Travelog

Curug Tilu Ciririp: Dulu Tersembunyi, Kini Mudah Disambangi

Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah. Usai menikmati nasi uduk kesukaan, Aydas bertanya, “Ada rencana, Bun?”. Sontak saja saya menjawab, “Mau ke Purwakarta.” Seperti gayung bersambut, saya dan Aydas sepakat untuk melanjutkan perjalanan menuju Purwakarta.

Saya sudah terbiasa untuk menyiapkan segala keperluan pribadi keluarga di bagasi, mulai dari peralatan makan, pakaian, perlengkapan mandi, sleeping bag, bantal angin, bangku lipat, dan juga matras. Mengingat kebiasaan kami yang sering sekali impulsif ketika berpergian, saya mempersiapkan segala printilan perjalanan supaya bisa jalan kapan saja. Pun, di setiap perjalanan dadakan seperti sekarang ini, kami harus mempersiapkan dana cadangan  yang sewaktu-waktu perlu dibayarkan untuk makan dan juga penginapan.Maka dari itu, saya sarankan jika kamu ingin mekakukan perjalanan, baiknya membuat itinerary dan estimasi biaya agar tidak mempengaruhi cash flow harian rumah tangga.

Dari Jakarta saya melewati tol Jagorawi, lalu melaju santai di Cikampek, setelahnya melewati tol Purbaleunyi dan keluar di Jatiluhur. Tak jauh dari exit tol Jatiluhur kami melewati RM Ciganea saat masuk ke Kota Purwakarta, setelah itu melaju di Jalan Pramuka, dan dilanjutkan ke Jalan Ir. H. Juanda baru setelahnya menuju ke Jalur Waduk Jatiluhur. 

Jalan ini sangat mudah dilalui, aplikasi penunjuk arah seperti Google Maps bisa jadi andalan. Namun, jika ingin melanjutkan perjalanan ke Curug Tilu, Ciririp, Sukasari Kabupaten Purwakarta, lebih baik memastikan kondisi kendaraan terlebih dahulu sebelum berangkat karena beberapa jalan dilewati tampak rusak dan berlubang. Jika tiba-tiba sinyal telekomunikasi hilang, kita bisa mengandalkan papan petunjuk jalan yang dipasang sepanjang rute menuju Curug Tilu.

Sepanjang perjalanan saya menemui hutan bambu yang cukup lebat, tampak aktivitas orang-orang yang mengangkut bambu ke atas truk. Tak lupa, kami mengisi bahan bakar kendaraan sebelum melewati jalur yang sunyi. Di kawasan Waduk Jatiluhur hingga Curug Tilu hanya ada penjual bensin literan. 

Sepanjang perjalanan, tampak beberapa kendaraan lalu lalang. Sesekali saya melihat rombongan motor touring mendahului. Hawa sejuk bisa saya rasakan saat membuka kaca mobil, tak lupa AC saya matikan agar bisa menghirup udara yang mengalir dari luar kendaraan. Sebelum memasuki area perkampungan yang ada di Desa Ciririp dari kejauhan tampak sebuah jajaran perbukitan yang lebih mencolok dibanding area lain, di kawasan itulah Curug Tilu berada. 

Papan Selamat Datang Curug Tilu/Atika Amalia

Sebuah baliho selamat datang menyambut kehadiran kami di Desa Ciririp. Saat akan memasuki area curug, kami harus melewati jalan setapak dengan pemukiman penduduk yang berada di sisi kanan dan kiri. Ternyata, Curug Tilu tidak seperti curug-curug yang pernah saya kunjungi sebelumnya, tak ada hutan yang mengelilinginya. Masyarakat sangat ramah menyambut kehadiran pengunjung. Jangan lupa untuk menegur warga sekitar sebagai tanda kami adalah orang baru yang berkunjung ke daerah mereka.

Dilansir dari laman nativeindonesia.com bahwa lokasi dimana Curug Tilu dulunya terisolir selama kurang lebih 50 tahun akibat mulai beroperasinya Waduk Jatiluhur sekitar tahun 1967. Jalan menuju desa tersebut terhalang oleh bentangan waduk, sehingga tidak ada jalan yang dapat dilalui menuju desa ini. Masyarakat  sekitar jika hendak keluar desa harus menggunakan perahu. Pembukaan jalan mulai dilakukan ketika kepemimpinan Dedi Mulyadi, atau biasa disebut Kang Dedi. Pemerintah mulai membangun infrastruktur jalan menuju lokasi. 

Saat itu aliran air tidak sedang deras/Atika Amalia

Disebut Curug Tilu, karena air terjun ini memiliki tiga undakan. Curug berarti air terjun, dan tilu artinya tiga. Padanan kata tersebut diambil dari bahasa Sunda. Selain memiliki sejarah keterasingan, Curug Tilu memiliki mitos yakni dilarang berenang pada hari Selasa ketika pukul 12 hingga 1 siang. Belum ada penjelasan mengenai hal tersebut, pengunjung hanya perlu menghormati dan menghargainya. 

Sebelum memasuki kawasan utama Curug Tilu, pengunjung terlebih dahulumembayar uang retribusi sebesar Rp10.000,00 per orang. Begitu memasuki area curug, sebuah jembatan gantung menyambut. Kemudian tampak beberapa leuwi diantaranya Leuwi Bunder, Leuwi Rengas, dan beberapa leuwi lainnya. Namun sayang sekali, saat saya tiba air aliran curug tidak begitu deras karena saat itu memang sedang jarang sekali hujan. 

Jalur cocok untuk trekking/Atika Amalia

Area Curug Tilu cocok untuk bersantai, trekking, dan mendekatkan diri ke alam. Setelah trekking ringan, saya duduk sejenak melepas lelah di sebuah warung milik masyarakat, mereka menjual minuman kemasan dan mie instan. 

Hampi setengah jam bersantai, pemilik warung kembali mengingatkan bahwa saat ini sudah pukul setengah lima sore dan sebentar lagi kami semua harus segera turun ke bawah sebelum langit semakin gelap. Kami pun pulang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gowok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyusuri Curug Tenjong di Kampung Santri Ciharashas