TRAVELOG

Menemukan Arti Pulang di Sungai Krasak Magelang

Bagi seseorang yang menghabiskan waktu setahun penuh memandang lanskap Oman yang gersang, ingatan tentang air mengalir dan hamparan hijau adalah sebuah kemewahan yang subtil. Sejauh mata memandang di perantauan selama setahun ke belakang, garis cakrawala kami didominasi oleh bukit-bukit batu yang megah namun gersang, serta hamparan gurun yang sewarna dengan debu. Di sana, air adalah berkah yang disalurkan lewat truk tangki atau pipa-pipa modern, bukan sesuatu yang melompat bebas dari tebing-tebing alam.

Maka, ketika kaki ini kembali berpijak di tanah air, tubuh kami seolah menuntut sebuah ritual penebusan kerinduan akan tanah yang basah dan subur.

Dari Oman ke Kaki Merapi

Pilihan kami untuk menetap jatuh pada sebuah sudut yang tenang di Magelang, Jawa Tengah. Keputusan ini lahir dari sebuah peta takdir yang tak terduga terkait perjalanan hidup kami dan pendidikan anak-anak—sebuah rute panjang yang membentang dari Bantul, Sleman, Jakarta, Oman, hingga kini bermuara di Magelang. Anak pertama kami, Ayu, akan memulai babak baru sekolahnya di Sekolah Perintis Peradaban, sebuah sekolah alternatif yang didirikan langsung oleh dosen Montessori dari istri saya.

Langkah awal kepindahan ini terasa cepat. Kami baru saja mengemasi seluruh sisa hidup dari rumah orang tua di Bekasi yang padat, memindahkannya ke dalam kardus-kardus, lalu membongkarnya kembali di bawah bayang-bayang Gunung Merapi yang anggun. Di sini, kami disambut oleh lingkungan desa yang asri, dikelilingi hamparan sawah dan ladang pertanian yang hijau.

Belum sempat debu pindahan benar-benar luruh dari pelataran rumah baru kami, sebuah kabar gembira datang dari kakak kami, Mas Oco. Beliau memboyong keluarganya dari Jakarta untuk berlibur ke Jogja. Karena jarak yang dekat, mereka memutuskan untuk mampir ke rumah kami. Pertemuan keluarga ini seketika menghidupkan suasana dan melahirkan petualangan kecil bagi anak-anak kami yang sudah lama terpisah jarak.

Menyusuri jalan setapak desa di sore hari, perjalanan menuju Sungai Krasak (Yoso Herwansyah)
Menyusuri jalan setapak desa di sore hari, perjalanan menuju Sungai Krasak/Yoso Herwansyah

Petualangan di Irigasi Sawah dan Sungai Krasak

Petualangan itu dimulai justru dari halaman samping rumah. Mengingat beberapa hari sebelumnya saya sempat mengajak Ayu dan Hatta bermain balap perahu di selokan irigasi sawah samping rumah, Ayu langsung bertindak sebagai “kapten” petualangan. Dengan penuh semangat, ia mengajak saudara-saudara sepupunya yang baru datang untuk mengulang keseruan itu.

Di bawah langit yang cerah, anak-anak berlarian menuju selokan irigasi yang mengalirkan air sebening kaca, mengitari sawah hijau yang membentang luas. Kontras sekali dengan pemandangan gersang Semenanjung Arab yang sempat akrab di mata anak-anak saya, begitu pula dengan pemandangan ibu kota yang sehari-hari dilihat oleh sepupunya. Selokan kecil ini menjelma menjadi arena balap perahu paling meriah bagi para sepupu.

Keseruan bermain perahu di selokan rupanya memicu rasa penasaran yang lebih besar. Hanif, anak Mas Oco, mengajak ayahnya untuk menghampiri sungai di bawah jembatan yang mereka lewati saat perjalanan menuju rumah kami. Didorong rasa ingin tahu anak-anak, sore itu saya, Mas Oco, dan anak-anak memutuskan untuk mengeksplorasi sungai tersebut.

Udara Magelang terasa bersih dan sejuk saat kami berjalan kaki menuju sungai. Anak-anak berjalan beriringan, membuat barisan panjang layaknya ular-ularan di atas aspal kampung. Kami menyusuri jalur akses dari Banaran–Jlapan, tepat di sekitar Jembatan Krasak yang legendaris.

Tantangan pertama langsung mengadang: awalnya kami tidak menemukan jalan turun yang ramah anak. Ada sebuah tangga cor di dekat jembatan, tetapi posisinya terlalu curam dan sangat riskan bagi langkah kaki kecil mereka. Enggan menyerah, kami berjalan memutar dan mengeksplorasi tepian hingga akhirnya menemukan jalan setapak alternatif yang jauh lebih aman, meskipun kami harus sedikit menyibak rerumputan liar yang rimbun.

Sore itu, kami baru sempat mencicipi kesegaran Sungai Krasak di tepiannya saja. Aliran airnya yang jernih menyapu batuan vulkanis hitam, membasahi kaki-kaki kecil yang melonjak kegirangan. Karena hari sudah menjelang petang dan kami belum sampai ke area air terjun utamanya, kami memutuskan untuk menyudahi eksplorasi sore itu dengan sebuah rencana besar: besok pagi-pagi sekali, kami akan kembali lagi.

Turun ke sungai, bersiap memulai petualangan menuju air terjun (Yoso Herwansyah)
Turun ke sungai, bersiap memulai petualangan menuju air terjun/Yoso Herwansyah

Melawan Arus Sungai menuju Sabo Dam Krasak

Keesokan harinya, janji itu kami penuhi. Dengan “pasukan” anak-anak yang jauh lebih siap dan bersemangat, kami kembali menuju Sungai Krasak. Pagi yang cerah itu membawa langkah kaki kami lebih jauh menyusuri aliran air menuju “air terjun”.

Perjalanan kali ini menyajikan tantangan yang seru bagi anak-anak. Ada momen menarik ketika mereka harus melawan arus dangkal yang cukup deras di bagian sungai yang menyempit. Uniknya, mereka bergerak maju dengan posisi tengkurap layaknya sedang melakukan gerakan panjat tebing di atas air.

Awalnya, anak-anak mencoba duduk membelakangi arus, tetapi tubuh mereka berkali-kali terdorong ke belakang. Sampai akhirnya Ayu menemukan trik baru dengan merebahkan diri menghadap ke arah datangnya air. “Aku berhasil dengan cara ini!” seru Ayu kepada sepupu-sepupunya.

Melawan arus dangkal Sungai Krasak (kiri) dan sisi lain jembatan dekat Sabo Dam Krasak/Yoso Herwansyah & Andhika Rakhmanda

Seketika, semua anak mengikuti taktik sang kapten. Mereka berjuang merangkak melawan arus demi mencapai titik pangkal yang menjadi garis finis. Hatta, anak saya yang baru berusia 4 tahun dan menjadi yang paling kecil di antara mereka, tetap gigih berjuang tanpa menyerah untuk mencapai titik finis tersebut. Saya dan Mas Oco mendampingi dari dekat, mengawasi sekaligus menikmati momen kebersamaan yang magis ini.

Setelah perjuangan melawan arus, kami benar-benar tiba di depan air terjun. Sebenarnya, tempat itu adalah Sabo Dam Krasak atau cekdam dua tingkat. Struktur beton pengendali lahar dingin ini menjelma menjadi air terjun buatan yang megah, menjatuhkan tirai air putih bergemuruh ke kolam alami yang luas di bawahnya. Di sinilah petualangan mencapai puncaknya.

Tanpa ragu, anak-anak langsung menceburkan diri untuk berenang. Kedalaman air di sana cukup ideal bagi anak-anak untuk berenang layaknya di kolam renang. Namun, kami tetap harus waspada jika mereka mendekat ke sisi jatuhnya air. Di pangkal bawah air terjun, kedalamannya mencapai sekitar sedada orang dewasa, lalu perlahan semakin melandai seiring menjauh dari titik jatuhnya air. Kami merekam keseruan anak-anak bermain air sungai di YouTube.

Momen kebersamaan anak-anak menikmati segarnya air di kolam bawah tirai air terjun cekdam Sungai Krasak, Banaran-Jlapan/Yoso Herwansyah
Momen kebersamaan anak-anak menikmati segarnya air di kolam bawah tirai air terjun cekdam Sungai Krasak, Banaran-Jlapan/Yoso Herwansyah

Rahang Sapi dan Misi Membersihkan Sungai

Di sela-sela keseruan itu, ada sebuah misi sampingan yang tidak berjalan sesuai rencana semula. Sejak berangkat dari rumah, Hanif sudah bersemangat membawa jaring serok karena sangat ingin menangkap ikan sungai. Namun, jangankan menangkap ikan, mendekat pun makhluk air itu enggan karena ramainya rombongan kami yang heboh dan menggerombol di sepanjang aliran air.

Bukannya mendapat ikan, mata kami justru tertuju pada sebuah benda ganjil yang terselip di antara dangkalan batu hitam. Ketika diangkat dari air, kejutan besar datang: sepotong tulang rahang sapi yang masih sangat utuh, lengkap dengan deretan giginya! Temuan ini seketika mengubah suasana menjadi ekspedisi arkeologi dadakan.

“Ayah ada tulang dinosaurus!” seru Ayu. Celetukan itu langsung memicu imajinasi liar anak-anak lainnya. Mereka berkumpul, heboh membolak-balik rahang tersebut sambil saling menimpali tebakan dengan teori-teori ajaib khas dunia anak-anak.

Temuan rahang sapi yang mengubah petualangan menjadi ekspedisi arkeologi (Andhika Rakhmanda)
Temuan rahang sapi yang mengubah petualangan menjadi ekspedisi arkeologi/Andhika Rakhmanda

Karena sadar buruan kami sudah telanjur kabur, jaring serok itu akhirnya beralih fungsi menjadi wadah darurat. Sebelum melangkah pulang, kami memutuskan untuk memunguti sampah-sampah plastik yang tercecer di sekitar tepian sungai. Alih-alih membawa pulang ikan, kami pulang membawa sampah-sampah yang kami pungut, mengangkutnya dengan jaring serok tersebut sebagai kontribusi kecil kami agar keasrian Sungai Krasak tetap terjaga.

Dua hari petualangan di selokan irigasi dan Sungai Krasak ini menegaskan arti kepulangan bagi keluarga kecil kami. Setelah setahun menatap lanskap gurun yang sunyi di Oman, gemercik air jernih di perbatasan Magelang–Sleman ini adalah kidung selamat datang terbaik. Sebuah ruang bertumbuh yang organik dan basah bagi masa kecil mereka di tanah air.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Andhika Rakhmanda

Andhika Rakhmanda, teman bermain istri dan anak-anak. Di sela kesibukannya sebagai praktisi akuakultur, Andhika menekuni hobinya dengan membaca, berkebun, dan jalan-jalan.

Andhika Rakhmanda

Andhika Rakhmanda, teman bermain istri dan anak-anak. Di sela kesibukannya sebagai praktisi akuakultur, Andhika menekuni hobinya dengan membaca, berkebun, dan jalan-jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Situs Bowongan, Samberan, dan Brongsongan di Magelang