Azan Asar mengangkasa. Bersusulan. Ada jeda satu masjid dengan masjid lainnya. Bahkan berselang satu jam. Jam empat lewat, masih terdengar kumandang Hayya ala sholah… Sesuatu yang tak pernah kami dapati sebelumnya.
Saya intip situasi di luar. Hujan belum reda. Kabut tak beranjak. Saya paksakan keluar tenda. Ingin menikmati momen mentari tenggelam. Awan berjejalan. Lembayung sore melingkupi jagat. Empat kawah aktif dataran tinggi Dieng menyemburkan asap vulkanis seperti tampak di foto sampul.
Suasana terasa syahdu. Ricik hujan dan kabut saling berbisik. Kami bertukar cerita. “Teruslah mendaki untuk menyemangati hidup,” kata kabut. “Jadilah manusia yang sejuk,” pesan hujan.
Padang rumput di sekitaran puncak Prau luas sekali. Berbukit-bukit. Hanya sayang, kenapa selalu dikenal dengan nama Bukit Teletubbies? Mengapa tidak memakai toponimi? Bisa Bukit Punakawan, Bukit Anak Gimbal, atau Bukit Mataraman; mengenang kiprah pasukan Mataram yang mengislamkan wilayah Dieng—yang sejatinya lebih mencerminkan identitas lokal.
Selepas membingkai cakrawala senja, saya beringsut ke tenda. Sembunyi dari kejaran angin. Yanganto betah dalam kantung tidur. Dia sempat minum tablet pereda pusing. Lanjut mendengkur. Saya enggan ketinggalan. Langit merambat gelap. Azan Magrib mengudara. Allahuakbar… Allahuakbar….
Pukul sepuluh malam saya bangunkan Yanganto. Kondisinya mendingan. Kami tunaikan salat, lantas membuat mi goreng. Makan malam dengan cahaya senter. Hujan sudah berhenti, tapi malas keluar. Kabut setia mengurung. Kami memilih kembali tidur.


Pagi yang Mendebarkan
Dini hari terdengar tim pendaki lain mendekat. Mereka buka tenda depan kami. Beres salat Subuh, saya tak sabar keluar. Ingin membuktikan sunrise di Gunung Prau sebagai salah satu yang terbaik di Nusantara. Yanganto tak beranjak. Memilih menyeduh jahe.
Saya ikuti setapak mengarah ke puncak bukit. Fajar perlahan menyingsing. Dua remaja merekam suasana lewat ponsel yang dicengkeram tripod. Mereka duduk menghadap timur. Kemilau kuning-keemasan menerangi ufuk. Sindoro-Sumbing serupa tungku di istana langit. Para malaikat berlarian di atas awan. Menanti serabi buatan Merapi dan teh legit suguhan Merbabu.
Bukit “Anak Gimbal” merengkuh hangat mentari. Pemandangan lepas ke segala arah. Di bawah sana, padang rumput luas dikelilingi perbukitan. Saya tak kuasa menahan langkah. Menyusuri satu bukit ke ke bukit lainnya. Sebuah tenda menyepi di titik tertinggi. Ingin memeluk Prau tak terbatas waktu.
Menyaksikan sang surya terbit di kawasan ini serasa menatap pasangan kita usai ijab-kabul. Begitu sakral dan menggugah jiwa. Bertabur doa, berjuta harapan. Menyesap kenangan hingga palung kalbu.
Saya melambai ke Sindoro-Sumbing. Bertakbir. Memuji kebesaran-Nya. Lalu kembali ke tenda. Yanganto pasti sudah menunggu. Kami mau turun gunung sepagi mungkin. Menghindari deras pendaki tektok yang naik hari itu.


Muncak Kedua Kali
Pukul 07.00 lewat, carrier siap. Kami pastikan tak ada barang tercecer, lantas bergerak menuju Telaga Wurung. Lanjut mendaki setapak ke puncak. Seperti kemarin saat menjejak titik tertinggi Prau, pendaki bergantian pose merangkul plang 2.590 mdpl.
Saya sempatkan memotret beberapa sudut. Salah satunya foto sampul tulisan ini: bentang alam perbukitan “Anak Gimbal”. Sindoro-Sumbing berjemur santai menyerap panas pagi.
Yanganto mengikat kedua sepatu dengan rafia. Sepatu trekking produksi perusahaan outdoor lokal ternama itu mangap. “Lemnya kering. Solnya lepas. Lama tak dipakai,” katanya.
Turunan curam Batu Khayangan kami lewati. Tak lama sampai Pos 3. Terus bergegas. Memasuki Akar Cinta, Yanganto mulai tertinggal. Entah mengapa, pengaruh umur membuat saya lebih nyaman menyendiri. Saya niatkan menunggu sohib di Pos 1 Cemara Dungkar.
Sudah pukul delapan lewat. Durasi turun kami cukup baik. Satu setengah jam berlalu, saya dan Yanganto bertemu di Pos 1. Kami rehat sejenak sambil saling menggoda: siapa yang kerap dipanggil “Pak”?
Ternyata, Yanganto. Saya lebih sering disapa “Om” atau “Bang”. Kami terpingkal. Sementara waktu saya kabari istri di puncak Prau banyak anak dara, “Istighfar!” ucap ibunya anak-anak. Saya pun cengengesan.


Gunung Prau, Tempat Terdingin di Dieng
Alhamdulillah, akhirnya tiba kembali di base camp Dwarawati, Minggu (23/11/2025). Sepi. Kami ke teras depan rumah kayu. Yanganto kebelet ngecas hape. Saya ganti baju dan sepuasnya minum air gunung. Bergaya seperti di iklan air mineral.
Tak lupa, saya melapor kedatangan ke penjaga loket. Petugas bernama Ghozi berkenan diajak ngobrol. Dia asli Dieng Kulon. Katanya, base camp di lokasi sekarang aktif sejak 2017. Sebelumnya lebih dari satu dekade meminjam rumah warga.
Tiap akhir pekan, Prau selalu dibanjiri pendaki. Terutama yang tektok. “Kalau weekend bisa 300 pendaki,” bebernya. Medio Agustus–September, petualang yang datang berlipat. “Bulan tersebut puncak musim dingin Dieng. Tapi malah mengundang antusiasme turis,” ujar lelaki yang juga panitia Dieng Culture Festival 2025.
Mendaki dataran tinggi Dieng di periode itu, lanjut Ghozi, persiapan mesti lebih mantap. Angin superdingin siap menerkam siapa saja di lintasan gunung-gunung sekitar Wonosobo, Temanggung, dan Banjarnegara.


Kenapa suhu Dieng konstan dingin? Ghozi mengungkapkan, selain karena faktor ketinggian (lebih dari 1.500 mdpl), kawasan ini ada di dalam kaldera yang membuat angin terperangkap. Menyebabkan suhu rendah.
Pengalaman Ghozi, udara Gunung Prau paling dingin di Dieng. “Bahkan Sindoro-Sumbing tidak sedingin Prau,” tegasnya seraya berbagi wawasan soal toponimi Telaga Wurung, karena air hujan sering menggenangi padang rumput itu. “Sudah seperti telaga saja.”
Terkait kumandang azan yang tidak bersamaan, Ghozi menyebutnya bagian dari keharmonisan warga Muslim kawasan Dieng. “Memang begitu, khas di sini. Masjid A azan awal waktu salat. Berjeda. Lanjut masjid B, terus masjid C. Kami saling menghargai,” jelasnya.
Hal menarik lainnya adalah peninggalan candi berserak di dataran tinggi Dieng—tak terkecuali Candi Dwarawati. Padahal mayoritas penduduk beragama Islam. Ghozi menerangkan leluhur masyarakat Dieng dahulu memeluk Hindu. Kemudian datang pasukan Mataram Islam mengajarkan tauhid (pengesaan Allah).
“Yang berjasa mengislamkan Dieng, ya, prajurit Mataram,” ucapnya.


Penduduk Dieng umumnya petani. Komoditas unggulan adalah kentang. Kentang Dieng merajai pasar-pasar di Pulau Jawa. Menurut Ghozi, petani Dieng setia menanam kentang karena harga jual stabil. “Beda dengan sayuran lain, fluktuatif. Kentang stabil. Harganya bagus,” katanya.
Pengembangan kepariwisataan Dieng juga merujuk pada kesepakatan bersama. Penduduk lokal kompak menyediakan penginapan tanpa intervensi pemodal luar daerah. “Biar warga asli Dieng yang mengelola. Menghindari ketimpangan kalau ada investor besar,” ujar Ghozi.
Dia merinci harga sewa rumah singgah per malam di Dieng mulai berkisar 300 ribu–1 juta rupiah. Kamar model kabin dibanderol sejuta, bisa diisi empat orang. Meringankan pelancong. “Kami berusaha tidak [terlalu] komersial. Orang Dieng itu ramah menyambut tamu. Senang kalau ada yang berkunjung,” pungkasnya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.


