Pilihan EditorTravelog

Menutup 2019, Menyambut 2020, di Ujung Jawa (2)

30-31 Desember 2019

Banyuwangi: hotel rasa Kuta

Agenda kami selanjutnya adalah leyeh-leyeh di Banyuwangi. Setelah sempat khawatir dan capai karena Ijen, kami akan menghabiskan satu hari untuk bersantai di salah satu hotel di Banyuwangi. Hotel yang kami tuju adalah Hotel Ketapang Indah yang berada di bilangan Gatot Subroto.

Sebelumnya, kami mampir untuk makan siang di Warung Rawon Bi Ati. Rawonnya maknyuss! Kalau sempat, mampirlah ke Rawon Bi Ati. Saya percaya bahwa rawon tak akan seenak itu bila tak ada kecambah mentah, mungkin seperti nasi campur Bali tak berkacang, ada yang kurang.

Perjalanan dari Ijen menuju Hotel Ketapang Indah memakan waktu sekitar 1,5 jam. Hotel itu mengingatkan saya pada hotel-hotel besar di Kuta, di depan pantai-pantainya, barangkali karena hotel itu mengusung tema hijau dan asri, dengan taman-taman yang besar dan rindang—mungkin juga karena belum sepenuhnya tereksploitasi. Namun, tak jauh dari hotel, kita bisa melihat pelabuhan industri yang tersambung langsung ke Pabrik Semen Bosowa. Pemandangan yang lumayan kontras, jukstaposisi antara asri dan industri.

Melompat dari dermaga Ketapang Indah/Mahesa Adisakty

Sore hari, setelah duduk-duduk santai di bar, kami pergi ke dermaga di pantai depan hotel yang ramai oleh anak-anak asli sekitar yang berenang dan unjuk gigi dengan bersalto ke depan dan belakang. Malam hari, kami makan malam di luar. Satu hal yang saya senang bila jalan-jalan di Jawa Tengah atau Timur adalah harga makanan kaki lima yang “beralasan.” Kami makan ayam goreng kampung dan ikan goreng di pinggir jalan lalu makan buah yang banyak dan bermain game di hotel, dan tertidur dengan pulas.


31 Desember 2019-1 Januari 2020

Hutan Instagram dan tahun baru di Pantai Pulau Merah

Kami meninggalkan Hotel Ketapang Indah dan kasurnya yang empuk dengan tenaga baru. Kami akan menuju beberapa tempat, sebelum menuju Pantai Pulau Merah di mana kami akan melalui malam tahun baru.

Vero, yang aktif membuat konten di Instagram, mengusulkan untuk mendatangi De Djawatan, hutan di tengah kota yang ditumbuhi oleh pohon-pohon trembesi tua. Tempat yang dikelola oleh Perhutani itu letaknya di daerah Cluring, Banyuwangi. Perjalanan dari Hotel Ketapang Indah ke sana kurang lebih 1 jam. Tiket masuk De Djawatan Rp5.000/orang ditambah ongkos parkir mobil.

Berfoto di De Djawatan/Lugas Hakim

Aktivitas utama di De Djawatan adalah berfoto ria demi Instragram. Memang ada kegiatan lain seperti flying fox atau bermain ATV atau berkuda, namun sepertinya hampir semua pengunjung berfokus untuk berfoto-foto. Hanya satu jam di De Djawatan, kami memutuskan mencari makan siang.

Kami memilih makan siang di Warung Nasi Tempong Mbak Har yang terletak tak jauh dari De Djawatan. Menu makan siang kala itu sungguh istimewa. Pilihan yang tersedia lumayat komplet, mulai dari cumi, ayam, paru, sayur-sayuran, dan berbagai gorengan. Namun, ada dua menu yang menarik hati saya, yaitu pepes sarang lebah dan goreng belut crispy. Ambooi, setelah mencoba pepes sarang lebah untuk pertama kali, saya pikir saya tak akan ragu untuk mencobanya kembali.

Pepes sarang lebah/Mei Basri

Setelah makan siang, kami menuju ke destinasi selanjutnya: Alas Purwo. Namun, sungguh sangat disayangkan, hujan lebat datang. Setelah berunding, akhirnya kami memutuskan untuk tidak ke Taman Nasional Alas Purwo namun langsung menuju hotel di daerah Pantai Pulau Merah.

Karena hujan yang deras, perjalanan menuju daerah Pantai Pulau Merah memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Kami tiba di One South Boutique Hotel, yang berada di depan pantai, pada jam setengah 5 sore.

Setelah check-in dan beres-beres, kami menuju pantai di depan hotel. Kami bermain frisbee dan berfoto-foto, lalu menikmati matahari tenggelam yang sangat indah. Setelah gelap kami berjalan ke arah barat menelusuri bibir pantai.

Kami agak kaget ketika sampai di ujung pantai, tepat di depan Pulau Merah. Pembangunan telah berlangsung. Terdapat panggung pertunjukan serta banyak warung di sekitar pantai. Pantai Pulau Merah ternyata juga mengundang para peselancar dengan ombaknya, ditandai dengan adanya tempat-tempat penyewaan papan selancar. Lampu-lampu terpasang lumayan rapi dan bagus.

Kami sepakat malam nanti kami akan datang lagi untuk makan dan menghabiskan malam tahun baru di pinggir Pantai Pulau Merah. Selesai mandi, kami pergi ke pantai ujung dengan mobil, dan kaget; pantai telah sangat ramai oleh pengunjung, musik yang dimainkan DJ di atas panggung diiringi kerlip lampu disko. Pantai Pulau Merah menjelma menjadi Batubelig.

Senja di Pantai Pulau Merah/Mahesa Adisakty

Kami memesan seafood (lagi-lagi dengan harga yang “beralasan”) dan Bintang, bercengkerama dan tak lupa bermain games. Jam 11-an malam, kami beranjak menuju pinggiran pantai, menggelar tikar, duduk mengobrol, menceritakan sesal di tahun lalu dan membuat resolusi untuk 2020, untuk ditertawai bersama-sama, didengar gemuruh ombak, dibawa ke samudra, menjadi doa-doa.


1-2 Januari 2020

Lika-liku ke Tumpak Sewu

Selepas makan siang, kami meninggalkan hotel dan Pantai Pulau merah menuju Lumajang. Perjalanan dari Pulau merah ke Lumajang lumayan lama, sekitar 6 jam. Hujan tetap mengiringi perjalanan kami. Saya dan teman-teman silih berganti menyetir dan memutar lagu-lagu lawas sehingga perjalanan terasa lebih baik.

Kami menuju ke Dear Traveller Guest House and Glamping, tempat kami akan menginap malam itu. Kami akan tidur di tenda dan bangun pagi keesokan hari untuk menuju areal wisata Tumpak Sewu. Dear Traveller Guest House and Glamping sebenarnya juga menyediakan kamar, namun kami memilih tidur di tenda. Selain lebih hemat, kami ingin merasakan sensasi tidur di tenda. Kami mengambil tiga tenda, dengan biaya Rp200 ribu/tenda sudah termasuk sarapan.

Coban Sewu/Mei Basri

Malam itu kami tidur cepat dan, walaupun di tenda, kami tidur dengan pulas. Dear Traveller ini sangat menarik, memanjakan mata dengan bangunan yang sederhana dan asri. Menurut saya cocok untuk teman-teman yang suka dengan nuansa natural.

Pagi sekali kami telah bangun. Setelah sarapan segera kami menuju ke Tumpak Sewu yang sangat dekat dari tempat kami menginap. Di Tumpak Sewu, untuk masuk dan parkir, dikenakan biaya Rp10 ribu/orang.

Perjalanan menuruni setapak dan tangga memakan waktu kurang lebih 45 menit. Memang sebagian tangga di Tumpak Sewu perlu dibangun dengan lebih baik demi keselamatan. Tapi, kalau hati-hati, semua akan baik-baik saja. Kami menuruni Tumpak Sewu dan sampai di areal pandang, di mana kita dapat melihat Coban Sewu. Untuk sampai ke Coban Sewu, kita harus berjalan kurang lebih 15 menit lagi dan membayar tiket kembali sebesar Rp10 ribu/orang.

Penulis dan teman-teman sebelum berpisah di Stasiun Malang/Istimewa

Selain Coban Sewu, dalam perjalanan pulang kita juga dapat mampir ke Goa Tetes dan Kali Sendang Biru, dan, tentu, harus membayar tiket kembali. Setelah selesai mandi di Sendang Biru, kami mendaki pulang. Jam 11 siang, kami siap meninggalkan Tumpak Sewu dan kembali ke Malang.

Kami tiba di Stasiun Malang sekitar jam setengah 2 siang. Mahesa dan Kartika harus kembali ke Jakarta dengan kereta jam 14.25 WIB. Sementara saya, Vero, dan Lugas, akan berada di Malang sampai besok sebelum berpisah dan kembali ke daerah masing-masing.

Nah, begitulah kira-kira catatan perjalanan kami di akhir tahun dalam rangka menghabiskan cuti dan menyambut tahun baru 2020. Semoga dapat menjadi informasi yang berguna bagi teman-teman TelusuRI semua.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Memuja makanan, juara mengeluh, dan kadang meneliti.
Related posts
Travelog

Kulineran di Semarang dalam 4 Jam

Pilihan EditorTravelog

Depok-Dieng: Berdua di atas Roda

Travelog

Menelusuri Jejak Bosscha di Pangalengan

Pilihan EditorTravelog

Jakarta-Jogja 20 Jam: Migrasi dan Imajinasi tentang Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *