Itinerary

Inilah yang Bakalan Kamu Dapat pas Naik Gunung Musim Hujan

Nggak terasa, musim hujan tahun ini sudah datang. Bumi yang selama berbulan-bulan kering kerontang, sekarang sudah mulai diguyur air dari langit. Beberapa waktu lagi rumput dan hutan yang kering bakalan jadi basah dan rimbun lagi!

Terus, apa kabar naik gunung?

Tentunya kamu bisa terus naik gunung, asalkan kamu tetap awas—dan gunung yang bakal kamu daki dibuka untuk pendakian. Tapi, pendakian gunung pas musim hujan bakalan beda banget dari musim kemarau. Seperti apa sih bedanya?

1. Trek bakal jadi sangat licin

Siap-siap ekstra kotor kalau naik di musim hujan/Fuji Adriza

Mendaki gunung musim hujan, kamu bakal mendapati bahwa trek lebih licin dari biasanya. Wajar saja licin, ‘kan diguyur hujan. Apalagi jalur-jalur yang dipakai pendaki biasanya sebenarnya adalah jalur air.

Jadi, kalau tetap mau naik gunung pas musim hujan, kamu mesti memastikan bahwa alas kaki yang kamu pakai nggak licin. Cari sepatu yang ngegrip supaya kamu nggak gampang kepleset dan jatuh. Jatuhnya sih kayaknya nggak sakit-sakit amat, Sob. Diketawain temenlah yang bakal terasa lebih menyakitkan.

2. Meskipun kamu sudah melindungi diri dengan mantel, kemungkinan besar tetap bakal basah

Kalau kamu nanjaknya pas hujan, tentulah basah. Sekeras apa pun usahamu untuk melindungi diri dari air—pakai mantel two-pieces, gaiter, sepatu waterproof—tetap saja kamu bakal basah. Begitu juga dengan tas kamu. Secanggih apa pun cover yang kamu pakai, pasti tasmu bakalan jadi lembap. Bahkan bukan nggak mungkin air bakalan masuk entah lewat mana.

Makanya pas musim hujan kamu mesti bawa baju ganti yang dibungkus rapi dengan plastik supaya nggak kedinginan pas di tenda. Yang paling penting sih kamu mesti memastikan kalau pakaian ganti dan gear penghangat—jaket, sleeping bag—selalu dalam keadaan kering. Jangan lupa bawa kaos kaki ganti, yes!

3. Tenaga bakal lebih banyak terkuras—terlebih kalau kamu bawa kamera

naik gunung musim hujan
Menerobos sungai/Fuji Adriza

Pendaki gunung pasti paham gimana capeknya naik gunung di bawah guyuran gerimis. Kamu mesti pakai mantel hujan untuk melindungi diri dari… hujan, sementara itu kamu juga ngeluarin keringat. Langkah kamu juga agak terhambat oleh mantel. Apalagi kalau mantelnya nggak pas di badan kamu.

Rasa capek juga bakalan bertambah kalau kamu naik sambil menenteng action cam atau rugged camera buat ngevlog. Soalnya kamu mesti membagi tenaga antara berjalan nanjak, menenteng ransel yang makin basah, dan memegang kamera.

4. Keinginan untuk muncak nggak bakal begitu menggebu-gebu

Naik gunung musim hujan, ketimbang repot-repot bangun pagi terus muncak diiringi gerimis, ngendon dalam tenda yang hangat bakal terasa lebih menggoda.

Bangun pagi, kamu tinggal hidupin kompor terus masak air buat bikin kopi atau teh. Kalau lapar, kamu bisa masak sesuatu untuk dimakan. Abis itu kamu bisa masuk lagi ke dalam sleeping bag sampai bangun kembali. Jadi, kalau kamu bener-bener niat pengen muncak pas musim hujan, kayaknya turunin harapan, deh.

5. Kemungkinan nggak bisa lihat sunset—yang katanya—bagus

naik gunung siang atau malam
Kabut di gunung saat musim hujan/Fuji Adriza

Mau lihat pemandangan keren pas matahari terbit? Atau mau lihat samudera awan? Pas musim kemarau besar kemungkinan kamu bakal bisa melihat kedua hal itu pas naik gunung. Musim hujan beda ceritanya. Siap-siap buat ketemu kabut, kabut, dan kabut.

Tapi, mungkin ketemu kabut ini bakal mengajarkan kamu bahwa keindahan yang didapat pas naik gunung itu bukan sekadar keindahan yang bisa dilihat oleh mata. Kadang, keindahan naik gunung itu tersembunyi dalam suasana. Jadi, semua tergantung gimana kamu memaknainya.

Jadi, masih mau naik gunung musim hujan atau mau tunggu dulu sampai kemarau datang lagi?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Remeh-temeh yang Tak Remeh tentang Tempe

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

#dirumahajaItinerary

Tuliskan Perjalananmu, Mumpung Lagi di Rumah Aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *