Interval

Mengenal Budaya Toraja yang Diceritakan Faisal Oddang dalam ‘Puya ke Puya’

Tana toraja mengandung beberapa arti. Beberapa mengartikannya dari bahasa Bugis to riaja yang berarti ‘orang yang berdiam di negeri atas,’ beberapa lagi mengartikannya sebagai to riajang, atau ‘orang yang berdiam di sebelah barat.’ Toraja dengan dua Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara merupakan daerah di Sulawesi Selatan yang terkenal karena keunikan budaya dan kemegahan alamnya. Membaca Puya ke Puya membawa saya kembali ke beberapa perjalanan mengitari Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara selama masih berkuliah di sebuah universitas di Kota Makassar. 

Membaca Puya ke Puya/Nawa Jamil

Saya teringat beberapa tahun yang lalu sempat menyaksikan dokumenter 30 menit dari Vice perihal ritual upacara pemakaman rambu solo berjudul Royal Blood: Uang, Darah, dan Kematian di Toraja. Puya ke Puya membawa perspektif yang sama perihal upacara kematian rambu solo, dimana buku ini tidak hanya pada kulit luar budayanya, melainkan hal-hal yang lebih dalam tentang manusia pelaksananya, tekanan dalam pelaksanaan, juga menyoroti perihal isu-isu lingkungan yang mengancam daerah Toraja.  

Cerita dengan titik fulkrum budaya Toraja ini, menyajikan alur kisah yang cukup unik. Secara garis besar, Puya ke Puya menyajikan cerita dibalik prosesi adat upacara kematian rambu solo dari salah seorang tetua, Rante Ralla. Konflik muncul ketika sang anak laki-laki, Allu Ralla yang menolak memakamkan sang ayah dengan prosesi adat Toraja dan lebih memilih membawa jenazah sang ayah untuk dikuburkan di Kota Makassar. Hal ini tentu ditentang keras oleh anggota keluarga yang lain. Namun, Allu punya perhitungannya sendiri. Semua orang tahu bahwa upacara rambu solo membutuhkan biaya sekurang-kurangnya ratusan juta, bahkan di atas satu milyar. Uang tersebut digunakan untuk memenuhi rangkaian kebutuhan upacara, terutama untuk menyembelih puluhan kerbau sebagai tunggangan ke puya, alam tempat menemui Tuhan. 


Allu Ralla sudah tinggal lama di Makassar dan sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Ia sebagai anak yang lahir dan tumbuh dengan puluhan upacara rambu solo paham betul, bahwa orang-orang berlomba-lomba menyerahkan kerbau dalam upacara tersebut sebab kepercayaan bahwa kerbau sebagai satu-satunya tunggangan ke surga, kerbau belang atau tedong bonga merupakan sebaik-baiknya tunggangan menuju Tuhan. Kerbau tersebut bisa bernilai di atas lima ratus juta rupiah, ditambah dengan segala jenis keperluan upacara, maka pantaslah ketika upacara kematian ini sebagian besar baru bisa dilakukan setahun pasca kematian kerabat tersebut. 

Meskipun rambu solo mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan tanggung jawab, tetapi Allu yang paham dengan pelaksanaan aluk ini tahu betul bahwa rambu solo Rante Ralla, ayahnya, merupakan tanggung jawab dirinya sebagai putra semata wayang dan to balu, janda yang ditinggal mati si mayat. Meskipun beberapa sanak saudara menyumbang babi, kerbau, atau kopi, gula, beras, dan yang paling sederhana, tenaga, semua bantuan tersebut tercatat sebagai hutang yang tidak tertulis. Paham balas budi tersebut sangat dimengerti Allu, sehingga ia lebih memilih tidak meneruskan adat tersebut. 

Namun Rante Ralla sebagai bangsawan dan penuluan yang dipercaya sebagai pemimpin rumpun tongkonan Kete tidak akan dibiarkan pemakamannya meninggalkan tanah kelahiran, apalagi ke kota dengan alasan biaya. 

Di masa lalu, untuk seorang seperti Rante Ralla minimal mengorbankan 24 kerbau sebagai tunggangannya menuju Tuhan. Namun seiring perkembangan zaman dan semakin banyak masyarakat Toraja yang sukses di perantauan, kini bahkan marga tanpa gelar bangsawan kerap melakukan upacara adat rambu solo dengan mengorbankan ratusan kerbau bahkan lebih. 

Konsep ketuhanan dan kematian sangat erat dengan kepercayaan to roilo masyarakat asli Toraja. Prosesi adat rambu solo menggambarkan kematian yang disambut dengan penuh suka cita. Orang-orang bersaput kain hitam akan mengantarkan kerabat mereka yang hendak menuju puya. Massompo, orang-orang mengarak kerabatnya yang ‘sakit’ dengan penuh suka cita sambil berteriak-teriak girang, berjingkak-jingkrak. Bagi masyarakat Toraja, sebelum rambu solo, semua mayat masih sakit. Selayaknya orang sakit, mayat tersebut akan tetap diperlakukan seperti orang hidup. Para kerabat akan tetap mengajaknya bercerita setiap hari, juga memberikan mereka makan, rokok, dan sirih.


Novel ini benar-benar mengamini kebudayaan Toraja dalam alurnya, membuat para pembacanya tentu sedikit paham dengan polemik upacara adat ini pada masa sekarang: ada tradisi yang harus dilestarikan, namun di balik itu terdapat beban besar bagi orang-orang di bawahnya. Budaya Toraja tidak menjadi satu-satunya kelebihan novel ini. Perpindahan karakter yang cepat tetapi mengalir tampaknya menjadi nilai tersendiri dari novel pemenang keempat Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 ini. Setidaknya ada tiga sudut cerita dalam buku ini: Rante Ralla si orang mati, Allu, dan Maria Ralla, adik Allu yang meninggal 17 tahun yang lalu dan telah dikubur di pohon tarra. 

Cerita dari buku/Nawa Jamil

Saat membaca bagian ini membuat saya teringat saat mengunjungi salah satu pohon tarra besar yang masih satu kompleks dengan wisata Bori Kalimbuang. Benar, bagi jasad bayi yang belum tumbuh gigi biasanya akan dimakamkan di lubang-lubang batang pohon tarra, disebut passiliran. Orang Toraja percaya bahwa pohon tarra yang mengeluarkan getah putih seperti air susu ibu, sebagai simbol bahwa mereka telah diserahkan kepada ibu bumi untuk diasuh dalam dekapan pohon tarra. 

Novel ini tidak hanya perihal konflik pemakaman Rante Ralla. Sepanjang cerita juga membahas perihal masuknya perusahaan tambang di Tana Toraja. Konflik terkait pembangunan tambang dan upaya membeli tanah Rante Ralla yang menghalangi jalur pertambangan, hingga berakhir konflik pertumpahan darah. Puya ke Puya merupakan buku yang mampu memberi  sudut pandang perihal kebudayaan di Tana Toraja, juga bagaimana konflik yang dihadapi masyarakatnya di tengah pelestarian lingkungan dan perlindungan terhadap aset-aset budayanya. Secara pribadi saya sangat menikmati buku ini, kecuali pada kepadatan isu dan persoalan yang dipaksakan masuk pada keseluruhan 218 halaman. Selebihnya, buku ini menarik dan sangat saya rekomendasikan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.
    Artikel Terkait
    Interval

    Titin Riyadiningsih: Memajukan Wisata dari Desa

    IntervalPilihan Editor

    Cerita dari Bantaran Kali, “Sebuah Tempat Terbaik di Dunia”

    Interval

    Menghidupkan Kembali Kota Lama Semarang

    IntervalPerjalanan Lestari

    Laut Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Singgah ke Rumah Kelahiran Bung Hatta