Travelog

Sesaat di Cisaat

Berjalan sekitar lima kilometer ke arah barat dari pusat Kota Sukabumi, kita bakal segera berada di Cisaat, sebuah kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Jika berjalan santai, jarak lima kilometer itu dapat kita tempuh dalam tempo kurang lebih satu jam. 

Mereka yang menuju Kota Hujan, Bogor, dari arah Sukabumi, apabila menggunakan rute konvensional, pasti melewati Cisaat. Dengan jarak yang tak lebih dari 80 kilometer, jarak Sukabumi-Bogor dapat kita tempuh dalam waktu dua jam. Tapi, itu di atas kertas. Realita di lapangan, bisa molor hingga empat jam, atau bahkan lebih. Biang keroknya yaitu kemacetan di sejumlah titik, yang bisa membikin senewen para pengemudi dan para penumpang kendaraan.

Kecamatan Cisaat sendiri mencakup 13 desa, yakni Desa Babakan, Desa Cibatu, Desa Cibolangkaler, Desa Cisaat, Desa Gunungjaya, Desa Kutasirna, Desa Nagrak, Desa Padaasih, Desa Selajambe, Desa Sukamanah, Desa Sukamantri, Desa Sukaresmi, dan Desa Sukasari. Luas Cisaat saat ini sekitar 23,3 kilometer persegi. 

Jembatan Cigunung/Djoko Subinarto

Saat hendak memasuki kawasan Cisaat dari arah Kota Sukabumi, kita ’disambut’ oleh Jembatan Cigunung, jembatan legendaris dan sangat penting, yang menghubungkan Cisaat dan Kota Sukabumi. Di bawah jembatan ini, mengalir Sungai Cigunung yang di sepanjang alirannya masih bisa kita temukan batu-batu besar. Sungai Cigunung mengalir dari utara ke selatan.

Persis di sebelah barat Jembatan Cigunung, terpasang plang berwana biru. Di plang biru itu tertulis: CISAAT. Ke sebelah baratnya lagi, terpasang plang lainnya yang juga berwarna biru. Ukurannya lebih besar. Bunyi tulisannya: ANDA MEMASUKI KAWASAN TERTIB LALU LINTAS (KTL) CISAAT.

Ketika Minggu (2/1/2022) pagi aku berdiri tak jauh dari Jembatan Cigunung itu, lalu-lintas tampak lengang. Kendaraan yang lalu-lalang didominasi sepeda motor. Sesekali angkot berwarna hijau melintas. Ada yang menuju Kota Sukabumi. Ada juga yang mengarah ke Cisaat.

Setelah mengambil sejumlah foto Jembatan Cigunung, aku teruskan perjalananku ke arah Alun-alun Cisaat. Dari Jembatan Cigunung ke Alun-alun Cisaat berjarak sekitar 1,4 kilometer. Lumayan dekat. Setidaknya itu menurutku. Jika dihitung dengan langkah kaki, jarak sekitar 1,4 kilometer itu memerlukan sekitar 1.900 langkah. Dengan jarak yang cuma 1,4 kilometer, tentu tak membutuhkan waktu terlalu lama buatku untuk sampai ke Alun-alun Cisaat pagi itu. 

Kulihat seorang ibu diikuti tiga anaknya baru saja keluar dari kawasan Alun-alun Cisaat tatkala aku memasuki kawasan itu dari sisi utara. Salah seorang anaknya masih balita. Ibu itu menggendongnya. Sang ibu bersama anaknya terlihat bergegas ke arah timur, sementara aku berjalan ke tengah-tengah taman Alun-alun Cisaat, di mana terdapat patung besar ikan koi. Berkat keberadaan patung ikan koi inilah, taman Alun-alun Cisaat populer disebut sebagai Taman Koi.  

Taman Koi/Djoko Subinarto

Seorang perempuan belia berpakaian olahraga terlihat tengah melakukan gerak-badan pagi dengan cara berjalan mengelilingi Taman Koi. Tak lama, terlihat dua laki-laki muda mendekati patung ikan koi. Keduanya kemudian bergiliran berpose di depan patung ikan koi. Boleh jadi patung ikan koi dipilih untuk menghiasi Alun-alun Cisaat lantaran Cisaat selama ini dikenal sebagai salah satu sentra ikan koi di Kabupaten Sukabumi. 

Dari Taman Koi, aku langkahkan kakiku ke bagian barat. Tampak di seberangku Masjid Qubbatul Islam. Sejumlah catatan menyebut masjid yang memiliki luas 2.500 meter persegi ini didirikan tahun 1905 dan sudah beberapa kali mengalami renovasi.

Kadudampit

Di depan Alun-alun Cisaat, terdapat Polsek Cisaat. Di sebelah Polsek, terbentang jalan ke arah utara. Jika kita susuri, jalan tersebut dapat membawa kita ke daerah Kadudampit. Situ Gunung yang terkenal dengan jembatan gantungnya, dan disebut-sebut sebagai jembatan gantung terpanjang se-Asia, berada di kawasan Kadudampit.

Di tilik dari asal-usul pembentukannya, Situ Gunung, yang persis berada di kaki Gunung Gede-Pangrango, bukanlah telaga alami. Sejumlah literatur menyebut Situ Gunung dibuat pada tahun 1800-an oleh seorang bernama Rangga Jagad Syahadana alias Mbah Jalun (1770-1841). Konon, ia merupakan buronan pemerintah kolonial Belanda yang memilih menetap di kawasan Kesultanan Banten, yang mencakup antara lain kawasan kaki Gede-Pangrango. 

Jembatan gantung Situ Gunung memiliki panjang 240 meter dengan lebar 2 meter serta ketinggian dari permukaan tanah pada titik paling tinggi yakni 146 meter. Tahun 2018 lampau, aku sempat melihat langsung jembatan gantung Situ Gunung.

Sayang, tatkala aku menyambanginya saat itu, jembatan tersebut masih tertutup dan tidak boleh digunakan wisatawan, sehingga aku tak sempat mencicipi sensasi berjalan di atasnya. Beberapa pelancong dari Jakarta yang datang berbarengan denganku saat itu tak bisa menyembunyikan kekecewaan mereka. Seperti diriku, mereka batal mencicipi sensasi berjalan di atas jembatan gantung dan sekaligus ber-selfie-ria. Sebagai gantinya, mereka hanya bisa berfoto-foto di depan jembatan.

Jembatan Gantung Situ Gunung/Djoko Subinarto

Di samping keberadaan telaga dan jembatan gantung, di kawasan Situ Gunung terdapat pula air terjun yaitu Curug Sawer. Maksud pembangunan jembatan gantung sendiri antara lain sebagai penghubung untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan wisatawan untuk menuju Curug Sawer.

Jarak dari Alun-alun Cisaat ke Situ Gunung adalah 10,6 kilometer. Pagi itu, sebenarnya aku kepingin menyambangi lagi Situ Gunung. Namun, sudah kadung berjanji kepada orang rumah bahwa aku cuma jalan-jalan pagi sebentar dan akan kembali sebelum pukul 10.00. Maka setelah sesaat melihat-lihat Alun-alun Cisaat, aku pun segera bergegas balik ke Kota Sukabumi. Kupikir, bagaimanapun, janji harus selalu ditepati.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Wisata Budaya ke Suku Baduy dan Perempuan Bercadar

    Travelog

    Membelah Laut Flores dari Makassar Menuju Labuan Bajo

    Travelog

    Perjalanan Sehari ke Gunung Fatuleu, Pantai Oetune, dan Pantai Kolbano

    Travelog

    Mengunjungi Bandung Zoological Garden Kala Pandemi

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Buka Tutup Alun-alun Cianjur