Curug Cinulang, yang berada di kawasan Cicalengka, sekitar 42 kilometer dari Bandung ke arah timur, boleh jadi tidak pernah benar-benar lenyap dari ingatanku lantaran aku setidaknya pernah mengunjunginya. Walau begitu, curug itu juga tidak pernah benar-benar sama dengan ingatan itu sendiri. Pasalnya, ada jarak tiga dekade yang tiba-tiba terasa seperti dua dunia yang berbeda ketika kakiku kembali menapaki jalur menuju air terjun itu pada 2026.
Dulu, pada 1994, perjalananku ke sana terasa seperti perjalanan yang masuk ke ruang yang belum selesai ditulis. Jalan masih dominan tanah berbatu-batu, sawah, ladang, maupun belukar yang terhampar nan luas, serta sunyi yang tidak perlu diuraikan panjang lebar oleh kata-kata.
Kereta KRD lokal berkelir biru berpolet merah yang melayani trayek Padalarang–Cicalengka kala itu membawaku untuk bisa menyambangi Cinulang. Waktu itu, pagi-pagi sekali, aku naik KRD dari Stasiun Cimahi dan turun di Stasiun Cicalengka. Dari sana, bersama sejumlah penumpang lainnya, aku lantas naik angkutan desa ke Cinulang.


Sekadar Tapak Tilas
Berselang 32 tahun kemudian, awal Juli 2026 lalu, ditemani salah seorang sahabatku, aku kembali ke Cinulang. Ini mungkin sekadar nostalgia atau sekadar tapak tilas atas perjalanan yang sempat aku lakukan beberapa puluh tahun silam sebelumnya.
Yang jelas, perjalananku kali ini tidak menggunakan kereta dan angkutan desa, melainkan dengan hanya mengayuh sepeda. Dan aku pikir ini bukan sekadar perubahan moda transportasi yang digunakan, melainkan pula perubahan bagaimana aku dan sahabatku mengakses ruang.
Bisa dibilang mengayuh sepeda membuat jarak, terlepas dekat maupun jauh, terasa lebih jujur. Tidak ada kaca jendela yang membatasi pandangan, tidak ada kecepatan yang membuat lanskap berubah menjadi garis-garis buram. Maka, setiap tanjakan menuju Cinulang memaksa tubuh bernegosiasi dengan napas, sementara setiap turunan menghadiahkan embusan angin yang membawa aroma lanskap sawah atau ladang yang masih bertahan dan belum terjamah oleh pembangunan.
Aku pikir perjalanan dengan sepeda bukan hanya perkara berpindah dari satu titik ke titik lain. Bersepeda bisa ikut mengubah cara seseorang membaca sebuah tempat.
Kilometer demi kilometer aku lewati. Rumah-rumah baru kini telah berdiri di tempat yang dahulu berupa kebun. Warung-warung kecil juga bermunculan di tepi jalan. Lalu lintas pun jauh lebih ramai dibanding yang aku rasakan tiga puluh dua tahun lalu.
Ruang memang bukan sekadar hamparan yang diam, melainkan sesuatu yang terus diproduksi oleh aktivitas manusia. Kita tidak hanya melewati ruang, tetapi juga mengalami, memberi makna, dan membentuk hubungan dengannya.


Anjungan di Depan Air Terjun
Semakin dekat ke Cinulang, semakin banyak kenangan dan ingatan yang kembali bermunculan tanpa diminta. Ada tikungan yang terasa akrab. Ada siluet bukit yang masih menyisakan bentuk lamanya. Maka, sesekali aku berhenti guna memastikan bahwa ingatanku masih mampu mengenali sebagian wajah masa lalu itu.
Namun demikian, ingatan rupanya bukan kamera yang menyimpan segala sesuatu secara utuh. Ia lebih menyerupai pelukis yang diam-diam memilih kelir-kelir tertentu, menghapus sebagian detail, lalu mempertegas bagian lain yang dianggap penting. Karena itu, apa yang kuingat tentang Cinulang tiga puluh dua tahun lalu ternyata tidak seutuhnya sama persis dengan kenyataan yang saat ini aku lihat dan rasakan di saat sekarang.
Walau begitu, ketika akhirnya aku sampai ke depan pintu masuk Cinulang, sayup gemuruh air terjun dan suara aliran sungai yang perlahan menyelinap ke telinga, toh sama seperti apa yang aku sempat aku alami puluhan tahun lampau. Gemuruh yang kudengar itu laksana sapaan dari seorang sahabat lawas yang sudah puluhan tahun tidak bersua, tetapi masih mengenali namaku.
Setelah mengurus tiket masuk seharga Rp20.000, aku turuni satu demi satu anak tangga menuju kawasan air terjun. Semakin mendekati air terjun, semakin keras gemuruh air yang mampir ke telingaku.
Sembari berjalan alon-alon, aku amati lingkungan sekitar. Di beberapa titik, kini terlihat jongko-jongko dan saung penjual makanan. Ada pula kolam untuk anak-anak. Ada tempat penitipan barang. Tak ketinggalan sebuah bangunan mushola serta panggung tempat dipentaskannya aneka seni hiburan. Dulu semua bangunan itu tak aku jumpai.
Di titik paling bawah, terlihat pula ada anjungan tempat pengunjung agar tidak perlu berpayah-payah turun mendekat ke air terjun. Dengan anjungan ini, pengalaman melihat air terjun menjadi lebih cepat, lebih aman, dan lebih terkurasi.
Aku sendiri tidak berdiri di anjungan. Aku memilih berbasah-basah, seperti dulu, di aliran sungai yang airnya masih terlihat jernih dan bersih. Kupandangi batu-batu besar di sekitarku. Ternyata warnanya masih sama seperti yang aku lihat puluhan tahun lalu. Pun dingin airnya juga masih sama menusuk-nusuk kulit.


Cinta dan Kesunyian
Curug Cinulang pernah dijadikan judul sebuah lagu pop berbahasa Sunda. Lirik lagunya bercerita ihwal cinta dan kesunyian. Toh realitanya, hari ini, cerita Cinulang lebih akrab terkait dengan ruang ekonomi yang menghidupi warga lokal, maupun ruang healing dan ruang foto bagi para pelancong.
Walau begitu, air terjun Cinulang seolah tidak pernah memedulikan perubahan makna yang disematkan manusia terhadapnya. Airnya tetap jatuh dengan irama yang sama, sebagaimana puluhan tahun lalu kala aku mengunjunginya untuk pertama kalinya. Di sanalah terasa bahwa waktu memang mengubah banyak hal, tetapi selalu menyisakan sesuatu yang tetap setia pada dirinya sendiri.
Maka, mungkin yang paling jujur dari perjalananku ke Curug Cinulang kali ini sesungguhnya bukanlah perbandingan antara tahun 1994 dan 2026, melainkan kesadaran bahwa manusia datang dengan kecenderungan membawa cara pandang baru ke tempat yang sama.
Dan di antara gemuruh air terjun Cinulang dan dunia di sekelilingnya yang terus berubah, aku pun hanya bisa berdiri sebentar persis di depannya—melihat, mendengar, mengingat—lantas pelan-pelan melanjutkan perjalananku kembali menuju Kota Bandung, bersama sahabatku.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.


