TRAVELOG

Memori Jambu Mete di Sikkodasere

Di suatu sore, pekan kedua tahun 2025 lalu, bersama Mawar, adik bungsu saya, kami menyusuri kampung kami sendiri, Sikkodasere. Secara geografis masuk wilayah Desa Kanaungan di Labakkang, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Telusur kampung sendiri merupakan program yang coba kami terapkan setahun belakangan di Sikkodasere Pustaka, komunitas yang kami bentuk bersama sejumlah kawan di kampung.

Kira-kira, muasalnya dimulai ketika bapak saya, Ansyar Abdullah—akrab disapa Daeng Tantang—yang menerangkan kalau di kampung masih ada warga yang hingga kini masih melakoni pekerjaan sebagai pengupas jambu mete. Dalam bahasa setempat disebut mappeppa lase’ jampu (Bugis: mengupas kulit buah jambu mete).

Daeng Lebbi mengupas jambu mete (Muhammad Syawal Saputra)
Daeng Lebbi mengupas jambu mete/Muhammad Syawal Saputra

Menemui Daeng Lebbi

Sore itu kami berjalan kaki sekitar 300 meter dari rumah, lalu sampai di halaman rumah Husnaeni (Daeng Lebbi) yang tengah sibuk menjahit. Ia tidak sedang mengupas jambu mete karena harus menyelesaikan pesanan jahitan bantal.

Di tengah kesibukannya menjahit, ia tetap mengizinkan saya melihat alat yang biasa digunakan untuk mengupas kulit jambu mete. “Jambu yang saya kupas sekarang ini berasal dari Desa Padanglampe. Kami mendapat pembagian dari pengepul,” ungkapnya.

Kurun waktu pengupasan biasanya tidak menentu, kadang empat sampai lima hari jika tidak ada kesibukan lain. Bisa lebih lama, jika para pengupas menyelinginya dengan aktivitas yang lain.

“Saya memulai pekerjaan ini setelah tamat SMA pada tahun 2000 sampai sekarang,” ujar Daeng Lebbi kemudian.

Sebelum pekerjaan mengupas jambu mete dilakukan secara mandiri di rumah warga, aktivitas ini dulunya terpusat di satu lokasi, yakni di rumah Sudirman, seorang pengepul di Kampung Sikkodasere.

“Biasanya ada biji jambu yang pecah setelah dikupas. Kalau sudah begitu, harganya turun, bahkan perusahaan tidak mau mengambilnya. Karena itu, saya minta dikerjakan di kolong rumah saya agar bisa diperiksa sejak awal,” tutur Sudirman.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran dalam pola kerja karena adanya keluhan dari para suami soal urusan rumah tangga yang kerap tidak terselesaikan. Sebab, para pappepa—sebutan pekerja pengupas jambu mete—didominasi perempuan, khususnya ibu-ibu rumah tangga. 

Melihat kondisi tersebut, akhirnya pengupasan jambu mete diperbolehkan untuk dilakukan di rumah masing-masing. Kebijakan ini dianggap sebagai solusi yang lebih fleksibel. Sebab, para ibu tetap bisa mengerjakan aktivitas domestik dan ekonomi tanpa harus meninggalkan rumah.

Kolong rumah Sudirman, yang dulunya menjadi tempat pengupasan jambu mete (Muhammad Syawal Saputra)
Kolong rumah Sudirman, yang dulunya menjadi tempat pengupasan jambu mete/Muhammad Syawal Saputra

Daerah Sebaran Luas

Memasuki awal dekade 1980-an, jambu mete hadir sebagai bagian dari lanskap keseharian masyarakat di wilayah Kecamatan Labakkang. Pohon buah ini tumbuh dengan mudah dan dapat dijumpai di berbagai ruang hidup warga, mulai dari pekarangan hingga lahan sekitar perkampungan. Pada masa itu, jambu mete tidak hanya dikenal sebagai tumbuhan liar, tetapi perlahan menjadi komoditas yang menyatu dengan pola hidup dan penghidupan masyarakat.

Keberadaan jambu mete tersebar di sejumlah perkampungan, seperti Kanaungan, Kassiloe, Bara Batu, dan Taraweang. Semua desa tersebut masuk dalam wilayah Kecamatan Labakkang.

Penyebarannya tidak berhenti pada satu kecamatan semata, tetapi juga meluas ke wilayah lain, seperti Padang Lampe, Attang Salo, Ale dan Sipitto di Kecamatan Ma’rang. Lalu ada Tabo-Tabo, serta sebagian kawasan Kampung Sela di Desa Mangilu, Kecamatan Bungoro. Persebaran ruang tumbuh jambu mete tersebut mencerminkan keterkaitan antara kondisi geografis, praktik bercocok tanam, dan strategi bertahan hidup masyarakat pada masa itu.

Kondisi tersebut dimungkinkan karena jambu mete tumbuh secara alami tanpa melalui program distribusi bibit dari pemerintah. Tak jarang ditemukan tumbuh dengan sendirinya. Kelelawar, mamalia bersayap itu, juga punya andil sebagai penyemai alami karena hanya memakan daging buahnya dan menyisakan biji yang jatuh ke tanah. Jika tidak dipungut perlahan akan tumbuh.

Kiri ke kanan: jambu mete sebelum dikupas, kulit jambu mete setelah dikupas, dan biji jambu mete/Muhammad Syawal Saputra

Komoditas Ekspor

Pada masanya, Kabupaten Pangkep dikenal sebagai salah satu daerah penghasil jambu mete terbesar di Sulawesi Selatan, disusul Kabupaten Muna dan Raha di Sulawesi Tenggara. Jambu mete asal Pangkep memiliki daya tarik tersendiri, karena daging buah dan bijinya lebih besar dibandingkan dengan daerah lain. Kekhasan itu menjadikan jambu mete Pangkep lebih diminati pasar.

Sistem pengelolaan yang diterapkan masyarakat pada waktu itu dikenal dengan pola: petik, olah, jual. Sebuah rangkaian kerja yang mencerminkan keterlibatan langsung keluarga dalam seluruh proses produksi, mulai dari pemetikan hingga penjualan.

Dalam dinamika pengelolaan jambu mete, warga mengambil peran yang beragam sesuai dengan posisi dan sumber daya yang dimiliki. Tidak hanya mereka yang memiliki lahan kebun dan menjual hasil panennya, sebagian warga lain juga memanfaatkan momentum musim jambu mete sebagai pengumpul.

Pola ini membentuk rantai distribusi lokal yang saling terhubung: ada warga yang menjualnya langsung ke pasar. Apabila harga yang ditawarkan pengumpul setara dengan harga pasar atau sedikit lebih tinggi, warga cenderung memilih menjualnya ke pengumpul.

Selanjutnya, biji jambu mete yang telah terkumpul akan dijual kembali oleh pengumpul kepada pengepul lebih tinggi (bermodal banyak). Dari tangan pengepul inilah jambu mete kemudian dibawa ke kawasan distribusi yang lebih luas, termasuk ke perusahaan-perusahaan yang berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA), sebuah pusat perdagangan dan pengolahan yang berlokasi di Daya, Makassar. Rantai distribusi ini menunjukkan bagaimana jambu mete menghubungkan ruang kampung dengan jaringan ekonomi perkotaan.

Tugu jambu mete di dekat kampung (Muhammad Syawal Saputra)
Tugu jambu mete di dekat kampung/Muhammad Syawal Saputra

Dari Permainan ke Jajanan

Dalam ingatan masa kecil saya di tahun 2003 hingga 2009, musim jambu mete kerap menjadi penanda waktu yang dinanti. Saya dan teman sejawat sering bangun lebih awal untuk memungut jambu mete di malam buta hingga menjelang dini hari. Kami, anak-anak itu, memunguti buah yang telah dimakan kelelawar.

Setelah terkumpul, hasil pungutan lalu ditimbang. Aktivitas ini digemari karena dapat menjadi tambahan uang jajan. Bahkan, sebagian anak tidak lagi meminta uang saku karena telah memperoleh penghasilan dari penjualan jambu mete.

Nasrul, rekan semasa kecil, adalah salah satu dari sekian banyak anak di Kampung Sikkodasere yang kerap berburu jambu mete. “Dulu kalau subuh mi pergi maki massulo1 di kebunnya Puang Ngago, Daeng Nuru, dan Masuri sampai jam enam pagi, baru siap-siap pergi sekolah. Pulang dari sekolah baru dilanjut lagi, biasa juga naik sepeda ke Bulu Sipong pergi cari lase’ jampu,” kenang Nasrul. 

Jika harga jambu mete turun, anak-anak di kampung biasa melakukan permainan mattaru lase’ jampu. Permainan ini secara aturan dan praktik sama seperti permainan ma’baguli (bermain kelereng) yang dimainkan minimal dua orang. Arena yang telah disiapkan berupa lingkaran atau horizontal di permukaan tanah, dengan taruhan biji jambu mete yang telah dikumpulkan di dalam lingkaran sesuai kesepakatan jumlah taruhan.

Para pemain akan melakukan suten untuk menentukan siapa yang mendapat giliran pertama untuk ma’detti (menjetikkan jarinya). Pemain yang mengenai taruhan lalu keluar dari arena, maka biji jambu mete itu adalah miliknya.

Permainan tradisional ini sebenarnya dilakukan sebagai siasat menghilangkan rasa bosan tatkala harga jambu mete menurun. Selain itu juga sebagai ruang berbagi cerita anak-anak tentang berapa banyak jumlah biji jambu mete yang telah didapatkan. Melalui permainan ini pula, secara tidak sadar dapat melatih motorik anak, sportivitas, serta membentuk karakter mandiri, jujur, percaya diri dan kemampuan berpikir kritis.

Dulunya permainan ini sangat ramai dilakoni anak-anak di kampung. Kini, situasinya sudah berubah, tidak ada lagi janji temu menaruhkan biji jambu mete. Bahkan, permainan ini tidak tersimpan dalam memori tubuh anak-anak yang tumbuh belakangan.

Jika biji jambu mete bisa dijadikan wahana bermain, maka daging buahnya bisa diolah menjadi jajanan. Seorang guru sekolah dasar saya pada masa itu mengolahnya menjadi es. Kami sering menyebutnya dengan istilah lokal: es gamo (es jambu). Gamo (Bugis: daging buah jambu) dipotong kecil-kecil, ditusuk, kemudian dibekukan di dalam kulkas. Harga satu tusuk es jambu seratus rupiah dengan isi lima hingga enam potong buah.

Alat pengupas jambu mete (Muhammad Syawal Saputra)
Alat pengupas jambu mete/Muhammad Syawal Saputra

Seiring waktu, perubahan sistem perdagangan turut menggeser cara warga memaknai nilai jambu mete. Masuknya pasar yang lebih terpusat, standar timbangan, serta sistem harga per kilogram yang lebih ketat mengubah relasi ekonomi yang sebelumnya lentur dan berbasis komunitas. Jambu mete tidak lagi semata dipahami sebagai hasil alam yang menyokong kehidupan kampung, tetapi komoditas pasar yang tunduk pada fluktuasi harga dan jaringan distribusi yang lebih luas. 

Perubahan waktu kemudian menghadirkan pergeseran makna: dari komoditas yang melekat pada ingatan kolektif dan relasi sosial, menjadi bagian dari sistem pasar yang lebih terstandar dan terpusat. 

Namun, ingatan tentang jambu mete, tentang perjalanan kaki, memungut biji jambu mete di malam hari, uang pecahan kecil, dan kebersamaan tetap hidup dalam narasi warga. Ingatan-ingatan inilah yang menjadikan jambu mete bukan sekadar tanaman atau komoditas, melainkan penanda sejarah hidup warga dan perubahan lanskap sosial-ekonomi kampung.


  1. Massulo, berasal dari kata sulo, alat penerang berupa pelita berbahan minyak tanah. Seiring waktu minyak tanah tidak lagi beredar, praktis kegiatan massulo menggunakan lampu senter yang mulai banyak beredar. Namun, aktivitas ini sepertinya sudah jarang dilakukan lagi. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Syawal Saputra

Muhammad Syawal Saputra, memiliki ketertarikan terkait pengembangan literasi, eksplorasi sosial budaya, lingkungan, dan komunitas. Saat ini sementara mengelola perpustakaan di kampungnya sebagai bentuk komitmen dalam membangun budaya baca dan ruang belajar bagi masyarakat. Hobi berkebun, beternak, traveling, diskusi, membaca dan menulis.

Muhammad Syawal Saputra

Muhammad Syawal Saputra, memiliki ketertarikan terkait pengembangan literasi, eksplorasi sosial budaya, lingkungan, dan komunitas. Saat ini sementara mengelola perpustakaan di kampungnya sebagai bentuk komitmen dalam membangun budaya baca dan ruang belajar bagi masyarakat. Hobi berkebun, beternak, traveling, diskusi, membaca dan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Lukisan Purba di Kepala Haeruddin