Travelog

Merayakan Hari Raya di Lappa Laona The Green Highland

Sudah menjadi kebiasaan kami merayakan Hari Raya Idul Fitri dengan berwisata. Dan lebaran kali ini, saya berkumpul dengan teman semasa SD. Kami sepakat berlibur ke Lappa Laona, wisata alam yang terletak di Kabupaten Barru. Cukup jauh dari kampung kami yang letaknya di Kabupaten Bone karena perjalanan ke sana melewati satu kabupaten lain, yakni Soppeng.

Malamnya kami sepakat dan paginya kami berangkat dengan mobil, sebab motor tidak cukup menampung kami yang jumlahnya 12 orang. Kami sewa dua mobil. Untungnya ada beberapa teman saya yang pintar mengemudi sehingga tidak repot lagi sewa sopir saat berangkat. 

“Sarmi, pinjam kameramu dong!” Pintaku pada Sarmi saat mobil mulai menaiki pegunungan. Lokasi yang ingin kita kunjungi adalah pegunungan, tempat wisata berkemah di pinggir tebing dengan pemandangan persawahan di lereng bukit dan laut. Saat melewati lereng gunung sudah terlihat gunung menjulang, mobil terkepung pemandangan sawah menghijau karena petani baru melewati musim tanam, saya fokus mengabadikan momen itu disela-sela perbincangan mereka. 

Pemandangan bukit di puncak Lappa Laona/Yusran Ishak

“Wih keren! Ayo singgah di sini.” Ungkap Lenah saat melihat pohon pinus.

“Nanti saja kalau kita perjalanan pulang,” jawabku karena kedatangan kita bukan untuk bermalam meski yang kita datangi camp site dengan suguhan utama bintang-bintang di langit pada malam hari. Kami tidak bermalam karena teman-teman perempuan tidak dapat izin dari orangtua. Wajar saja sih, pasti orangtua mereka khawatir.

“Masih jauh tidak?” Tanya Sarmi

“Sudah dekat, tuh depan sana. Di atas gunung itu,” jawabku sambil menunjuk, karena posisi saya sekaligus penunjuk jalan.

Selang 15 menit dari pertanyaan Sarmi, kami pun sampai di tujuan. Kami lalu membayar karcis masuk Rp20.000 setiap mobil. Memasuki lokasi yang luas, dataran padang dengan rumput hijau. Sapi ternak warga berkeliaran sibuk memilih rumput untuk dia makan. Kami parkir dekat tebing dan ternyata teman di mobil yang satunya sudah lebih dulu sampai, mereka melambai tangan karena kami parkir di tempat berbeda. 

Kami tiba setelah dzuhur. Setelah turun mobil para teman perempuan sibuk memperbaiki penampilan, mempercantik diri, merias wajah, dan mengenakan aksesoris yang mereka bawa. Dari kejauhan tampak lokasi sudah mulai ramai.

Sambil mereka sibuk mempersiapkan diri, saya berjalan sendiri ke pinggir tebing. Tubuh kurus saya jalan bergoyang diterpa angin dengan kencang. Angin gunung menjamu kedatangan kami dengan sejuk. Matahari sedang cerah, tidak terlalu panas dan tidak juga terlalu dingin. Kalau tidak hati-hati, kencangnya angin bisa buat kita jatuh, tentunya kami harus waspada.

Saya berjalan menenteng kamera. Mengambil potret bunga-bunga yang tumbuh liar di bebatuan pinggir tebing, yang menari bersama angin, yang kembangnya tetap kokoh tak berjatuhan terhempas angin, dan yang menjadi alasan tertentu bagi saya untuk menepi sendiri saat berada di alam terdiam memandanginya.

“Daripada foto sembarangan mending saya kamu foto saja!” Tegur Andi dari belakang menghampiri, kedatangannya memecah lamunan saya. 

“Berdiri di sana!” Saya suruh dia berdiri di bibir tebing supaya dapat background foto pemandangan gunung tinggi meruncing yang di kakinya menempel pada sawah berwarna hijau; ditambah lagi, pemandangan laut dengan awan cerah bergerak berubah bentuk. Dia pun mengambil pose uniknya dengan kedua tangan dilebarkan di bawah dagu seperti cibi-cibi girlband padahal dia cowok.

Belum selesai mengambil foto Andi, rombongan teman-teman perempuan datang. Mereka juga ingin berfoto dengan gaya terbaiknya. Dan tentunya mereka selalu memeriksa hasil foto, menilai segala kekurangan hasilnya dan kameramen menjadi sasaran ketika hasilnya terlihat blur atau kurang bagus. Biasalah namanya juga perempuan! 

Bersama perut keroncongan, kami gabung dengan yang lain sebab bekal kami di mobil mereka. Sebelum sampai, saya mampir di warung kopi dengan Ucok.

Pesan kopi bro, kopi hitam dengan gula setengah sendok. Saya pesan kopi dengan sapaan sok akrab yang berhasil buat penjualnya tersenyum. Ucok juga pesan kopi yang sama sebab kami suka kopi yang tidak terlalu manis. Setelah kopi jadi, saya dan Ucok bergabung ke yang lain yang sibuk mempersiapkan makanan, jalan menenteng kopi di tangan kanan, sebatang rokok terselip di tangan kiri sambil di peluk angin yang agresif.

Ngopi di Lappa Laona/Yusran Ishak

Belum sempat duduk, Andi sudah menyantap makanannya . Oh ternyata dia sangat lapar. Saya kemudian duduk melingkar dengan yang lain, menyantap masakan Hardianti yang katanya disiapkan sepenuh hati. Ada mie goreng, telur dadar, telur rebus yang digoreng bulat-bulat lalu ditumis, dan juga nasi. Orang datang ke tempat ini untuk bermalam, kami malah datang untuk piknik.

Semua makan dengan lahap. Belum sempat selesai makan Inci ngomong “Ayo kita foto bareng.” Yang lain bilang “Tenang..” Sambil bergegas membereskan isi piringnya. Baru kemudian kita cari tempat foto yang bagus, minta bantuan orang lain untuk fotoin kami agar kebersamaan bisa kami abadikan. Setelahnya mereka semua sibuk mengabadikan diri dengan kamera, dua kamera profesional dan kamera ponsel bergantian kami pakai.

Saya sedikit menepi melihat mereka, duduk di batu membiarkan diri terkena terjanganangin. Memandangi mereka berpose dengan penuh gaya, entah berapa album ketika foto mereka dikumpulkan. 

Bagi saya, bunga atau mungkin rumput bagi orang yang tumbuh liar di alam memiliki nilai tersendiri. Mereka tumbuh bebas di alam tanpa bantuan manusia, tak pula terpenjara dalam pot-pot yang penuh makanan. Tapi dia tetap tumbuh dengan indah. Mereka tidak terawat namun tetap tumbuh kuat. Itu membuktikan bahwa sesuatu yang kita jaga dengan pengekangan atas alasan “merawat” tidak membuat sesuatu itu menjadi kuat, justru melemahkannya. 

Sambil duduk dan terus memperhatikan melihat mereka, saya melihat rumah-rumah kecil berderet dibangun sebagai tempat foto. Bangunan ini dikelilingi gunung berjubahkan awan, petakan hijau pesawahan diawasi burung beterbangan di atasnya. Ranting pohon saling mengirim pesan ke pantai berdebur ombak putih yang berkejaran, menarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan dengan keras bermaksud bertukar kehidupan dengan alam, inilah nikmat. 

Melihat gunung/Yusran Ishak

Tak terasa sudah pukul 4 sore, kami bergegas beranjak meninggalkan Lappa Laona The Green Highland. Di perjalanan pulang kami singgah di hutan pinus, momen kembali kami abadikan diantara pepohonan pinus yang mengitari kami. Pinus yang buahnya sering saya pungut untuk gantungan kunci. 

Setelah bergembira, kami bergegas pulang karena beberapa diantara mereka mulai lelah. Kami pulang sekitar jam 5 sore. Saat perjalanan pulang, telinga ini kembali mendengar suara berisik mereka. Teriak tidak jelas, menyanyi bersama, saling mengusik dengan canda, saling bertanya tidak jelas jawaban, tebak-tebakan guyon. Hal itu membuat kami meredam waktu yang lama saat pulang, hingga kembali bergoyang saat memasuki jalan masuk kampung.

Hari itu kami banyak tertawa. Kami telah berteman lama, mulai dari SD saat kami tidak mengerti dunia hingga kedewasaan menghampiri dengan pandangan berbeda-beda terhadap dunia. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Hobi bepergian dan tertawa lalu menulisnya dalam buku harian. Sarjana pertanian namun lebih suka dianggap petani.

Hobi bepergian dan tertawa lalu menulisnya dalam buku harian. Sarjana pertanian namun lebih suka dianggap petani.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Tana Toraja: Budaya, Alam, dan Manusia