Semasa CoronaTravelog

Menikmati Martabak Mesir H. Wan yang Berdiri Sejak Tahun 1985

Sudah hampir dua tahun, saya dan keluarga kecil tidak mudik. Pandemi COVID-19 menjadi penghalang terbesar saya untuk kembali tatap muka dengan keluarga tercinta di kampung halaman. Namun, menjelang bulan suci ramadan tahun ini kami menemukan celah  untuk pulang ke kampung halaman. Perjalanan pun kami tempuh dengan mengendarai mobil pribadi, berangkat dari Ibukota DKI Jakarta.

Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, menjadi tujuan saya. Saya yang dilahirkan dan dibesarkan di kota dengan julukan Kota Biru ini masih harus menemui kedua orang tua yang masih menetap di sini. Kota Payakumbuh merupakan salah satu kota besar di wilayah Sumatera Barat, dengan jarak sekitar 123,6 km atau dengan jarak tempuh 3,5 jam dari ibukota provinsi, Padang.

Payakumbuh dikelilingi oleh perbukitan, gunung, dan sawah yang terbentang luas. Pertanian merupakan pendapatan terbesar kota selain perdagangan. Jika kita menjambangi Kota Payakumbuh tak akan lengkap rasanya jika tidak menikmati kuliner yang beraneka ragam.

Kota Batiah juga sebutan lain untuk Kota Payakumbuh. Batiah adalah makanan tradisional yang masih diproduksi namun terbilang langka, tidak semua warga kotanya mampu membuat batiah. Selain batiah banyak lagi makanan-makanan nikmat yang tak boleh dilewatkan. Martabak Mesir H. Wan salah satunya. Penasaran kan agaimana rasa martabak mesir H. Wan yang terkenal di Payakumbuh? 

Martabak mesir termasuk dalam jenis martabak asin. Berbeda dengan martabak telor yang juga berbahan dasar telur dengan cocolan kuah cuka. Martabak mesir memiliki rasanya yang gurih kaya rempah, potongan daging di dalamnya lalu disiram dengan kuah cuka pedas manis yang berwarna coklat kehitaman lengkap berisi potongan cabe, bawang bombay menambah cita rasa martabak membuat kita tidak bosan untuk menyantapnya apalagi dimakan sore hari sembari menikmati kendaraan lalu lalang di pasar pusat kota.

Martabak Mesir H. Wan dirintis dari tahun 1985 berjualan di Pusat Kuliner Sore, di Pasar Payakumbuh. Posisinya yang strategis membuatnya semakin mudah untuk dikunjungi. Gerobak dagangan berdiri di bagian hub pertigaan Tugu Adipura, Jalan Sudirman. Berjualan saat sore hari hingga malam tiba. Tak pernah sepi pembeli, adonan martabak sudah siap tersedia untuk dibeli para pelanggannya.

Martabak Mesir H. Wan di Pusat Kuliner Sore, Jalan Sudirman, Pasar Payakumbuh/Atika Amalia Bastin

Hampir 10 hari saya dan keluarga kecil melakukan isolasi mandiri di rumah setelah perjalanan dari Jakarta. Kami dalam kondisi yang sehat dari hari pertama tiba sampai masa isolasi berakhir. Orang tua yang kami kunjungi pun juga dalam kondisi sehat.

Saya lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sore di Pusat Kuliner Pasar, Kota Payakumbuh tetap dengan mengikuti protokol kesehatan. Rindu sekali mencicipi makanan yang tidak pernah saya temui di perantauan. Tujuan utama saya tentunya Martabak Mesir H. Wan. Bisnis kuliner yang dirintis oleh Bapak Nusyirwan ini telah ada dari tahun 1985.

Saya tidak berani untuk makan ditempat, walaupun mereka menyediakan satu meja aktif untuk pembeli yang ingin menyantap langsung disana, saya memutuskan untuk dibungkus saja. Rasa khawatir saya masih tinggi akan penularan COVID-19. Dengan sigap si uda sapaan saya untuk orang yang bekerja di kedai itu sigap beraksi.Martabak dipanggang di atas wajan pipih nan lebar, kamera pun saya keker tepat mengarah ke martabak, tidak ingin rasanya kehilangan momen ini. Beberapa foto telah saya dapatkan untuk dokumentasi. Saya pun bertanya kepada si uda, apakah mereka mempunyai cabang selain di pasar ini, tentu saja jawabnya. Mereka bercerita bahwa mempunyai sebuah cafe yang juga bernama Martabak Mesir H. Wan, berada di Jalan Soekarno Hatta, Koto Nan Ampek. Tak jauh dari pom bensin sorak seorang lelaki yang sedang membungkus martabak. Saya tentu semakin penasaran.

Memotong martabak/Atika Amalia Bastin

Esok harinya, saya beserta keluarga menyambangi Cafe Martabak Mesir H. Wan yang tempatnya tidak begitu jauh dari rumah. Cafe yang menyematkan tagline “taste never lie” ini cukup asyik untuk dijadikan tempat berkumpul bersama keluarga, kawan, dan pasangan. Namun ingat jika ingin berkumpul dalam jumlah kecil atau sendiri terus patuhi protokol kesehatan.

Menu makanan yang ditawarkan pun sangat bervariasi mulai dari makanan ringan sebagai pembuka, makanan besar hingga makanan penutup. Harga yang cukup ramah dikantong membuat tempat ini tak pernah sepi pembeli. Hal baru yang saya temui yaitu martabak dengan topping beraneka ragam diantaranya martabak mesir mozzarella dan martabak mesir keju. Kita pun bisa memilih ingin martabak berbahan telur ayam atau berbahan telur bebek. Saya pun memesan dua martabak sekaligus, martabak mesir mozzarella telur bebek dan martabak mesir keju telur ayam. Tak lama menunggu martabak pun sudah matang.

Saya memilih untuk dibungkus saja dan menikmati di dalam mobil. Saya cukup mengapresiasi dengan inovasinya dengan tidak terlalu mengubah rasa asli, martabak mesir mozzarella bisa jadi alternatif pilihan jika bosan dengan rasa original. Jika kamu tak sempat keluar rumah untuk membelinya, Martabak Mesir H. Wan telah bergabung di platform GoFood. Kamu bisa memesan sesuai menu yang tersedia di aplikasi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *