TRAVELOG

Larung Sukerto: Antara Tradisi dan Keyakinan

Dalam perlintasan sejarah, sungai kerap dibayangkan sebagai jalur utama terjadinya pertukaran budaya. Dari alirannya, terjadi pertemuan antarkomunitas, berbagai komoditas, serta bahasa dan kebudayaan. Sehingga dari sungai, jalur migrasi dan distribusi menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan lahirnya hibriditas.

Bahkan figur seperti Sunan Kalijaga kerap bergerak mengikuti jalur-jalur sungai. Melalui alirannya, ia menjangkau wilayah dari pusat kekuasaan hingga ke wilayah pinggiran. Oleh karenanya sungai telah menjadi medium perwalian, tempat ajaran tidak melulu harus dipaksakan, tetapi dialirkan.

Namun, sungai dapat menjadi titik masuk bagi kekuatan yang berupaya merombak tatanan tersebut. Hadirnya kolonialisme di Jawa telah menempatkan sungai sebagai jalur penetrasi, mengangkut komoditas, serta memperluas kontrol dari pusat ke wilayah-wilayah lokal. Aliran yang dahulu menghubungkan manusia, kemudian dikerahkan untuk memperkuat kepentingan ekonomi kolonial.

Hadirnya modernisasi dan industrialisasi yang tengah berlangsung hingga dewasa ini, memperkuat keterasingan kita dengan sungai. Infrastruktur kota mulai dikerahkan ke darat, jalan dibuat beraspal, kendaraan bermotor lalu lalang tiada henti.

Di titik ini, dunia tengah membangun mitosnya sendiri: bergerak cepat atau tertinggal. Efisiensi, kecepatan dan prediktabilitas menjadi ukuran untuk menakar seberapa jauh kita dapat menyesuaikan diri dengan mitos baru tersebut. Sehingga sungai yang alirannya tak dapat dipastikan, sekadar latar yang segera dilintasi jembatan atau dipandang dari kejauhan.

Dalam keterasingan ini, sungai menghadapi tantangan baru: bagaimana memaknai ulang dirinya di tengah dunia yang tengah berubah? Tatkala relasi kita dengan sungai tak lagi bersifat langsung, maka yang tersisa adalah keterasingan yang semakin dalam. Di titik inilah, kita perlu belajar dari Larung Sukerto. Sebuah laku yang mengupayakan kembali kedekatan dengan sungai, bukan semata sebagai seremoni, melainkan cara untuk merundingkan ulang hubungan kita dengan alam.

Arak-arakan Larung Sukerto dari Kampung Sruni menuju Sungai Semagung (Ugi Gayali)
Arak-arakan Larung Sukerto dari Kampung Sruni menuju Sungai Semagung/Ugi Gayali

Melarung yang Baik, Menumbuhkan yang Lain

Sebagai ritus pelarungan yang hidup dalam tradisi pedalaman Jawa, Larung Sukerto merupakan laku simbolik yang memuat negosiasi antara manusia dengan alam. Tradisi ini dirawat turun-temurun oleh masyarakat Sruni, Jaraksari, Wonosobo, bertepatan dengan datangnya hari pertama dalam kalender Jawa, yakni 1 Suro. 

Di dalamnya memuat imajinasi sesuker—segala bentuk ala, reregetan, maupun ketidakseimbangan hidup—dihanyutkan melalui aliran sungai, sebagai upaya pemulihan antara manusia dengan tatanan kosmis yang lebih luas.

Ritus ini hampir dapat dijumpai di banyak wilayah, terutama di pedalaman Jawa yang memiliki ikatan spiritual dengan sungai. Namun, sungai yang sekilas dilihat sebagai bentang alam, justru merupakan urat nadi yang menghidupi warga, menghubungkan antarmanusia, bahkan menjadi orientasi bagi tatanan kosmos. Sehingga dari sungai, manusia belajar bukan untuk menaklukkannya, melainkan bernegosiasi dengan arus.

Namun menariknya, melarung sesuker sebagai tradisi yang masih dirawat oleh masyarakat Sruni hingga kini, bukan sekadar membuang kotoran ke sungai lalu selesai. Ada lapisan makna yang dapat ditelusuri. Bahkan dari hal paling sederhana, yakni pemilihan bahan-bahan sesajinya. Bahan-bahannya sendiri bukan sampah atau sisa yang tak berguna, melainkan palawija dan bunga-bungaan yang justru lekat dengan yang hidup, yang baik, bahkan yang memberi harapan.

Simbol-simbol itu dipilih lantaran membuang sesuker cukup dipahami sebagai laku di dalam diri manusia—sebuah proses batin yang melampaui tindakan fisik. Namun, di sinilah letak lapisannya: bahwa yang dilepas adalah hal-hal baik. Seolah-olah, Larung Sukerto tidak sedang menyingkirkan keburukan, tetapi menguji keikhlasan untuk merelakan apa yang bernilai. 

Pertunjukan seni tarian tradisional saat prosesi Larung Sukerto (Ugi Gayali)
Pertunjukan seni tarian tradisional saat prosesi Larung Sukerto/Ugi Gayali

Jelasnya, sesuker yang dilarung bukan sekadar entitas material atau benda, melainkan kehendak untuk memiliki. Dalam laku keseharian, manusia kerap melihat hasil bumi semata komoditas, bahkan menempatkan alam sekedar penyedia kebutuhan manusia. Di titik inilah larungan mengajak kita untuk melepaskan sesuatu yang dianggap berharga. Sesuatu yang dirasa eman sehingga berat untuk dilepaskan.

Karena itu, membuang sesuker cukup dipahami sebagai laku di dalam diri manusia—semacam proses batin yang melampaui tindakan fisik. Di sini sungai adalah medium “ngobrol”. Ngobrol dengan hal-hal yang belum selesai di dalam diri. Sesuker yang dilarung sekedar bahasa simbolik. Cara untuk mengendapkan hasrat, merelakan yang bernilai, sekaligus berharap ada yang harus dibawa pergi oleh arus.

Dalam logika ini, larungan menjelma semacam doa yang bergerak, bahwa dengan merelakan yang baik, kehidupan akan menumbuhkan kebaikan yang lain. Sebuah keyakinan yang dirawat melalui ungkapan: Dibuang sing apik ben tukule apik.

Akan tetapi, simbolisasi tersebut barangkali bukan sekadar ungkapan yang muncul begitu saja. Ia lahir dari negosiasi panjang yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Sebuah proses yang mempertemukan laku batin, tekanan komunal, serta negosiasi antar keyakinan.

Menghanyutkan sesuker ke aliran Sungai Semagung (Ugi Gayali)
Menghanyutkan sesuker ke aliran Sungai Semagung/Ugi Gayali

Dari Ritus Keluarga ke Praktik Komunal

Untuk memahami bagaimana negosiasi tersebut berlangsung, perlu kiranya menelusuri jejak awal Larung Sukerto di Kampung Sruni. Bagaimana sebuah ritus yang semula dirawat secara terbatas oleh keluarga penghayat, perlahan melibatkan beragam keyakinan dalam satu atap yang sama.

Sedari mulanya, Larung Sukerto bukanlah peristiwa yang riuh, apalagi meriah sebagaimana yang kita lihat hari ini. Ia lahir dari inisiatif keluarga Mbah Bayan yang berakar pada laku kejawen. Lakunya sederhana, sunyi, dan nyaris tak mengundang perhatian. Guna menghindari gesekan dengan keyakinan lain, prosesi ini dijalankan secara diam-diam, hanya oleh tiga orang.

Tak ada panggung, apalagi stan-stan makanan yang berjejal di pinggir jalan. Sehingga pada masa itu, Larung Sukerto lebih menyerupai bisikan daripada perayaan. Ritus yang bergerak tanpa penonton, bahkan tanpa keinginan untuk diketahui. Namun, kesunyian tersebut tak benar-benar dibiarkan sepi. Perlahan, Warga Sruni yang penasaran, mulai mendekat dan ikut terlibat di dalamnya, meski tak mengamini langsung prosesi ritual di dalamnya.

Hingga memasuki 2003, seorang warga bernama Om Hengky merasa ganjil dengan kesenyapan itu. Mengapa prosesi doa menjelang larung yang terdengar hanya suara wayang dari setelan radio. Padahal, rentang waktu menjelang itu begitu panjang dan menggantung.

Daripada dibuat menunggu, akhirnya Om Hengky terlibat mengintervensi keadaan. Rentang waktu yang menggantung segera diisi dengan pentas warga. Selain menghibur, pentas tersebut dapat menjadi medan kumpul, sehingga siapa pun dapat menyaksikan sanak saudaranya naik ke panggung. Dari situlah kesenian perlahan membawa napas baru bagi tradisi Larung Sukerto. Memperdalam ritus yang semula sunyi, menjadi ritus hidup bersama.

Keluarga Mbah Bayang pelaku utama ritus Larung Sukerto (Ugi Gayali)
Keluarga Mbah Bayang pelaku utama ritus Larung Sukerto/Ugi Gayali

Tatkala Larung Sukerto menjadi medan kumpul dan menyedot perhatian warga, muncul sebuah pertanyaan yang barangkali tak bisa dihindari. Pertanyaan ini muncul dari salah seorang warga yang dilayangkan langsung kepada Mbah Bayan: apakah orang saleh sepertinya diperbolehkan turut serta dalam Larung Sukerto? 

Sebagaimana mayoritas Warga Sruni yang memeluk keyakinan monoteistik, maka pertanyaan ini barangkali bukan sekadar kehadiran, melainkan menyentuh batas-batas keyakinan yang selama ini dijaga.

Mbah Bayan sendiri menjawab pertanyaan tersebut secara terbuka: bahwa Larung Sukerto adalah laku yang boleh dijalani siapa saja, tanpa memandang latar kepercayaan. Dari jawaban itulah sebuah kemungkinan baru mulai terbuka.

Larung Sukerto perlahan dibayangkan ulang sebagai ruang lintas iman. Para tokoh dari beragam agama dihadirkan, doa-doa lintas agama dilantunkan berdampingan dalam satu rentang waktu menjelang larung. Menciptakan momen yang bukan lagi tunggal, melainkan berlapis.

Keterbukaan ini muncul tidak serta-merta tanpa batas. Masing-masing kepercayaan tetap memiliki garis kendalinya sendiri. Menentukan sejauh mana mereka terlibat namun secara bersamaan tetap merawat kedekatan. Di situlah larungan yang dirawat secara turun temurun oleh warga Sruni, bukan sekadar ritus pembuangan. Lebih dari pada itu, ia menjadi medan negosiasi antara keyakinan, tradisi, dan kebersamaan yang diupayakan terus-menerus.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mohamad Ichsanudin Adnan

M. Ichsanuddin Adnan merupakan sejarawan partikelir dari Yogyakarta yang bekerja di persilangan riset sejarah, kuratorial dan dramaturgi. Pada tahun 2026, ia telah menulis buku “Anda Sopan Bapak Segan” (SelakLali, 2026).

M. Ichsanuddin Adnan merupakan sejarawan partikelir dari Yogyakarta yang bekerja di persilangan riset sejarah, kuratorial dan dramaturgi. Pada tahun 2026, ia telah menulis buku “Anda Sopan Bapak Segan” (SelakLali, 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jalan Spiritual dalam Kekecewaan A.D. Pirous