Travelog

Perjalanan Singkat ke Sawahlunto

Percaya atau tidak, perjalanan mendadak itu punya peluang lebih besar untuk terlaksana ketimbang perjalanan yang penuh dengan persiapan dan direncanakan sejak lama. Setidaknya, itu yang saya rasakan sendiri selama ini.

Jumat malam tepatnya pada 4 September 2020, tiba-tiba muncul notifikasi di ponsel saya dari orang terdekat, ia mengajak bepergian. Sontak langsung saja saya respon pesan tersebut dan mengatakan “ayo.” Akhirnya didapatkan kesepakatan bahwa kami—saya beserta Kak Onya, Bang Denas, Bang Faisal) akan pergi ke Sawahlunto hari Minggu, 6 September 2020. 

Di Minggu pagi, kami semua berkumpul di kos saya. Sebelum berangkat tentunya tidak lupa untuk sarapan. Bagi orang Padang, sarapan yang terenak adalah lontong gulai atau lontong pical. Namun saya lebih memilih untuk mengambil donat gula yang sangat saya sukai dan tentunya sangat murah, hanya Rp1 saja. 

Setelah selesai sarapan, kami langsung bergerak pergi ke Sawahlunto. Perjalanan dari Padang menuju Sawahlunto diperkirakan sekitar 2,5 – 3 jam. Saya berpasangan dengan Bang Faishal, dan Kak Onya berpasangan dengan Bang Denas. 

Museum Situs Lubang Tambang Mbah Suro
Perjalanan menuju Sawahlunto/Pitnia Ayu Saputri

Sungguh, perjalanan dari Padang ke Sawahlunto sangatlah menyenangkan. Kami melewati Sitinjau Laut yang curam namun sangat udaranya sangat sejuk. Sepanjang jalan, kami hanya ditemani pepohonan hijau. Padahal kami pergi pada hari Minggu, namun tidak terlalu banyak kendaraan lalu lalang. Perkiraan saya, mungkin saja karena hari masih pagi. Setelah melewati Sitinjau Laut, kami pun masuk ke daerah Kabupaten Solok. Susana perjalanan pun masih sama.

Singkat cerita, kami sampai di simpang Muaro Kalaban. Di sana kami bertemu dengan Bang Zilal lalu bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Lapangan Segitiga, Sawahlunto. Di lapangan tersebut, kami bertemu dengan Bang Adhmi, dan pasukan perjalanan singkat inipun lengkap.  

Setelah melepas lelah sebentar, kami kemudian menyusun rencana untuk mengitari Sawahlunto. Tujuan pertama adalah Museum Situs Lubang Mbah Suro. 

Menyusuri Museum Situs Lubang Tambang Mbah Suro

Tiba di parkiran, kami segera masuk ke dalam museum tersebut. Sesuai dengan namanya, tempat ini adalah kawasan museum, namun ada juga lubang-lubang galian yang dulunya digunakan untuk tambang di sini.

Sebelum masuk, tentu saja kami harus menaati protokol kesehatan yang berlaku seperti memeriksa suhu tubuh dan mencuci tangan. Setelah diperkenankan masuk, terdapat iuran yang harus dibayar untuk setiap pengunjung, harganya bisa dibilang tidak mahal. Dengan Rp10 ribu saja, kita sudah bisa mendapatkan banyak informasi di museum sekaligus kita diperkenankan masuk ke lubang tambang tersebut. 

Kami memutuskan untuk mengunjungi museum terlebih dahulu, melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya. Layaknya museum, di sana terdapat benda-benda peninggalan sejarah. Ada pakaian, senjata, serta peralatan yang digunakan pada zamannya. Ada juga mading yang berisi informasi untuk menjelaskan mengenai perjalanan tempat ini waktu ke waktu.

Museum Situs Lubang Tambang Mbah Suro
Museum Lubang Tambang Mbah Suro/Pitnia Ayu Saputri

Setelah puas berkeliling dan mendapatkan banyak sekali informasi, kami menuju ke Lubang Mbah Suro. Sebelum masuk, kami diminta untuk menyimpan tas dan seluruh barang bawaan di loker, tak lupa kami juga mengganti alas kaki dengan sepatu boot dan mengenakan helm tambang. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan, karena di dalam cukup licin, berbahaya jika mengenakan sepatu biasa.

Tidak lupa kami berswafoto. Di halaman museum terdapat sebuah miniatur yang menggambarkan kondisi penambangan pada zaman dahulu. Lanjut, kami dikumpulkan oleh pemandu Lubang Tambang Mbah Suro dan diberikan instruksi di sana. 

Setelah itu, kami masuk mengikuti arahan dari pemandu. Gelap dan licin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan di dalam lubang. Kami turun menggunakan tangga dan disinari oleh cahaya senter. Selama menyusuri lubang, pemandu menceritakan banyak sekali informasi edukasi terkait dengan lubang. Di tengah perjalanan, kami menemukan sekop dan juga peralatan tambang lainnya. Di sana kami diperbolehkan untuk berfoto namun hanya sebentar saja.

Lubang yang dapat dimasuki pun tidaklah panjang karena pada bagian dalam terdapat genangan air dan kadar oksigen rendah. Tentunya, kondisi ini tidak baik untuk manusia. Bahkan kami yang hanya masuk sebentar saja dalam bagian yang aman saja, merasa pengap.

Saat ini, bagian dalam lubang tersebut hanya diperbolehkan masuk oleh orang tertentu seperti para penambang maupun mahasiswa jurusan tambang. Walaupun masuk ke bagian yang lebih dalam, mereka juga tidak dapat masuk ke bagian terdalam karena atmosfer di sana sangat tidak cocok untuk manusia. Saya pun berpikir, lantas bagaimana ya dengan orang yang dulu bekerja di dalam sana?

Kami terus mengikuti arahan pemandu, hingga akhirnya tiba di pintu keluar lubang tambang. Singkat namun bermakna, itulah yang bisa saya deskripsikan dari perjalanan di Situs Lubang Tambang Mbah Suro ini.

Karena hari sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB dan sudah masuk waktu salat, kami memutuskan untuk salat terlebih dahulu di Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto sebelum melanjutkan perjalanan. Dahulu masjid ini merupakan bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), namun karena tambang tidak berjalan lagi, bangunan tersebut dijadikan masjid. Nah, salah satu pintu keluar dari lubang tambang tadi adalah di masjid ini. 

Puncak Cemara, melihat Sawahlunto dari ketinggian

Tempat kedua yang kami kunjungi setelah salat dan makan siang adalah Puncak Cemara. Di Puncak Cemara ini kita bisa melihat pemandangan Sawahlunto dari ketinggian. Sayangnya, tempat satu ini tidak terawat. Sekitar dua tahun sebelumnya, saya pernah ke sini, keadaannya jauh lebih baik. Di sini terdapat kursi-kursi taman yang bisa digunakan untuk sekedar bersantai, balon-balon yang menarik, dan juga gembok pasangan. Karenanya, kami sedikit kecewa. Padahal kami sudah mengeluarkan kocek untuk masuk ke kawasan ini.

Selama di sini, kami hanya sedikit berfoto dan berbincang-bincang di gazebo. Saat sore tiba, saya beserta rekan-rekan pun memutuskan untuk turun dan menuju Lapangan Segitiga untuk berfoto di depan kantor PT. Bukit Asam Tbk (Unit Pertambangan Ombilin). 

Di sinilah tempat terakhir perjalanan dan merupakan tempat perpisahan dengan rekan perjalanan saya kali ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya kunjungi di Sawahlunto, semoga di lain waktu lebih untuk menelusurinya.

Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *