Travelog

Cerita Penjara*

“Mau tidur di kursi panjang itu?” ujar seorang polisi suatu ketika sembari menunjuk kursi panjang yang ada di ujung ruang piket. Saya menerimanya dan juga bersyukur karena ada tempat untuk merebahkan tubuh beristirahat setelah seharian melakukan perjalanan.

Tidak terhitung sudah berapa kantor polisi di republik ini yang sudah saya singgahi sekadar untuk istirahat atau menumpang tidur. Tak sebatas itu saja, saya berkenalan, juga sering dikasih makan dan rokok oleh para tahanan di kantor-kantor polisi tersebut.

Pernah juga saya bermain kartu dengan para tahanan di dalam sebuah sel di daerah Papua Barat. Namun sekitar jam 11 malam petugas meminta saya untuk keluar dan kembali ke kursi panjang. Tahanan, katanya, sudah mau tidur.

Kadang, kala ruang tahanan kosong, rasa penasaran membuat saya iseng meminta izin untuk tidur di dalam.

“Nanti kamu beneran jadi tahanan [lho],” canda petugas kepada saya.

Dari sekian banyak interaksi, terkadang muncul perasaan ingin tahu bagaimana rasanya menjadi tahanan dengan segala anggapan negatif dari mata masyarakat. Padahal, para pendiri negara ini pun banyak yang pernah jadi tahanan—termasuk Tan Malaka sang jomblo revolusioner republik ini, begitu juga tokoh-tokoh lain dari penjuru dunia seperti Fidel Castro yang berusaha menggulingkan diktator Fulgencio Batista, atau Lula da Silva revolusioner Brazil, atau presiden pribumi pertama Bolivia Evo Morales.

Rasa penasaran itu membuat saya, dua tahun lalu, iseng-iseng mencoba cari jalan untuk merasakan hidup di penjara tanpa harus bikin kasus. “Paling satu bulan [cukup],” pikir saya waktu itu.

Mencari jalan, saya bertanya pada teman-teman. Banyak yang bilang saya gila. Tapi ada juga juga yang merespon secara konstruktif dengan menyarankan saya untuk mengurus surat izin ke Kemenkumham agar diizinkan “staycation” di penjara untuk keperluan akademik. Cuma, mana mungkin dikasih izin. Saya bukan dari kampus; ini hanya untuk diri saya sendiri.

Ketika sedang tenggelam mencari jalan, akhirnya seorang teman yang berprofesi sebagai penjaga Lapas bersedia mengajak saya main-main ke lembaga dan melihat kehidupan di dalam.

Tapi, tetap saja itu tidak sesuai ekspektasi saya, sebab saya hanya beberapa jam saja di dalam. Yang saya lakukan hanya menemani sang teman berjaga sambil cerita-cerita tentang masa lalu kami di sekolah dulu. Saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan, yakni interaksi dengan para penghuni dan, kalau bisa, masuk ke kamar para narapidana.

Dipikir-pikir, mungkin saat itu Tuhan memang sengaja memberikan sedikit excerpt ke saya. Sebab ia tahu ada masanya saya akan melihat “film” penjara secara utuh.

“Bro… Bro… Bro… Udah jam setengah tiga!” T membangunkan saya. Sudah satu bulan lebih dia menjadi alarm tahajud karena insomnia yang dideritanya. Hari ini adalah hari terakhirnya di ruang tahanan ini, sebab ia akan dipindahkan ke Lapas sebagai titipan kejaksaan sebelum vonis dijatuhkan.

Demikian juga saya, sedang menanti berjalannya proses untuk berganti dari tahanan menjadi narapidana. Tapi, saya jadi seperti ini dengan alasan yang berbeda dari orang-orang hebat revolusioner, saya masuk karena ganja.


*) Nama penulis dan tokoh-tokoh dalam cerita disamarkan demi melindungi privasi penulis terkait statusnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Andy Dufresne

“Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berpikir.”—Slavoj Žižek
Related posts
Travelog

Kulineran di Semarang dalam 4 Jam

Pilihan EditorTravelog

Depok-Dieng: Berdua di atas Roda

Travelog

Menelusuri Jejak Bosscha di Pangalengan

Pilihan EditorTravelog

Jakarta-Jogja 20 Jam: Migrasi dan Imajinasi tentang Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *