EVENTS

Menonton Pementasan Wayang Orang Ngesti Pandowo

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.05, tetapi belum ada tanda-tanda pementasan ini akan selesai. Di panggung sedang berlangsung adegan pertemuan antara Hanoman dan Bima. Sementara itu, barisan kursi penonton sudah kosong ditinggal para penonton yang telah beranjak pulang. Masih diperlukan beberapa adegan lagi sebelum pementasan wayang orang malam ini selesai.

Malam ini adalah malam perayaan HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo. Acara digelar di Gedung Ki Narto Sabdo yang berada di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Kota Semarang.

Acara pementasan dimulai dengan alunan gending jawa yang disajikan oleh para sinden dan niyaga yang dipimpin oleh Githunk Sugiyanto. Kemudian dilanjut dengan penampilan para penari dari sanggar seni yang ada di Semarang, seperti Sanggar Sobokartti dan Sanggar Sekar Arum. Penampilan para penari ini untuk memeriahkan malam perayaan tersebut.

Prosesi pemotongan tumpeng bersama wali kota dan Ngesti Pandowo (Rivai Hidayat)
Prosesi pemotongan tumpeng bersama wali kota dan Ngesti Pandowo/Rivai Hidayat

Wayang Orang Ngesti Pandowo

Wayang Orang Ngesti Pandowo didirikan pada 1 Juli 1937 di Madiun. Pendirinya adalah Ki Sastro Sabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo. Kelompok wayang orang ini lahir dari Pasar Malam Oranye yang ada di Alun-alun Madiun.

Setelah sukses di Jawa Timur, Ngesti Pandowo mulai mencoba peruntungannya di Kota Semarang. Pada tahun 1953, Wali Kota Semarang saat itu, Hadisoebeno Sasrowardojo, menawari Ngesti Pandowo untuk menempati lahan di komplek Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Setelah mengalami beberapa kali pindah lokasi pementasan, saat ini Ngesti Pandowo mengadakan pentas di Gedung Ki Narto Sabdo.

Pada bulan Mei lalu, Ngesti Pandowo melakukan pementasan di Pasar Indonesia yang ada di Rijswijk, dan Theater De Klif, Nijmegen, Belanda. Dalam pementasan itu, Ngesti Pandowo memainkan lakon Sang Srikandi, Sang Bima, Petruk Dadi Ratu, Sang Gatotkaca, dan Dewa Ruci. Selain itu, juga diadakan lokakarya Tari Gugur Gunung dan Tari Selendang Biru yang diikuti oleh pengunjung festival.

Adegan pertempuran/Rivai Hidayat
Adegan pertempuran/Rivai Hidayat

Wali Kota ikut Pentas

Pementasan wayang malam ini juga dimeriahkan dengan penampilan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, beserta para istri pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Semarang. Agustina WIlujeng memerankan tokoh Sang Hyang Wenang.

Wali Kota Semarang juga menyampaikan, pengembangan Ngesti Pandowo merupakan bagian dari strategi besar menjadikan TBRS sebagai rumah bagi beragam aktivitas seni dan budaya di Kota Semarang. Beliau juga menyerahkan bantuan berupa kostum wayang kepada Ketua Ngesti Pandowo, Joko Mulyono. Kostum wayang yang lama akan disimpan di museum sebagai sarana edukasi bagi generasi selanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Semarang juga melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol perayaan hari ulang tahun ke-89 Ngesti Pandowo. Selain itu, beliau juga menyerahkan tanda tresno kepada para keturunan pendiri Ngesti Pandowo. Salah satunya kepada Bagyo yang memerankan Gareng pada pementasan malam ini.

Penampilan Arjuna dan empat Punakawan yang menghibur (Rivai Hidayat)
Penampilan Arjuna dan empat Punakawan yang menghibur/Rivai Hidayat

Lakon Wahyu Purba Sejati

Dalam pementasan kali ini, Ngesti Pandowo memainkan lakon Wahyu Purbo Sejati. Budi Lee bertugas sebagai sutradara. Lakon Wahyu Purbo Sejati bercerita tentang turunnya sebuah wahyu hasil penjelmaan dari roh Prabu Sri Rama dan Raden Lesmana.

Di dalam cerita juga diceritakan roh Prabu Rahwana yang lepas dan menjelma dalam tubuh Prabu Godayitma. Dalam perjalanannya, Prabu Godayitma akan menghasut Ditya Kunjanawresa untuk menyerang Kerajaan Dwarawati dan menculik Dewi Subadra yang merupakan titisan dari Dewi Sinta.

Goro-goro menjadi bagian yang selalu ditunggu-tunggu oleh penonton. Bagian yang menampilkan para Punakawan—Semar, Gareng, Petruk, Bagong—ini selalu menyajikan adegan komedi sehingga sering kali mengundang gelak tawa dan tepuk tangan dari para penonton. Seperti ketika bagian Bagong memperkenalkan diri dengan sebutan MBG yang berarti Mas Bagong Ganteng. Gareng pun tidak mau kalah. Dia juga mengenalkan diri dengan MBG yang berarti Mas Bagyo Ganteng. Bagyo adalah nama asli dari pemeran Gareng.

Prabu Kresna, Prabu Baladewa, dan Raden Arjuna merupakan tiga sosok yang mendapatkan Wahyu Purbo Sejati. Prabu Kresna mendapatkan wahyu purbo dari roh Sri Rama. Raden Arjuna mendapatkan wahyu sejati dari Raden Lesmana, sedangkan Prabu Baladewa mendapatkan wahyu wahdat yang merupakan bagian dari wahyu sejati milik roh Raden Lesmana.

Ketiganya menerima wahyu ketika bertapa di Gunung Gandamadana. Batara Narada yang hadir dalam penerimaan wahyu tersebut, menyebut ketiganya dinilai sosok yang tepat untuk menerima wahyu dari Prabu Sri Rama dan Raden Lesmana.

Bagian akhir pementasan wayang orang dengan lakon Wahyu Purbo Sejati ditutup dengan pertarungan antara Bima dan Hanoman melawan Prabu Godayitma dan Ditya Kunjanawresa. Bima dan Hanoman berhasil mengalahkan keduanya.

Adegan pemungkas yang menjadi bagian akhir pementasan (Rivai Hidayat)
Adegan pemungkas yang menjadi bagian akhir pementasan/Rivai Hidayat

Catatan dari Seorang Penonton

Sekitar pukul 00.05 WIB, pementasan wayang orang dalam rangka merayakan HUT ke-89 Ngesti Pandowo telah berakhir. Penonton berhamburan meninggalkan gedung pementasan. Beberapa penonton lainnya memanfaatkan momen untuk berfoto bersama para tokoh wayang.

Pementasan malam ini bisa dibilang lebih lama dari biasanya. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh alur cerita yang panjang atau molornya acara. Namun, aku sangat menikmati pementasan malam ini. Salah satunya adalah adegan pertarungan selama pementasan. 

Sering kali adegan pertarungan melibatkan banyak pemain. Sutradara dan koreografer sangat jeli dalam memanfaatkan ruang yang ada di panggung. Adegan menjadi lebih dinamis dan tetap harmonis. Semuanya gerakan diatur dengan sangat baik. Penampilan para pemain juga didukung dengan penataan musik dan visual yang mewakili setiap adegan.

Selain itu, sering kali dialog dalam pementasan mengangkat isu-isu atau sesuatu yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat. Pementasan wayang orang memang bisa menjadi media untuk membahas isu-isu yang ada di masyarakat. Tentu saja ini perlu disambut dan dirayakan karena pementasan wayang orang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Kini, kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo telah berusia 89 tahun dan telah menjelma menjadi ikon kesenian dan kebudayaan di Kota Semarang. Perayaan ini sekaligus menunjukkan eksistensi Ngesti Pandowo dalam dunia seni pertunjukkan. Seperti slogan yang sering diteriakan oleh para pemainnya. Ngesti Pandowo: Masih Ada!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Avatar photo

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelisik Jejak Pers di Pecinan Semarang