Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Menilik Kembali Hubungan Manusia dan Samudra lewat Tradisi Petik Laut di Sumenep

Awal Maret pada tahun 2020, lebih dari 30 negara di seluruh dunia sudah mendeklarasikan kasus-kasus pertama corona dan kanal-kanal media di Indonesia sudah mulai ramai memberitakan tentang virus tersebut. Tapi corona belum sampai ke Madura. Lebih tepatnya, masih menjadi dongeng di antara masyarakat setempat. Ada, buah bibir masyarakat, tapi gaib.

Saya yang sedang tinggal di suatu desa di Sumenep selama kurang lebih enam bulan terakhir untuk kegiatan penelitian tentu saja mulai merasa was-was. Kesempatan untuk mendapatkan akses informasi apa pun dari “dunia luar” melalui gawai kecil namun pintar ternyata lebih terlihat sebagai kutukan dan bukan anugerah. Nyatanya, saya seperti makhluk paranoid yang selalu membawa botol sabun cair ke mana-mana dan mencuci tangan di mana-mana. Sementara itu, kehidupan masyarakat berjalan sebagaimana biasanya. Kegiatan kumpul-kumpul berskala besar masih diadakan dengan meriah tanpa aturan jarak dan, tentu saja, bebas rasa takut.

Salah satu perayaan yang dilaksanakan dengan meriah pada bulan tersebut adalah rokat tase’ atau petik laut. Nelayan di sepanjang pesisir Pulau Jawa mengenal petik laut sebagai upacara adat atau ritual yang dilakukan sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil laut yang mereka dapatkan pada satu tahun ke belakang. Selain itu, petik laut juga dilakukan sebagai bentuk permohonan atas berlanjutnya berkah rezeki untuk tahun-tahun yang akan datang, serta keselamatan bagi para nelayan.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin mengisahkan pengalaman saya mengikuti rangkaian acara petik laut di Desa Marengan Laok, Sumenep, selama dua hari dan menceritakan bagaimana proses refleksi yang saya alami dalam memahami petik laut sebagai medium manusia berhubungan dengan alam.


Laut acap kali memainkan peran sentral dalam banyak upacara keagamaan. Beberapa kelompok masyarakat percaya bahwa laut adalah rumah bagi para dewa dan dewi, sementara beberapa komunitas lain percaya bahwa ombak akan membawa pulang roh-roh manusia ke tempatnya berasal. Laut adalah perantara. Laut dengan keluasan dan kedalamannya tidak hanya dianggap misterius, tapi juga memiliki unsur kemurniaan yang membawa manusia lebih dekat kepada “The Creator.” Mandi di laut, melarungkan persembahan sampai menyalakan lilin, dan berdoa bersama di pinggir pantai adalah bagian dari cara manusia menggunakan laut sebagai medium untuk terhubung dengan entitas yang lebih besar dari manusia itu sendiri.

Selain petik laut, ada beberapa upacara spiritual yang membawa banyak jemaah memanjatkan harapan di laut, di antaranya adalah melasti di Bali, lantern floating di Hawaii, atau Iemanjá di Brazil. Di Indonesia sendiri, selain rokat tase’ di Madura dan melasti di Bali, ada berbagai macam nama untuk ritual yang serupa di berbagai daerah. Ada nadran (dari kata nadzar) yang diadakan masyarakat di pesisir pantai utara Jawa, seperti Subang, Indramayu, dan Cirebon. Ada juga labuh laut yang rutin diadakan masyarakat pesisir pantai selatan, seperti di Trenggalek. Lalu, di Timur Indonesia, ada juga ritual haroana andala yang diselenggarakan sebagai bentuk syukur masyarakat nelayan Bone-bone, Kota Baubau, terhadap berkat dan rezeki yang mereka peroleh dari laut.


