Travelog

Takbir Kembali Berkumandang di Gasibu

Sebuah mobil jenis sport utility vehicle (SUV) dan sebuah sedan meluncur deras beriringan di Jalan Prof. Dr. Kusumaatmaja, Kota Bandung, Senin (2/5/2022) pagi. Begitu mendekati Jalan Surapati, laju kedua mobil melambat. Seorang petugas memberi arahan kepada pengemudi kedua mobil itu untuk parkir di sisi kiri Jalan Surapati.

Tak lama berselang, para penumpang mobil turun. Mereka menyeberang jalan dan bergegas menuju Lapangan Gasibu. Sementara itu, di Jalan Diponegoro, tak jauh dari Gedung Sate, beberapa petugas juga sibuk mengarahkan pengemudi kendaraan yang membawa penumpang yang hendak ke Lapangan Gasibu.

“Terus aja, Pak. Parkirnya masuk ke halaman Gedung Sate,” kata seorang petugas memberi instruksi kepada seorang pengemudi kendaraan, yang datang dari arah timur Jalan Diponegoro, dan tampak kebingungan mencari-cari tempat parkir.

Lapangan Gasibu diapit oleh empat jalan. Di selatan, Jalan Diponegoro. Di utara, Jalan Surapati. Adapun di barat, Jalan Majapahit. Sedangkan di timur, Jalan Sentot Alibasyah. Gasibu konon adalah singkatan dari Gabungan Sepakbola Indonesia Bandung Utara—sebuah perkumpulan sepakbola yang dulu menjadikan Lapangan ini sebagai tempat latihannya.

Menurut catatan Katam (2005), di masa pemerintahan Belanda, Lapangan Gasibu bernama Wilhelmina Plein. Di tahun 1950-an, Lapangan ini sempat berganti nama menjadi Lapangan Diponegoro. Namun, akhirnya publik hingga kini lebih mengenal Lapangan ini sebagai Lapangan Gasibu.

Posisi Lapangan Gasibu lebih tinggi daripada lantai dasar Gedung Sate. Ketika kita berada di tangga Lapangan Gasibu sisi selatan, maka kita dapat dengan jelas melihat sosok Gedung Sate, yang usianya telah lebih dari satu abad, dan kini menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Warga melaksanakan salat di Gasibu/Djoko Subinarto

Pagi itu, untuk pertama kalinya Lapangan Gasibu kembali digunakan untuk menggelar salat Idufitri. Selama berpuluh-puluh tahun, Lapangan ini sudah rutin dipakai untuk menggelar salat Idulfitri dan juga salat Iduladha. Namun, gara-gara pandemi COVID-19, selama dua tahun belakangan, salat Idulfitri maupun salat Iduladha sempat tak digelar di Lapangan ini.

Kini, lantunan takbir terdengar kembali di seantero Gasibu. Tentu saja, tak hanya di Gasibu lantunan takbir berkumandang pagi itu. Sepanjang perjalanan menuju Gasibu, berkali-kali kudengar pula kumandang takbir. Dari masjid, dari halaman kantor dan bahkan dari halaman SPBU, yang dijadikan arena salat Idulfitri. 

Setelah sempat berkeliling melongok sejumlah sudut Gasibu, aku kemudian berdiri di ujung sisi timur-utara Lapangan itu, yang diapit Jalan Surapati dan Jalan Sentot Alibasyah. Terlihat seorang pria berbaju biru gelap dan berpeci mendorong perlahan kursi roda yang diduduki seorang ibu sepuh, menuju arah selatan. Beberapa perempuan berkerudung menyusul di belakangnya.

Petugas keamanan/Djoko Subinarto

Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang petugas keamanan berseragam coklat berjaga di bawah naungan pohon rimbun. Ia berdiri menghadap ke barat. Tak lama, pembawa acara mengumumkan bahwa salat Idulfitri akan segera dilaksanakan. Namun, sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang juga melaksanakan salat di Gasibu, berkenan lebih dahulu memberi sambutan.

Dalam sambutannya, Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, mengatakan bahwa dirinya yakin hati setiap umat yang datang ke Lapangan Gasibu untuk melaksanakan salat Idulfitri pagi itu sedang berbahagia dan bergembira. 

Kang Emil juga mengatakan bahwa melihat fenomena terakhir kasus COVID-19 di Jawa Barat yang semakin menurun, ia optimistik sebentar lagi akan merdeka dari virus corona. “Kita tinggal menunggu waktu saja untuk kemerdekaan dari COVID-19,” katanya.

Kelar sambutan dari Kang Emil, salat Idulfitri pun segera ditunaikan. Para jamaah yang memadati Gasibu serentak berdiri. Juru kamera dan juru foto dari sejumlah media yang bertugas melakukan liputan sibuk mengambil gambar dari beberapa sudut bidik, hingga salat selesai dilaksanakan oleh jamaah. Usai salat, menyusul khutbah Idulfitri yang kemudian ditutup dengan doa. 

Dan begitu doa selesai dipanjatkan, jamaah pun berkemas dan beranjak meninggalkan Lapangan Gasibu. Namun, tak sedikit dari jamaah yang tidak langsung pulang. Mereka memilih berkerumunan di depan Gedung Sate, sekadar untuk berfoto dengan latar belakang Gedung Sate.

Warga berkumpul depan Gedung Sate/Djoko Subinarto

Ada yang berpose sendirian. Ada yang berombongan. Juga ada yang berpose berpasangan.

“Wah, udah rame. Mestinya dari tadi pas masih agak sepi,” celetuk seorang pemuda kepada salah seorang kawannya ketika ia tampak agak kesulitan memilih tempat yang ideal untuk berfoto bareng kawannya karena banyak orang yang lalu-lalang, baik di hadapannya maupun di belakangnya.

“Geser, rapat-rapat,” kata seorang pria bersarung di depanku, sambil mengarahkan pose rombongan keluarga besarnya yang hendak ia potret di depan Gedung Sate. 

“Habis foto, nanti video,” teriak salah seorang dalam rombongan keluarga besar itu.

Aku lantas berjalan sedikit ke sebelah timur di mana aku melihat seorang anak tengah merengek-rengek minta dibelikan parasut mainan. Si ibu kemudian terlihat sibuk adu tawar dengan sang penjual parasut mainan.

Penjual mainan/Djoko Subinarto

Tak jauh dari penjual parasut mainan, ada juga penjual gelembung sabun dan penjual layangan. Penjual gelembung sabun memegang alat kecil mirip pistol yang diisi cairan sabun. Saat ditarik pelatuknya, terciptalah gelembung-gelembung sabun kecil yang berterbangan ke sana-ke mari. 

Dari arah Lapangan Gasibu, rombongan warga lainnya yang baru saja beres melaksanakan salat Idulfitri kembali datang menuju depan Gedung Sate, membuat sejumlah kerumunan baru. Rona keceriaan terpancar di wajah mereka. Bagi mereka, dua tahun tak bisa melaksanakan salat Idulfitri di Gasibu tampaknya terbayar pagi itu.

Aku yakin rona keceriaan terpancar pula di wajah-wajah warga di tempat-tempat lainnya yang kembali dapat melaksanakan salat Idulfitri secara massal di Senin pagi itu, yang bertepatan pula dengan Hari Pendidikan Nasional.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Gelora Semangat Konservasi Karang Pemuda Penida

    Arah SinggahTravelog

    Wahyu dalam Pengolahan Sampah Lembongan

    Arah SinggahTravelog

    Lembongan dan Seniman yang Menjadi Relawan

    Arah SinggahTravelog

    Demi Hidup Terumbu Karang

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Menyusuri Aneka Kuliner Lezat di Sepanjang Jalur Mudik