Itinerary

5 Jurus Jitu Menghindari Keramaian di Destinasi “Mainstream”

Namanya destinasi mainstream, tentulah banyak turis yang (pengen) ke sana. Konsekuensinya, destinasi-destinasi mainstream kemungkinan besar bakal selalu ramai.

Tapi, bukan berarti kamu nggak bisa menghindari keramaian di destinasi mainstream. Bisa, kok, asal ngerti tips dan triknya:

keramaian-di-destinasi-mainstream
Candi Prambanan via pexels.com/Pixabay

1. Datang pas “weekdays”

Pas weekdays destinasi-destinasi mainstream biasanya bakal lebih sepi ketimbang weekend. Makanya, kalau datang pas weekdays kemungkinan besar kamu bakalan terhindar dari keramaian di destinasi mainstream—kecuali mungkin pas libur panjang atau libur anak sekolahan.

Selain bisa menghindari keramaian, kalau datang ke destinasi mainstream pas weekdays kemungkinan buat dapat akomodasi yang murah juga lebih besar. Wajar aja, sih. ‘Kan pas weekdays demand menurun.

keramaian-di-destinasi-mainstream
Pantai Kuta saat matahari terbenam via pexels.com/Pixabay

2. Menginap agak jauh dari pusat keramaian

Cara lain buat mengindari keramaian di destinasi mainstream adalah menginap agak jauh dari pusat keramaian. Kalau di Jogja, hindari menginap di sekitar Malioboro. Di Bali, misalnya, menginaplah agak jauh dari Kuta.

Zaman canggih kayak gini gampang banget nyari penginapan yang jauh dari pusat keramaian. Nggak sampai lima menit browsing-browsing di marketplace pariwisata atau aplikasi hotel pasti sudah ketemu.

keramaian-di-destinasi-mainstream
Perahu-perahu nelayan di Penjaringan via pexels.com/Tom Fisk

3. Hindari atraksi-atraksi “mainstream”

Datang ke destinasi mainstream terus main pula ke destinasi mainstream, kamu bakal ngalamin “mainstream-ception.” Kamu pasti bakal oleng sendiri mendapati betapa banyaknya manusia yang berjubelan di sana.

Makanya hindari atraksi-atraksi mainstream. Kalau perlu jangan pasang target kamu bakalan ke tempat A, B, atau C. Dibikin spontan aja. Ikuti aja ke mana angin berhembus. Biasanya sih kalau begini kamu malah bakal “nyasar” ke tempat-tempat “bagus.”

pantai-atuh-timur-kozmenko-pexelscom
Suasana sekitar Pantai Atuh, Nusa Penida via pexels.com/Timur Kozmenko

4. Jangan ikuti referensi di internet

Supaya terhindar dari keramaian di destinasi mainstream, ada baiknya kalau kamu nggak ikut referensi. Mungkin ada puluhan, ratusan, sampai ribuan orang lain yang baca informasi yang sama. Konsekuensinya, atraksi wisata yang direkomendasiin sama referensi itu bakal jadi rame.

Kalau mau, ketimbang ngikutin referensi di internet, kamu bisa tanya ke orang-orang setempat yang kamu temui. Gimanapun juga, mereka pasti lebih tahu soal daerahnya sendiri ketimbang orang-orang yang cuma mengulas destinasi (lewat referensi juga) di internet.

5. Manfaatin angkutan-angkutan alternatif

Supaya nggak terjebak macet di destinasi mainstream, kamu bisa manfaatin angkutan-angkutan alternatif semisal ojol—apalagi kalau sistem transportasi publik di destinasi itu belum bener.

Kalau pengen ngasih dampak yang lebih “lokal,” kamu bisa nge-hire orang setempat yang menawarkan jasa antar-jemput atau tur keliling kota.

Ternyata nggak susah-susah amat ‘kan menghindari keramaian di destinasi mainstream?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
ItineraryNusantarasa

Berburu Kuliner Bersejarah Khas Salatiga (1)

ItineraryNusantarasaPilihan Editor

Nasi Jangkrik, Kuliner Warisan Sunan Kudus

ItineraryPerjalanan Lestari

Ngeteh Sore di Artani, Toko Curah Ramah Lingkungan Pertama di Makassar

Itinerary

Gunung Bantur dalam Bingkai Kintamani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.