Interval

Meneropong Tren Pariwisata 2023

Semarak kegiatan pariwisata sudah mulai kembali bergelora di Indonesia. Setelah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) mulai dilonggarkan, tempat-tempat wisata yang sempat tutup sekian lama, kembali menerima pengunjung dan semakin ramai di kala hari libur. Di 2022, pariwisata Indonesia mulai bergerak cepat dari tahun sebelumnya, BPS mencatat kenaikan yang fantastis pada periode Januari-April 2022 sebesar 1.730.043 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, naik sebesar 2028,65 persen dibanding tahun lalu dalam periode yang sama. Demikian juga dengan Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPK), baik berbintang maupun non bintang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 47,38 persen dan 23,69 (year on year).

Gunung Api Purba Nglanggeran
Pemandangan dari salah satu kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (TEMPO/Suryo Wibowo)

Dalam keterangan pers yang dilansir dari Antara dalam The Weekly Brief with Sandi Uno, Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2023 sebesar 3,5 juta-7,4 juta kunjungan, dua kali lipat dibanding target pada 2022. Meskipun resesi di depan matanya, dirinya akan menyiapkan rantai pasok dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dan memperkuat UMKM. 

Banyak laporan yang menunjukkan bahwa inflasi yang tinggi di beberapa negara akan menyeret negara-negara lainnya jatuh dalam jurang resesi, termasuk Indonesia. Sektor pariwisata menjadi salah satu yang terancam, namun Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif masih meyakini Indonesia tidak akan masuk ke jurang resesi. Caranya adalah dengan menargetkan membuka lapangan pekerjaan hingga 4,4 juta di 2024, termasuk di dalamnya adalah UMKM dan ekonomi kreatif.

“Konon pada 2023 ekonomi gelap, namun kita sudah beberapa kali melewati krisis, kita harus kembali kepada ekonomi dalam negeri, ekonomi kita dan yang harus didorong adalah ekonomi kreatif yang sudah terbukti pertumbuhannya meski pada masa pandemi, lebih tinggi dari ekonomi nasional,” ungkap Sandi, yang dilansir dari CNBC. Dukungan langsung dari pemerintah ini penting, sebab optimistis menyongsong tahun penuh ketakutan ini membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak.

Lalu, apa saja yang akan menjadi tren pariwisata pada tahun 2023?

Dilansir dari Booking.com, berdasarkan hasil survei mereka yang dilakukan di 32 negara bersama 24.179 orang, yang dilakukan secara daring untuk melihat apa saja creative reimagination of travel 2023. Ada beberapa hal yang bakal terjadi pada tren pariwisata 2023 seperti: preppers in paradise (liburan kembali ke keheningan), virtual voyagers (penjelajah wisata di metaverse), delight in discomfort zone (bepergian ke tempat yang benar-benar asing), glamorizing good the old days (perjalanan nostalgia), peace and pleasure pilgrimages (para penjelajah kedamaian), from daily grind to great company escape (berlibur sambil bekerja), saving to splurge (investasi untuk liburan). Dari daftar di atas, ada kecenderungan para wisatawan untuk memilih tempat yang anti mainstream yang mengusung konsep serenity, sustainability, spirituality.

ekowisata mangrove Bedul
Tempat yang sepi dan jauh dari gemerlap dunia turistik adalah kegemaran wisatawan zaman sekarang (TEMPO/Ika Ningtyas)

Senada dengan survei di atas, Hanif Andy, selaku co-founder Desa Wisata Institute, berpendapat bahwa pilihan destinasi pada 2023 akan mengerucut menjadi ekowisata; yang mengusung konsep keberlanjutan dan keseimbangan ekologi, juga destinasi dengan konsep integrasi alam, budaya, dan buatan seperti di desa-desa wisata. Adapun gaya berwisata di 2023 semakin menunjukkan ketertarikan orang-orang akan isu lingkungan.

“Berusaha untuk menjadi wisatawan yang bertanggung jawab, dengan membawa perlengkapan/alat yang ramah lingkungan dan menggunakan akomodasi yang mengusung konsep green architecture,” lanjutnya. 

Ditambah lagi dengan maraknya penggunaan dompet digital, yang akan meminimalisir interaksi dengan benda fisik atau less touch, juga banyak kelompok yang akan menghindari lokasi-lokasi yang bersifat mass tourism dan akan memilih menjadi kelompok-kelompok kecil guna mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Meskipun lokasi-lokasi mass tourism bakal tetap banyak menarik minat pengunjung, tetapi kawasan-kawasan kecil yang lebih sepi akan mempunyai pangsa pasarnya tersendiri.

Digital nomad, sebagai bagian dari kelompok kecil para pejalan mandiri yang mulai merebak saat pandemi berlangsung, juga mulai dilirik oleh pemerintah untuk menarik magnet turis asing mengunjungi Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah berencana menerbitkan visa khusus para digital nomad untuk memudahkan mereka bekerja dari Indonesia demi merealisasi target kunjungan wisatawan mancanegara.

  • Terumbu karang
  • Desa Ambulu
  • Ekowisata Bekantan

Tidak bisa dipungkiri bahwa dampak pemanasan global yang dirasakan semua orang, juga berdampak pada pola pikir para pejalan yang mulai semakin beralih kepada green travel; mulai dari hal-hal kecil seperti membawa peralatan makan dan minum sendiri, menghabiskan makanan, dan tebus emisi setelah berlibur. Tren pariwisata yang berkembang pada 2022 seperti wisata minat khusus maupun kunjungan ke desa-desa wisata, kemungkinan besar akan terus berlanjut dalam skala yang lebih besar pada tahun 2023.Hal ini kemudian diolah oleh banyak desa wisata untuk menawarkan paket wisata dengan kegiatan yang eco-friendly, yang menyajikan kegiatan yang menjurus kepada pemeliharaan lingkungan seperti penanaman mangrove, penanaman terumbu karang, pengolahan limbah rumah tangga, dan pengelolaan lingkungan tanpa sampah plastik.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Interval

Menelusuri Sejarah Bogor bersama Bogor Historical Walk

Interval

Mura Aristina dan Kisahnya di Candi Borobudur

Interval

Rifqy Faiza Rahman: Meniti Hidup dalam Ekowisata

Interval

Wisata Regeneratif, untuk Apa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bicara Tren Pariwisata 2022