Travelog

Berwisata ke Museum Benteng Vredeburg

Yogyakarta sebuah kota yang konon katanya selalu meninggalkan kerinduan bagi siapa yang pernah ke sana. Yogyakarta memang terkenal sebagai kota pelajar dan budaya, maka sangat wajar sekali jika orang-orang baik dari luar kota, luar pulau, dan bahkan dari mancanegara yang berkunjung ke sini. Yogyakarta memang selalu menjadi pilihan bagi para pelajar untuk mencari ilmu dan wisatawan untuk liburan atau berwisata. Salah satu tempat di Yogyakarta yang menyajikan tempat wisata sekaligus edukasi adalah Museum Benteng Vredeburg.

Lokasi dan Tiket Masuk

Letak Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan nol kilometer pusat Kota Yogyakarta. Alamat lengkapnya ada di Jalan Margomulyo No. 6 Yogyakarta 55121. Museum ini dikelilingi beberapa bangunan bersejarah juga seperti: Gedung Agung (bekas rumah residen), Gereja Ngejaman (GPIB Margamulya), kantor BNI 1946, kantor Pos, dan kantor Bank Indonesia.

Museum Benteng Vredeburg buka setiap hari Selasa – Minggu dari jam 07.30 WIB – 16.00 WIB. Khusus hari jumat dibuka sampai pukul 16.30 WIB. Untuk harga tiket masuk sangat terjangkau dan variatif. Wisatawan mancanegara dipatok harga Rp10.000 sedangkan wisatawan domestik dipatok harga Rp3.000 untuk orang dewasa perorangan dan menjadi Rp2.000 jika masuk secara rombongan. Untuk anak-anak dipatok harga Rp2.000 dan menjadi Rp1.000 jika masuk secara rombongan.

Pengunjung foto di dalam Diorama Musuem Benteng Vredeburg/Imam Basthomi

Sejarah Singkat

Museum Benteng Vredeburg merupakan bangunan benteng yang termasuk bangunan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan eksistensinya. Benteng ini dibangun pada tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan pihak Belanda pada saat itu. Maksud pembangunan benteng tersebut adalah dengan dalih menjaga keamanan keraton dan sekitarnya, akan tetapi dibalik itu semua Belanda sebenarnya hanya ingin mengawasi dan mengontrol gerak-gerik dan perkembangan keraton. 

Pada awalnya Benteng dibangun secara sederhana. Benteng direnovasi untuk dipermanenkan keberadaanya pada tahun 1976. Renovasi selesai pada tahun 1787 dan diberi nama Rustenburg (benteng peristirahatan). Pada tahun 1867 terjadi bencana gempa bumi yang menyebabkan rusaknya beberapa bagian di benteng. Akhirnya benteng direnovasi lagi dan namanya diubah menjadi Vredeburg (benteng perdamaian).

Secara historis status kepemilikan dan fungsi benteng silih berganti. Pada tahun 1985 Sri Sultan HB IX mengijinkan dilaksanakannya perubahan bangunan untuk museum dan pada tahun 1987 barulah dibuka untuk masyarakat umum. Pemerintah melalui SK Mendikbud No. 0475/0/1992 secara resmi menetapkan benteng Vredeburg sebagai Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg.

Koleksi Museum

Jika kita melihat Museum Benteng Vredeburg dari atas maka bentuk benteng tersebut menyerupai bentuk kura-kura. Museum ini menempati tanah seluas 46.574 m2. Dengan tanah seluas itu Museum Benteng Vredeburg memiliki banyak koleksi-koleksi yang mana jika kita kunjungi semua bisa seharian penuh.

Denah Museum Benteng Vredeburg/Imam Basthomi

Jenis-jenis koleksi di Museum Benteng Vredeburg terbagi menjadi 4, yakni:

  1. Koleksi pertama adalah koleksi bangunan. Koleksi jenis ini terdiri parit, jembatan, tembok (benteng), pintu gerbang, dan bangunan-bangunan yang berada di dalam benteng seperti kantor, barak, penjara, gudang senjata dan lain sebagainya. 
  2. Koleksi kedua adalah koleksi Realia, yakni koleksi yang berupa benda material yang benar-benar ada (bukan tiruan) dan berperan langsung dalam peristiwa sejarah. Contohnya seperti peralatan rumah tangga, naskah-naskah, senjata, alat-alat dapur, dan lain sebagainya.
  3. Koleksi ketiga berupa koleksi foto, miniatur, replika, lukisan, atau benda-benda hasil visualisasi lainnya.
  4. Koleksi keempat adalah koleksi adegan peristiwa sejarah dalam bentuk minirama. Koleksi ini terbagi menjadi 4 diorama. Diorama 1 menggambarkan peristiwa sejarah periode perang Diponegoro sampai dengan masa pendudukan jepang di Yogyakarta (1825-1942). Diorama 2 menggambarkan peristiwa sejarah sejak proklamasi kemerdekaan dengan agresi militer Belanda I (1945-1947). Diorama 3 menggambarkan peristiwa sejarah periode Perjanjian Renville sampai dengan pengakuan Kedaulatan RIS (1948-1949) sedangkan diorama 4 menggambarkan peristiwa sejarah sejak terbentuknya NKRI sampai dengan masa Orde Baru (1950-1974).

Fasilitas

Kurator menjelaskan koleksi museum Benteng Vredeburg//Imam Basthomi

Pada dasarnya setiap museum memiliki fungsi sebagai tempat pendidikan dan rekreasi. Dalam upaya peningkatan pelayanan kepada masyarakat, Museum Benteng Vredeburg memiliki fasilitas-fasilitas umum yang dapat dimanfaatkan ke dalam berbagai kegiatan. Fasilitas tersebut antara lain:

  1. Halaman luar museum: Area Publik, Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949, dan Taman Luar.
  2. Halaman dalam museum: Anjungan, Bastion, Taman Dalam.
  3. Perpustakaan
  4. Coworking Space, Kids Corner, Ruang Laktasi, dan Ruang PPPK.
  5. Hotspot Area
  6. Ruangan-ruangan di dalam benteng yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang rapat, seminar, diskusi, dan pameran.

Selain fasilitas-fasilitas yang disebutkan diatas, Museum Benteng Vredeburg memiliki fasilitas baru. Fasilitas tersebut adalah Mini Studio sebagai ruang pengenalan untuk memutar film-film dokumenter atau pengenalan museum, Media interaktif berupa layar sentuh pada diorama 1 dan 2, dan ruang audio visual untuk pemutaran film perjuangan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Imam Basthomi tinggal di Nganjuk, ditengah kesibukannya menjadi mahasiswa di uinsuka, Basthomi menekuni sejarah, pariwisata, museum dan cagar budaya lainnya.

Imam Basthomi tinggal di Nganjuk, ditengah kesibukannya menjadi mahasiswa di uinsuka, Basthomi menekuni sejarah, pariwisata, museum dan cagar budaya lainnya.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Pelawatan Singkat ke Museum Tsunami Aceh