Sehabis hujan reda dan menyisakan genangan-genangan kecil di jalan utama yang menghubungkan desa-desa di Kecamatan Kalianget, saya bergabung bersama warga yang mulai memadati bahu jalan. Beberapa gerobak penjual pentol, bakso, dan es puter pun ikut mengerubung.

Kami menunggu kirab atau arak-arakan pawai dari masyarakat Desa Marengan Laok. Poster besar setinggi atap rumah sudah terpasang. Pada poster tersebut tertera jadwal acara dua hari ke depan. Akan ada acara doa bersama, kirab, dan [pertunjukan] topeng pada tanggal 7 Maret; untuk keesokan harinya, tanggal 8 Maret, tertulis petik laut.

Salah satu grup pawai yang berpartisipasi dalam rangkaian acara petik laut/Kyana Dipananda

Belakangan saya paham kenapa judul poster tersebut “Rokat Dhisa dan Petik Laut.” Rokat dhisa artinya ruwatan desa. Salah seorang warga, Masnah, yang saya ajak berbincang selama menunggu pawai dimulai, mengatakan bahwa berdoa bersama-sama adalah inti dari rangkaian acara dua hari ke depan.

“Biar selamet, buang sial, banyak rezeki, Mbak,” ujarnya sambil menggendong anaknya yang masih balita.

Menariknya, selama saya mengikuti rangkaian acara rokat dhisa dan petik laut, acara berdoa bersama hanya terselenggara selama lima belas menit. Dengan pengeras suara yang terbatas, saya hampir tidak sadar acara doa bersama sudah dimulai, dan tak tahu siapa yang memimpin. Ternyata doa bersama dipimpin oleh kalebun (kepala desa) setempat dan, katanya juga, biasanya ada pengajian yang digelar sebelum rangkaian acara. Sayangnya, tidak ada pemberitahuan untuk acara pengajian tersebut.

Seorang pemain musik saronen sedang beraksi/Kyana Dipananda

Selebihnya acara diisi oleh arak-arakan warga yang menggunakan berbagai macam kostum. Ada grup yang tampil dengan kostum burung merak, kostum pengantin Madura, kostum ala ahjumma korea, kostum hantu-hantuan lengkap dengan darah buatan dan baju compang-camping. Beberapa grup juga tampil ekstra dengan kapal dan ikan paus buatan yang dibentuk dari kertas karton. Kami pun tertawa melihat tingkah laku grup arak-arakan yang berjoget lucu dengan alunan musik saronen. Seserahan juga ikut dibawa oleh grup arak-arakan ini. Ada tumpeng raksasa dan ada juga tampah dengan aneka sayuran. Semuanya dibagikan kepada masyarakat setelah prosesi kirab selesai. Pada malam harinya, saya dan warga yang menonton kirab seharian duduk-duduk menghadap layar besar dan panggung warna-warni di lapangan rumput dekat tempat bersandar kapal-kapal nelayan yang sudah dihias manis. Rintik hujan menemani selesainya rangkaian hari pertama yang ditutup dengan pertunjukan ludhruk topeng.


Pagi-pagi sekali saya sudah kembali ke Desa Marengan Laok. Sampah-sampah sisa arak-arakan kemarin masih tergeletak di pinggir jalan. Ada bungkusan makanan, sisa-sisa dekorasi maupun botol kemasan minuman.

Sambil menunggu acara petik laut dimulai, saya duduk di warung dekat lapangan rumput. Ternyata saya datang terlalu pagi. Acara petik laut baru akan dimulai ketika air laut sudah pasang. Tidak ada yang tahu jam berapa tepatnya acara dimulai. Maka saya menggunakan waktu yang ada untuk berkeliling melihat kapal-kapal yang sudah dihias.

