Pilihan EditorTravelog

Menutup 2019, Menyambut 2020, di Ujung Jawa (1)

Sebagai pekerja kantoran, akhir tahun adalah opsi bagi saya dan teman-teman untuk berlibur bersama. Diawali obrolan-obrolan santai sore hari di Jakarta Selatan, akhirnya kami sepakat mengais dan mengumpulkan cuti, membentuk grup WhatsApp, dan menyusun rencana, untuk satu tujuan: menghabiskan akhir tahun di Jawa Timur.

Berikut adalah catatan ringan dari perjalanan saya dan empat teman lainnya kurang lebih satu minggu, menghabiskan jatah cuti, menelusuri beberapa destinasi, baik yang sudah maupun yang belum pernah dikunjungi, desa dan kota, pantai dan gunung, hotel dengan beachfront view, hingga bermalam di tenda, di Jawa Timur, menutup 2019, menyambut 2020.


27-28 Desember 2019

Malang: bakso dan Bromo

Setelah itinerary disusun, kami sepakat perjalanan ini akan dimulai di Malang. Karena perbedaan jadwal dan tempat tinggal, saya, yang mendapat jatah libur akhir tahun lumayan panjang, dan Vero, yang kebetulan memiliki jadwal cukup fleksibel, memutuskan pergi ke Malang lebih dahulu—tepatnya tanggal 27 Desember—dibandingkan tiga rekan lainnya. Dua rekan lainnya, Mahesa dan Kartika, akan bertolak dari Jakarta dan tiba di Malang keesokan harinya. Sementara Lugas, teman kami yang lain, akan menyusul dari Bali tanggal 29 Desember.

Mengambil penerbangan pagi dari Jakarta, kami tiba di Bandara Abdulrachman Saleh sebelum jam makan siang. Nah, di Abdulrachman Saleh, saya tidak menemukan transportasi online seperti Gojek atau Grab—mungkin ada kesepakatan bersama tentang hal tersebut. Di bandara itu, transportasi seperti taksi bandara dikelola secara kolektif oleh semacam koperasi. Kita cukup mendatangi loket, menyebutkan tujuan, membayar dan—voila!—sebuah armada taksi siap mengantarkan ke tujuan. Prosesnya cepat, armadanya nyaman, dan supirnya pun ramah.

Kami menuju hotel di bilangan Jalan dr. Sucipto, di tengah kota. Tiba di hotel lebih awal, kami akhirnya memutuskan mencari makan.

Seporsi bakso bakar Pak Man/Mei Basri

Bakso dan Malang seperti dua hal yang tak bisa dipisahkan. Karenanya, kami sepakat untuk makan bakso siang itu. Setelah mengecek Google dan bertanya sedikit kepada staf hotel, ternyata tak jauh dari Hotel Gajahmada Graha, ada warung bakso bernama Bakso Bakar Pak Man. Cuss! Cukup jalan kaki 5 menit, kami sampai di Warung Bakso Bakar Pak Man.

Ternyata, di hari Jumat, warung tersebut buka jam 1 siang. Masih ada sekitar 45 menit untuk menunggu. Namun, saya cukup kaget mendapati warung tersebut telah ramai oleh pengunjung. Wah, mungkin pertanda bahwa bakso Pak Man ini enak. Saya memang bukan penggemar bakso. Namun, antrean pengunjung di warung yang belum buka ini cukup membuat saya dan Vero penasaran. Kami setia menunggu hingga warung dibuka.

Menu warung tersebut cuma ada dua sebenarnya, yakni bakso biasa (yang disertai mie dan kuah kaldu) dan bakso bakar. Setelah berjibaku dengan pengunjung lain, kami akhirnya dapat memesan dua porsi bakso biasa dan sepuluh bakso bakar. Saya lumayan jarang makan bakso. Namun, menurut saya, Bakso Bakar Pak Man layak dimasukkan ke list tujuan wisata kulinermu di Malang.

Kembali ke hotel dengan perut kenyang, kami istirahat dan menyiapkan diri untuk kegiatan selanjutnya: pergi ke Bromo. Saya cukup khawatir sebenarnya untuk pergi ke Bromo di pengujung tahun—takut kehujanan. Terlebih, kami berencana ke Bromo dengan motor trail. Puji Tuhan, malam itu cerah sekali.

Kami menyewa dua motor trail di Kaldera Adventure beserta seorang pemandu dengan biaya total Rp800.000/12 jam, lengkap dengan helm. Kami memulai perjalanan ke Bromo dari workshop Kaldera sekitar jam 12 malam. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi agar tidak terjebak macet di Bromo. Macet di Bromo biasanya disebabkan oleh ramainya antrean mobil-mobil Hardtop yang membawa pengunjung melihat dan menikmati matahari terbit.

Perjalanan dari Kota Malang ke Bromo dengan motor trail tidak bisa dibilang mudah, apalagi ketika mulai mendaki. Bila teman-teman ingin melakukannya, setidaknya teman-teman mesti cukup yakin dengan kemampuan mengendarai motor dan juga, yang penting, bawalah pemandu. Kami tiba sekitar jam 3 pagi di Penanjakan 3 Bromo.

Bawalah uang secukupnya, untuk membayar tiket masuk dan parkir, dan juga camilan untuk dimakan sambil menunggu matahari terbit. Teh jahe panas di tengah udara dingin Bromo yang menggigit nikmatnya ora ono lawane, rek!

Matahari terbit di Bromo/Veronika Krasnasari

Ini merupakan Bromo pertama saya, dan saya cukup kaget dengan ramainya pengunjung. Sekitar jam 4.30 pagi, orang-orang mulai ramai berkumpul menunggu matahari terbit. Lumayan sesak, tapi jadi tak begitu dingin.

Vero, yang sudah berulang kali ke Bromo, mengajak saya dan Mas Feri, pemandu kami, turun ke bawah melewati pagar. Saya tidak tahu ini legal atau tidak, tapi Vero membawa kami ke tempat yang menurut dia lebih asoy untuk menikmati matahari terbit di Bromo. Dan tenyata—ambooi—saya ingat saat itu saya begitu terpana menyaksikan semburat merah dan ungu, matahari yang perlahan merayap naik menyapu kaki-kaki Bromo memperlihatkan Mahameru di seberang sana.

Berbulan-bulan yang lalu saya ingat menyaksikan matahari terbit di Gunung Batur di Bali. Tapi, opini personal, Bromo jauh lebih cantik. Lautan pasir, kawah, sabana, dan vegetasi subalpin yang tersapu lembut matahari pagi, sungguh indah tak terperi.

Tuntas menikmati matahari terbit dengan pikiran masing-masing di kepala, kami memutuskan turun, singgah di lautan pasir, bermain dengan motor trail dan mengambil banyak foto dan video laiknya turis-turis, lalu pulang, beristirahat, dan berkumpul bersama dua rekan lain, Mahesa dan Kartika, di Malang.


28-30 Desember 2019

Baluran dan Ijen

Setelah berkumpul bersama dua rekan lain, kami menuju destinasi selanjutnya: Taman Nasional Baluran. Kami menggunakan mobil sewaan, dengan biaya sewa sebesar Rp2.450.000/7 hari atau Rp350 ribu/hari. Harga tersebut lebih mahal 50 ribu dibanding hari atau waktu biasanya, karena musim liburan.

Dimulai sekitar jam 12 siang, perjalanan menuju Baluran memakan waktu kurang lebih delapan jam ditambah waktu istirahat dan makan siang. Perjalanan menuju Baluran dari Malang lumayan lancar dengan adanya Tol Gembong-Rembang. Hanya saja, setelah melintasi Probolinggo perjalanan harus dilakukan dengan cukup hati-hati mengingat kecilnya jalan dan ramainya kendaraan. Pesannya: pastikan kondisi mobil dalam keadaan prima dan bertukar atau bergantian dalam menyetir.

Kami menghabiskan perjalanan dengan bernyanyi mengikuti lagu-lagu yang diputar atau bermain game yang santai. Sekitar jam 8 malam, kami tiba di Baluran. Setelah melapor, kami menuju Wisma Banteng, penginapan yang disediakan dan terletak di dalam areal Taman Nasional Baluran, tepatnya di Savana Bekol. Untuk menginap di Taman Nasional Baluran, teman-teman dapat menghubungi pihak Baluran sebelumnya.

Tiket masuk Baluran untuk empat orang beserta satu mobil totalnya adalah Rp84 ribu, sementara untuk menginap di Wisma Banteng semalamnya adalah Rp400 ribu. Terdapat dua kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu yang luas dalam Wisma Banteng ini, dengan catatan listrik dimatikan pada pukul 10 atau 11 malam. Itu dilakukan salah satunya adalah demi kepentingan satwa liar di dalam Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol Baluran/Kartika Dian

Pagi hari di Baluran, kami dibangunkan bermacam bunyi grasak-grusuk dan hawa yang lumayan panas. Rombongan rusa dan kerbau hilir mudik mencari rumput dan pergi berkubang. Rombongan monyet menyusul, tak terhitung banyaknya.

Setelah sarapan, kami menuju Pantai Bama, sekitar 4 kilometer dari Savana Bekol, menggunakan mobil, sekalian menunggu Lugas yang sedang dalam perjalan ke Baluran dari Bali.

Saya dan Vero sudah pernah ke Baluran. Saya ke Baluran tahun 2012 silam, sementara Vero 2015 lalu. Kami berdua cukup terkejut melihat banyaknya perubahan. Misalnya, jalan di dalam Baluran yang telah rapi diaspal, loket masuk yang rapi tertata hingga adanya larangan batasan masuk ke daerah Savana Bekol. Di daerah Pantai Bama, bangunan pendukung seperti toilet dan beberapa cottage juga baru dibangun. Tentu, seperti banyak tujuan wisata lainnya, di Pantai Bama pun terdapat ayunan-ayunan demi kebutuhan Instagram.

Setelah Bama, kami menjemput Lugas yang telah tiba di gerbang depan Baluran. Kemudian kami berkeliling taman nasional, mengunjungi Menara Pandang yang juga telah dibangun ulang. Dari Menara Pandang ini kita dapat melihat luasnya sabana Baluran juga Gunung Baluran yang kokoh di belakang. Meski sudah memasuki musim penghujan, Baluran masih gersang dengan sabana yang kering, dipercantik dengan rombongan kerbau dan rusa yang merumput dan berkubang. Inilah sebabnya Taman Nasional Baluran kerap dijuluki Little Africa van Java.

Setelah makan siang dengan nasi pecal yang enak minta ampun dan kelapa muda yang maknyuss, kami melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi.

Destinasi kami selanjutnya adalah Kawah Ijen. Saya dan Mahesa sempat bergurau berbulan-bulan sebelumnya untuk datang ke Ijen setelah melihat unggahan di Instagram model pujaan hati, Mariana Renata, di Kawah Ijen.

Dari Baluran, kami menuju penginapan di daerah tak jauh dari kawasan Kawah Ijen. Penginapan tersebut bernama Ijen Resto and Guesthouse. Tarifnya sekitar Rp180 ribu/malam. Penginapan itu tampak asri sekali, dengan taman yang luas dan bangunan kamar berbahan bambu. Perjalanan dari Baluran menuju penginapan memakan waktu sekitar 2 jam, sementara jarak dari penginapan ke Pos Paltuding yang merupakan gerbang pendakian Ijen adalah sekitar 14 kilometer atau 30 menit menggunakan mobil.

Jam 11 malam, kami mulai bersiap menuju Pos Paltuding. Kami mengenakan baju hangat secukupnya dan sepatu yang nyaman untuk mendaki. Beberapa barang yang sangat disarankan untuk dibawa untuk mendaki Ijen adalah senter atau headlamp dan masker (kualitas lebih bagus lebih baik). Pendakian Ijen baru dibuka pada jam 1 dini hari, dengan terlebih dulu membeli tiket masuk sebesar Rp7.500 (akhir pekan) untuk wisatawan domestik. Jika anda membawa kendaraan akan dikenakan biaya parkir kendaraan.

Pendakian Ijen lumayan menguras tenaga untuk saya, padahal saya lumayan suka berolahraga dan senang hiking. Untuk sampai ke daerah kawah, pendakian berjalan kaki memakan waktu 2,5 jam. Untukmu yang merasa tidak kuat untuk mendaki, jangan khawatir. Ada porter yang menawarkan gerobak untuk mengangkutmu hingga daerah Kawah Ijen dengan tarif sebesar Rp800-900 ribu/orang. Tarif turun dipatok lebih murah, yakni Rp200 ribu/orang.

Fenomena api biru di Kawah Ijen/Lugas Hakim

Setelah sampai kawah, untuk dapat melihat fenomena api biru, kita harus turun ke dekat kawah dan melanjutkan sekitar 1 jam perjalanan lagi. Penyebabnya antara lain antrean yang ramai serta jalur yang cukup sulit.

Namun yang paling saya khawatirkan selama mendaki ijen dan turun ke kawah adalah asap belerang yang menyengat. Walaupun sudah mengenakan masker hasil menyewa, saya dan teman-teman sepakat bahwa belerang masih menyengat. Dada terasa sesak dan mata terasa perih. Semakin dekat dengan kawah, sesak dan perih semakin menjadi-jadi.

Saya kemudian mulai khawatir, karena saya tidak melihat “evacuation plan” yang jelas bila terjadi sesuatu. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di dekat kawah dan segera mendaki ke atas. Saya bahkan memutuskan untuk tidak menikmati matahari terbit di Ijen. Saya diserang kekhawatiran, dan dibayangi ingatan tentang matinya Soe Hok Gie. Kami memutuskan untuk segera turun. Saya setengah memaksa.

Di perjalanan turun, setelah terang, saya melihat papan himbauan dari pihak KLHK yang kira-kira berisi larangan untuk mendaki dan menuruni kawah, dan bila terjadi sesuatu maka risiko ditanggung masing-masing. Terkesan seperti “party pooper” atau pengecut, tapi mungkin teman-teman perlu mempertimbangkan dan melakukan persiapan lebih matang bila ingin pergi ke Ijen. Kami sampai di bawah dan memesan sarapan dan segera kembali ke penginapan. Setelah istirahat dan mandi, kami bersiap pergi ke tujuan selanjutnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Memuja makanan, juara mengeluh, dan kadang meneliti.

Avatar

Memuja makanan, juara mengeluh, dan kadang meneliti.
Artikel Terkait
Travelog

Kali Ini Aku Bercerita tentang Ikan Asin

Travelog

Pulau Kapoposang dan Tawa di Balik Lautan (2)

Travelog

Pulau Kapoposang dan Tawa di Balik Lautan (1)

Travelog

Catatan tentang Prasasti dan Hulu Sungai Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *