Itinerary

Rumah Saraung, Penggerak Literasi dari Pangkajene dan Kepulauan

If you can’t fly, then run

If you can’t run, then walk

If you can’t walk, then crawl

but whatever you do

You have to keep moving forward

— Martin Luther King Jr

Pendidikan berjaya dengan literasi, literasi bagus dan berkembang melahirkan para pemikir sekaligus para pembangun yang dibutuhkan oleh negeri ini. Banyak cara untuk memberdayakan literasi di tengah masyarakat, salah satunya adalah dengan mendirikan komunitas yang bergerilya di akar rumput memajukan tingkat literasi di daerahnya masing-masing.

Logo Rumah Saraung

Rumah Saraung, sebuah komunitas literasi yang berdiri pada 2019. Berawal dari sebuah situs dengan domain saraung.com yang diolah pada kisaran waktu 2016 hingga 2017. Proyek website ini merupakan urun daya bersama kawan-kawan di Pangkep yakni Badauni AP, Ramez, dan Zulkifli. Tujuan didirikannya saraung.com waktu itu adalah untuk mewadahi penulis di Pangkep untuk membuat konten seputaran Pangkep. Proyek website ini berakhir pada 2017 dan beberapa konten dikurasi untuk kemudian dibukukan sebagai pertanggung jawaban ke publik dengan judul Kenali Pangkepmu, Beberapa Hal yang Perlu Diketahui.

Namun jauh sebelum itu, cikal bakal Rumah Saraung sebenarnya geliat penerbitan buku dan juga penelitian ada di Lentera, sebuah lembaga yang juga berbasis di Pangkep. Sayangnya, lembaga ini hanya bertahan seumur jagung.

Pangkep bukanlah daerah seterkenal Yogyakarta atau Jakarta yang mana dalam mempublikasikan buku jauh lebih mudah. Paling dekat, akses penerbitan buku berasal dari Makassar. Untuk daerah Pangkep yang tidak ada toko buku sama sekali, Lentera berhasil menandai penerbitan pertama dari Pangkep.

Awalnya, para pendiri Rumah Saraung ingin menggunakan nama Lentera, melanjutkan semangat yang telah ada sebelumnya dari para pendahulu. Kurangnya pelbagai berkas utama yakni akta notaris sebagai syarat pengajuan ISBN ke Perpustakaan Nasional membuat mereka urung. Pelbagai masukan dan saran dipertimbangkan, akhirnya mereka sepakat untuk membuat sebuah nama baru. 

Beberapa anggota di luar anggota Lentera sebelumnya kemudian mengusulkan nama Rumah Saraung, nama ini pernah mereka pergunakan untuk media daring. Setelah bersepakat, Rumah Saraung resmi digunakan sebagai nama lembaga resmi yang mewadahi saraung.com dan juga untuk penerbitan Rumah Saraung. 

Tim Rumah Saraung/Daus

Rumah Saraung saat ini dinahkodai oleh F Daus AR, Badauni AP, Saenal N, Afdal AB, Sarif, Ical, Misbah, dan Andi Rahmaniah. Ketika saya bertanya mengenai bagaimana perekrutan anggota Rumah Saraung, Daus menjawab bahwa manajemen Rumah Saraung dinamis untuk bergabung. “Pada dasarnya proses keanggotaan berjalan seperti air mengalir,” tambahnya. Daus menambahkan lagi bahwa Rumah Saraung juga menerapkan konsep sukarelawan jika ada program yang sedang dijalankan dan membutuhkan bantuan.

Terkait visi dan misi, Daus menjelaskan kepada saya bahwa visi dari Rumah Saraung adalah berdaya dengan literasi. Guna mewujudkan visi tersebut, Rumah Saraung melakukan penerbitan mandiri, fasilitas dialog, dan penelitian.

Selain penerbitan, Rumah Saraung juga melakukan penelitian dan pernah terlibat kerja kolaborasi dengan Yayasan Makassar Biennale untuk penelitian sanro (dukun) atau pengobatan tradisi pada 2019. Pada 2021, juga terlibat dalam jaringan kerja dalam helatan Makassar Biennale 2021.

Kegiatan bincang buku bersama masyarakat/Daus

“Beberapa dokumenter sudah diproduksi sebagai upaya lain dalam mendokumentasikan gerak literasi di Pangkep. Saat ini masih melakukan penelitian jangka panjang mengenai sumur warga,” terang Daus.  

Sebagai lembaga yang berfokus pada literasi, jalinan kerja sama  Rumah Saraung banyak melibatkan penulis, akademisi, hingga peneliti. Semisal mereka pernah bekerja sama dengan KPU Pangkep dalam penerbitan buku, Yayasan Makassar Biennale seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, juga melakukan dokumentasi berupa publikasi penelitian bersama Makassar Nol Kilometer.id dan artefact.id. Kerja sama dengan penulis, Rumah Saraung terhubung dengan jaringan penulis di Kampung Buku di Makassar, seperti Anwar Jimpe Rachman, Wilda Yanti Salam, Regina, Zizy Aprilia, dan beberapa penulis lainnya.

Saya mencoba bertanya kepada Daus mengenai wilayah kerja Rumah Saraung, apakah melingkupi Sulawesi Selatan secara keseluruhan? Daus menjawab bahwa fokus Rumah Saraung sekarang masih di lingkup Pangkep. “Mengenai narasi kedaerahan Sulawesi Selatan, apalagi Sulawesi secara keseluruhan tentu butuh sumber daya. Hal demikian mesti dikerjakan secara bersama.” Daus meyakini bahwa tiap wilayah di Sulawesi pasti ada komunitas yang fokus melakukan perekaman dan pendokumentasian mengenai ciri wilayah masing-masing. 

Kegiatan diskusi film pendek yang berjudul tiga batu dan asap/Daus

Kesenjangan dunia literasi Indonesia semakin dalam, pola menerima informasi pun berubah. Dari semula hanya televisi, sekarang dunia literasi kedatangan saingan terbaru yakni video pendek. Generasi muda maupun tua lebih suka menonton daripada membaca, yang tentunya meresahkan apabila tidak diiringi dengan gerakan membaca agar seimbang.

Berdasarkan data survei dari Program of International Students yang dirilis oleh Organization of Economic Co-operation and Development pada 2019 menunjukkan Indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara berkaitan dengan literasi. Hal ini sangat mengecewakan mengingat literasi bukan hanya sebatas rendahnya budaya membaca, secara tidak langsung juga berkaitan dengan daya saing SDM.

Hal ini mendapatkan perhatian oleh pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri melalui staf ahli, Suhajar Diantoro. Dilansir oleh Tribun, pemerintah akan mengupayakan kegiatan literasi diperhatikan dari hulu ke hilir, tidak hanya menyalahkan masyarakat yang tidak membaca juga ketersediaan buku yang sesuai dengan daerah masing-masing, baik oleh pemerintah maupun swasta.

Sebagai komunitas yang berkecimpung di dunia penerbitan, Daus mempunyai harapan pada dunia literasi Indonesia. “Harapannya tentu saja semakin beragam dan berkualitas (dunia literasi). Dan pemerintah menunjukkan keberpihakan pada industri perbukuan agar ekosistemnya menjadi sehat. Pemerintah perlu melakukan tindakan kepada pembajak buku,” ucap Daus sekaligus menutup wawancara kami hari itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Itinerary

Jalan-jalan ke Curug Cipamingkis, Bogor

Itinerary

Cerita dari Kampung Adat Kuta, Ciamis

Itinerary

Tempat-Tempat yang 'Hilang' di Indonesia

Itinerary

5 Kedai Kopi Legendaris di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Mencicipi Tiram Kakar Lajari hingga Singgah ke Celebes Canyon dan Lappa Laona