Beberapa pemilik kapal terlihat sedang menaruh dekorasi tambahan atau membetulkan letak kain yang terpasang pada tiang-tiang kapal. Kapal-kapal ini adalah yang ikut kompetisi menghias kapal. Kapal yang tercantik menurut juri akan mendapatkan hadiah, begitu pula grup arak-arakan kirab dengan kostum dan tema yang paling unik dan bagus. Sayangnya, saya tidak bertanya apa hadiahnya dan siapa jurinya. Saya sudah terlalu asyik melihat kapal yang berwarna-warni, lengkap dengan kain-kain gemerlap, pajangan dari karton kardus, foto Presiden Jokowi dalam pigura, juga bendera merah putih. Meriah.

Kapal-kapal yang dihias (atas) dan miniatur kapal Putri Koneng dan Joko Tole untuk prosesi larung sesaji (bawah)/Kyana Dipananda

Selain kapal yang sudah dihias, saya juga berkesempatan melihat sesajen yang akan dilarung ke laut. Dua miniatur kapal setinggi 100 cm yang berisi nasi, lauk-pauk seperti ayam bakar, rendang, kerupuk, lampu minyak, minuman kemasan, buah-buahan, sampai sandal dan karpet plastik pun tersedia di dalam miniatur kapal ini.

Konon menurut penjelasan Johan, panitia petik laut tahun ini, kedua miniatur kapal merepresentasikan sosok laki-laki dan perempuan. Kapal yang laki-laki konon adalah representasi Joko Tole dan kapal yang perempuan adalah representasi Putri Koneng. Keduanya adalah ibu dan anak dalam cerita legenda rakyat Sumenep. Secara kasat mata, ukuran kapal Putri Koneng lebih besar dari ukuran kapal Joko Tole. Saat saya tanyakan pada Johan, ukuran kapal Putri Koneng ternyata menunjukkan statusnya sebagai ibu dari Joko Tole. Menarik sekali bagaimana masyarakat Madura melihat peran seorang ibu melalui persona Putri Koneng dan kapal sesajen. Menurut saya, Kapal Putri Koneng menjadi simbol seorang ibu yang berkapasitas besar dan berdaya tampung yang luas; kapal Putri Koneng pun pada kenyataannya dapat menampung lebih banyak isi dan menjadi sesajen utama yang akan dilarung ke laut.

Selain penjelasan mengenai dua buah kapal yang akan dilarung di laut, saya juga sempat bertanya kepada Johan sejak kapan tradisi petik laut ini diselenggarakan. Dari dirinya, saya juga mendapatkan informasi bahwa di beberapa desa lainnya petik laut sempat mendapatkan penolakan masyarakat karena dianggap menyimpang dari ajaran ajaran agama Islam. Setelah sempat diberhentikan, ternyata desa yang tidak menyelenggarakan upacara petik laut tersebut mengalami penurunan jumlah tangkapan ikan yang signifikan.

Penonton yang akan melihat larung saji/Kyana Dipananda

“Makanya Mbak, kami nggak pernah berhenti bikin upacara petik laut,” lanjut Johan, “yang penting ada pengajian bersama dulu sebelumnya.”

Saya mendengarkan dengan saksama.

“Lagian ya, Mbak, acara melarung sesajen begini buat sebagian warga ya seru-serunya aja. Berdoa ya masing-masing—ke masjid, gitu. Mosok ke laut? Yang seru itu ya pawai pakai kostum … menghias kapal, terutama, ludhruk itu, Mbak!” Johan tertawa geli, mungkin teringat acara ludhruk semalam.

Spiritualitas adalah konsep yang cair. Kepercayaan batin terhadap asal-usul rezeki dan sumber datangnya berkah juga tidak sama bagi setiap orang. Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat personal, juga kompleks dan kadang kala sulit dimengerti. Begitu pula hubungan manusia dengan alam; personal, kompleks, dan membingungkan. Hubungan manusia dengan laut yang mesra melalui nilai-nilai rasa syukur yang dibawa oleh ritual petik laut kemudian terlihat paradoksal dan sebatas seremonial di mata saya. Saya menjumpai banyak sekali sampah yang mengapung dalam perjalanan melarungkan sesajen ke tengah laut, di antaranya sampah popok, bungkus kopi, bungkus Indomie, dan gelas-gelas plastik.

Sebelum saya terdengar seperti memberikan pendapat yang prematur, saya percaya setiap individu bebas memiliki interpretasi masing-masing. Dalam mengikuti rangkaian acara petik laut di Desa Marengan Laok, saya memposisikan diri sebagai penonton sekaligus lakon. Saya ikut bergerak bersama rombongan pawai, saya pun ikut naik ke dalam kapal yang mengantar sesajen ke tengah laut dan saya ikut bergabung dalam keheningan yang tercipta saat masyarakat berdoa, yang entah kepada siapa. Sebagian dengan jelas menyatakan bahwa berdoa harus menurut agama yang dianut, di mana Islam adalah agama mayoritas di Sumenep. Sebagian yang lain secara subtil mengirimkan harapan pada laut untuk mengirimkan rezeki, menghalau badai yang galak, dan menghadiahi ikan-ikan yang melimpah.


Matahari mulai tinggi. Kapal yang membawa saya ke tengah laut juga membawa kapal kecil Putri Koneng yang berisi sesajen. Kapal ini jelas memimpin di depan, diiringi kapal-kapal hias lainnya yang membawa warga yang ingin menonton prosesi larung saji. Hujan kecil lewat sebentar menyisakan awan. Lumayan, pikir saya. Tidak terlalu panas jadinya.

Saat lokasi larung saji sudah ditentukan, bapak-bapak nelayan bersiap mengangkut kapal Putri Koneng. Kapal ini cukup berat dan membutuhkan setidaknya lima orang dewasa untuk mengangkutnya bersama-sama. Meski body kapalnya dibuat dari kardus, rangka kapal bagian bawah dibentuk dari beberapa batang pohon pisang agar kuat mengapung di laut. Seorang bapak nelayan terjun ke laut dan menangkap kapal Putri Koneng. Setelah memastikan kapal sesajen tidak oleng, bapak tersebut mendorong kapal Putri Koneng menjauh dari kapal utama. Dan begitulah proses larung saji selesai. Singkat, cepat, dan dalam diam.

Seseorang melarung salah satu miniatur kapal pada acara puncak larung saji/Kyana Dipananda

Kapal-kapal yang mengiringi prosesi larung saji diharuskan mengitari kapal sesajen selama tiga kali sebelum akhirnya kembali ke darat. Selepas kami mengitari kapal sesajen, saya melihat dari kejauhan kapal Joko Tole juga sudah dilarung.

Namun, ada kapal nelayan lain yang tidak berhias diri. Kapal tersebut bukan bagian dari rombongan kami. Beberapa orang mulai berteriak, “Dipilih, dipilih, ambil!”

Saya masih mencerna.

“Sikat, sikat, ambil!”

Dari kejauhan, kapal nelayan yang tidak saya kenali tersebut mengambil barang-barang yang ada di kapal Joko Tole. Pelan-pelan saya sadar, mungkin ritual petik laut memang bukan tentang berterima kasih pada yang gaib atau mempersembahkan barang-barang duniawi tersebut pada laut. Jelas laut tidak butuh tambahan sandal jepit baru. Mungkin pada akhirnya ritual ini adalah tentang masyarakat yang berbagi kebahagiaan, melalui gelak tawa dalam pawai, alunan saronen dalam ludhruk, dan barang-barang sesajen yang ditangkap nelayan desa sebelah.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Kyana Dipananda

Kadang-kadang menulis tapi lebih sering jadi pembaca, pemerhati isi keranjang belanjaan orang di antrean supermarket, suka baca buku sastra, dan suka minum teh susu tanpa gula.
Related posts
Semasa Corona

Nanti ketika Semua Membaik

Semasa Corona

Dalgona dan Melodi "Pupus"

Travelog

Berbekal Kamera SLR Analog, Menelusuri Jateng-Jatim

Semasa Corona

Perjalanan Duka di Masa Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *