Travelog

Buka Puasa Menyantap Nasi Ulam Misjaya

Gong mulai dipukul dan berdengung kencang. Lilin-lilin mulai menyala. Lampion-lampion yang menggantung juga mulai memancar. Cahayanya membuat pilar-pilar dan sudut-sudut wihara yang terletak di barat Jakarta itu kelihatan makin elegan. Malam itu terasa begitu indah, sebab saya buka puasa makan sepiring nasi ulam khas Jakarta ditemani pemandangan menawan khas wihara.

Perjuangan saya untuk berbuka puasa menyantap nasi ulam di wihara hari itu lumayan heroik. Dari Palmerah saya mesti naik bis Transjakarta jurusan Blok M-Kota lalu turun di Halte Glodok. Setelah menuruni tangga di sisi kiri, saya masuk ke sebuah jalan kecil bernama Kemurnian I. Tawaran tumpangan dari abang becak saya balas dengan gelengan; saya mau jalan kaki saja menembus kawasan pecinan. Toh sebentar saja, hanya sekitar lima menit, hanya sekitar 500 meter.

Gerobak Nasi Ulam Misjaya/Dewi Rachmanita Syiam

Jalan pun semakin mengecil. Sekarang pemandangan adalah ruko dan rumah bertingkat yang berhimpitan. Jejeran pagar besi tinggi menjulang memisahkan kawasan privat dan publik. Setiba di sebuah persimpangan, aplikasi ponsel pintar mengarahkan saya untuk belok kanan melewati pasar yang masih diramaikan oleh beberapa orang penjaja roti. Sempat muncul keinginan untuk menebus satu-dua potong roti sebagai bekal takjil. Tapi, niat itu saya urungkan.

Saya memilih untuk terus berjalan, lantas belok kiri memasuki gang yang semakin kecil. Di ujung jalan selepas pos ronda, lampion-lampion merah mulai kelihatan. Apakah itu wihara? Kalau iya, berarti lokasi berbuka puasa saya sudah dekat.

Benar belaka. Itu adalah Wihara Toasebio. Di depan wihara itu orang-orang sedang berkerumun mengelilingi sebuah gerobak yang ukurannya tak terlalu besar. Di muka gerobak itu terpampang sebuah spanduk bertuliskan “CIPTA RASA NASI ULAM MISDJAYA,” lengkap dengan alamat, nomor telepon, info bahwa mereka menerima pesanan, serta gambar santapan yang dijual. Di bagian atas gerobak ada beberapa plastik berisi kerupuk yang warna merahnya senada dengan latar.

nasi ulam misjaya
Bahan-bahan nasi ulam/Dewi Rachmanita Syiam

Tapi masih terlalu dini untuk memesan, sebab sekarang masih pukul 16.30. Alhasil—meskipun perut sudah meronta-ronta—saya duduk-duduk dulu di halaman wihara sembari menunggu azan Magrib berkumandang.

Lima belas menit sebelum berbuka, saya pun menghampiri gerobak Nasi Ulam Misjaya. “Bang, pesen sekarang, deh. Satu, ya,” ujar saya. “Pakai dendeng dan perkedel.”

Sebuah “melting plate”

Tenggorokan saya langsung basah menghadapi secentong nasi putih penuh taburan kacang tanah halus, bihun goreng, rajangan timun, kerupuk merah, emping, bawang goreng, dan daun kemangi (plus dendeng dan perkedel kentang—side dish) yang disiram kuah semur.

nasi ulam misjaya
Beberapa orang pelanggan sedang menyantap nasi ulam/Dewi Rachmanita Syiam

Dan ternyata nasi ulam racikan Misjaya tak hanya sedap dipandang. Begitu azan Magrib berkumandang dan sesendok nasi ulam masuk ke mulut, indra pengecap saya langsung bereaksi mendapati harmonisasi rasa nasi, kacang tanah, dan kuah semur. Bihun goreng yang teksturnya khas, rajangan timun yang segar, dan aneka lauk-pauk menghadirkan sensasi yang akan susah saya lupakan.

Dendengnya empuk dan rasanya cenderung manis, tapi tak sampai giung atau berlebihan. Kerupuk merah dan emping yang disiram kuah jadi pengalaman baru di lidah. Daun kemangi, bak pasukan penjaga perdamaian, menetralkan aneka rasa yang berpadu itu.

Seporsi nasi ulam yang sudah “becek” itu disertai oleh semangkuk kuah khas. Entah mengapa, nuansanya agak berbeda dari nasi ulam. Lebih light. Mirip kuah rawon tapi tidak sekental itu. Rasanya enak dan bikin ketagihan.

nasi ulam misjaya
Seporsi nasi ulam ala Misjaya/Dewi Rachmanita Syiam

Dipikir-pikir, nasi ulam ini seperti Jakarta, tempat berbagai unsur bertemu dan menyatu. Jika Jakarta bisa disebut sebagai “melting pot,” nasi ulam Misjaya barangkali bisa dikatakan sebagai sebuah “melting plate.” Semurnya—atau smoor-nya—adalah warisan Belanda. Bihun goreng, cumi asin, dan kacang tanah halus adalah tanda-tanda eksistensi anasir Tionghoa. Emping, kerupuk, dan daun kemangi adalah unsur-unsur yang mewakili budaya Nusantara.

Pelan-pelan saya menyantap nasi ulam ala Misjaya. Ketika piring itu akhirnya kosong, saya merasa seperti sedang mengakhiri sebuah petualangan; petualangan rasa. Saat membayar (tidak sampai Rp50.000) saya merasa sepertinya saya akan jadi pelanggan setia Nasi Ulam Misjaya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Related posts
Travelog

Bermain dan Belajar bersama "Art For Children" di TBY

Travelog

Menelusuri Jejak Sejarah Masa Lalu Kota Lama-Pecinan Semarang*

Pilihan EditorTravelog

Mengulang Waktu di Timur: Pala, Muara, dan Kejora (3)

Pilihan EditorTravelog

Memagari Ombak: Cerita Selancar Sumba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *